Gaun Pengantin yang Bukan Milikku
Lampu kristal di Ballroom Grand Arta bukan sekadar penerang; itu adalah sorot lampu interogasi yang membedah setiap inci harga diriku. Di balik pilar marmer, aku mencengkeram tas kulit usang—satu-satunya tempat persembunyian ledger yang berisi bukti penggelapan dana Paman Bram. Jika dokumen ini jatuh ke tangan yang salah, bukan hanya warisan mendiang ayahku yang musnah, tetapi nyawa Bibi Ratna yang kini terbaring di rumah sakit akan menjadi taruhan berikutnya.
"Cari dia! Jika pengantin itu tidak ditemukan dalam lima menit, reputasi keluarga kita hancur, dan kau akan menjadi orang pertama yang aku lempar ke jalanan!" Suara Paman Bram menggelegar, memotong denting gelas sampanye. Ia mencengkeram kerah pelayan di dekatnya, wajahnya merah padam karena murka.
Aku menahan napas, berusaha membaur dengan bayang-bayang. Namun, sebuah tangan kurus menyambar pergelangan tanganku, menarikku paksa ke ruang ganti. Bibi Ratna. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan keputusasaan yang tajam.
"Elara, dengarkan aku," bisiknya serak. "Mereka tidak akan membiarkan kita hidup jika kita keluar dari pintu itu dengan tangan kosong. Kau harus menggantikan posisinya."
"Aku?" suaraku tertahan di tenggorokan. "Aris bukan pria yang bisa ditipu dengan riasan tebal dan kerudung, Bibi."
"Dia tidak akan mencari kebenaran jika dia sibuk mengamankan posisinya," Bibi Ratna menyodorkan gaun sutra putih yang seharusnya dikenakan sepupuku—pewaris utama yang kini entah melarikan diri ke mana. "Gunakan ledger itu sebagai sandera. Jadilah pengantinnya, dan kau akan memiliki akses langsung ke jantung musuhmu. Ini satu-satunya cara agar kita tidak terbuang ke jalanan."
Aku menatap cermin. Pantulan diriku tampak asing; wanita yang selama ini hanya dikenal sebagai bayangan kini terbalut sutra yang harganya setara dengan biaya pengobatan Bibi selama setahun. Ini bukan gaun, ini adalah jerat yang harus kupakai demi bertahan hidup.
Langkahku menuju altar terasa seperti berjalan menuju eksekusi. Di depan, Aris berdiri membelakangi kerumunan, posturnya kaku dan dingin. Saat aku mendekat, ia berbalik. Matanya yang tajam menyapu penampilanku—bukan dengan kekaguman, melainkan kalkulasi yang mematikan.
"Ini tidak ada dalam rencana," bisik Aris, suaranya rendah namun cukup tajam untuk memotong musik orkestra. "Siapa kau sebenarnya?"
Aku berhenti tepat di sampingnya, memaksakan senyum tipis yang menyembunyikan gemetar di balik tulang rusukku. "Seseorang yang bisa menyelamatkan reputasi keluarga ini dari kehancuran total malam ini. Bukankah itu yang kau butuhkan, Tuan Aris? Stabilitas?"
Aris menyipitkan mata. Tangannya terulur, mencengkeram lenganku dengan tekanan yang mengirimkan peringatan nyata. "Keluarga itu menyembunyikan sesuatu. Ledger yang hilang, aset yang dijaminkan secara ilegal... kau pikir aku tidak tahu?"
Jantungku berdegup kencang, namun aku tidak punya ruang untuk mundur. Aku menyodorkan pena ke tangannya, membiarkan kontrak pernikahan itu menjadi satu-satunya jembatan di antara kami. Tanda tangan di atas kertas itu adalah awal dari kehancuranku, atau satu-satunya jalan menuju kebebasan?
Aris menatapku dengan dingin, namun tangannya yang kini melindungi pinggangku terasa seperti peringatan. Apa yang sebenarnya ia ketahui?