Harga Sebuah Perlindungan
Lampu kristal Ballroom Grand Arta memantul tajam di permukaan gelas sampanye, menciptakan silau yang membuat mataku lelah. Aku berdiri di samping Aris, merasakan kain gaun sutra yang sedikit terlalu longgar di bahu—sebuah pengingat konstan bahwa aku hanyalah pengganti yang tidak diharapkan. Di seberang ruangan, Paman Bram menyesap minumannya dengan senyum predator yang ditujukan tepat padaku.
"Kudengar sepupumu tiba-tiba jatuh sakit, Elara? Atau mungkin, dia hanya sadar bahwa pernikahan ini adalah kesalahan besar?" Suara Paman Bram memecah percakapan tamu. Nadanya sengaja dikeraskan, mengundang atensi orang-orang yang mulai berbisik. "Sangat disayangkan, Aris. Mendapatkan pengantin yang bukan pilihan utama bisa menjadi beban reputasi yang cukup berat."
Jantungku berdegup kencang, namun aku memaksakan senyum tipis. Ledger berisi bukti penggelapan dana yang diselipkan di balik korset gaun ini terasa berat, seolah ia bisa jatuh kapan saja dan menghancurkan penyamaranku. Aku hampir membuka mulut untuk membalas, namun sebuah tangan yang hangat dan kokoh tiba-tiba mendarat di pinggangku, menarikku rapat ke sampingnya. Sentuhannya bukan sekadar gestur sopan; itu adalah cengkeraman protektif yang tegas. Aris menoleh, menatap Paman Bram dengan tatapan sedingin es yang membuat tawa pria itu tertahan di tenggorokan.
"Pilihan utama atau bukan, Bram, dia adalah istriku sekarang," suara Aris rendah, menggetarkan udara di antara kami. "Dan di keluarga saya, kami tidak membiarkan orang luar mempertanyakan kualitas keputusan saya. Jika kau merasa perlu mengurusi urusan rumah tanggaku, mungkin kau bisa mulai dengan memperbaiki pembukuan kantormu sendiri yang mulai berbau busuk."
Bram memucat. Tanpa menunggu jawaban, Aris menarikku menjauh dari kerumunan, langkah kakinya tegas menuju ruang VIP di sisi ballroom. Pintu tertutup dengan dentuman final, mengunci suara riuh pesta di luar.
Aris melepaskan jasnya, membiarkan kemeja putihnya yang kaku menonjolkan bahu lebar yang tampak seperti tembok pertahanan sekaligus penjara. Ia berbalik, menatapku dengan mata yang membedah tiap inci pertahananku. "Sepupumu tidak akan datang, bukan?" suaranya dingin. "Dan kau, yang seharusnya hanya menjadi bayangan, tiba-tiba berdiri di altar mengenakan gaun yang bukan milikmu."
"Keluarga butuh pengantin, Aris," balasku, berusaha menjaga suaraku tetap datar meski jemariku gemetar di balik lipatan gaun. "Aku hanya memastikan kontrak ini tetap berjalan agar bisnis Anda tidak terganggu oleh skandal sepupuku yang melarikan diri. Bukankah itu yang Anda inginkan? Stabilitas?"
Aris melangkah mendekat, memojokkanku ke dinding beludru. Jemarinya menyentuh dagu, memaksa wajahku mendongak. "Stabilitas tidak datang dari penipuan. Kau membawa sesuatu di balik gaun itu, bukan? Sesuatu yang lebih berharga daripada janji setia keluarga yang korup itu."
Aku menegakkan punggung, memangkas jarak di antara kami. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. "Aku memiliki akses medis penuh dan jaminan keamanan untuk Bibi Ratna sebagai syarat utama. Jika Anda ingin ledger ini, Anda akan memastikan Bibi Ratna mendapatkan perawatan terbaik, jauh dari jangkauan Paman Bram."
Aris terdiam, matanya menyipit. Ia menyadari bahwa aku tidak sedang memohon, melainkan bernegosiasi. "Kau berani bertaruh dengan nyawamu sendiri, Elara?"
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain dia," jawabku tegas.
Aris menatapku lama, lalu perlahan ia mengangguk. "Kesepakatan diterima. Tapi ingat, kau milikku dalam permainan ini. Jangan mencoba berkhianat, atau kau akan menyesalinya."
Saat kami kembali ke lorong menuju ballroom, Aris merapikan letak gaun sutra yang kupakai—sebuah gerakan yang seharusnya tampak manis bagi siapa pun yang melihat, tetapi bagiku, itu terasa seperti cengkeraman predator. Ia menarikku sedikit lebih dekat, hingga aroma kayu cendana memenuhi indra penciumanku. Aris menatapku dengan dingin, namun tangannya yang melindungi pinggangku terasa seperti peringatan. Apa yang sebenarnya ia ketahui? Ledger itu ada di tanganku, namun musuh sudah mengepung pintu hotel. Bagaimana aku bisa keluar tanpa terlihat?