Chapter 5
Lampiran yang Disembunyikan
Pukul sudah lewat dua belas malam ketika pintu bridal suite diketuk lagi—bukan dengan sopan, melainkan seperti orang yang menagih utang. Alena belum sempat menyembunyikan salinan surat kuasa lama itu ketika suara Bramanta terdengar dari luar, datar dan tak sabar. “Buka. Staf hotel sudah menunggu. Notaris cadangan juga.”
Alena berdiri di dekat meja rias, veil putih terlipat di lengan kirinya. Di permukaan kaca, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipaksa menjadi pengganti pengantin, lalu dipaksa lagi menjadi bukti hidup bahwa keluarga Pradipta bisa menghapus orang sesuka hati. Di tangan kanannya, ponselnya bergetar sekali.
Raisa.
Pesan itu pendek, seolah dikirim dari tempat yang terlalu sempit untuk bernapas: Aku kabur setelah lihat transaksi. Jangan percaya siapa pun yang bilang itu cuma soal nikah. Kalau kau masih pegang suratnya, cari lampirannya. Ada nama yang tidak seharusnya ada di sana.
Alena membaca dua kali. Lalu sekali lagi, lebih lambat. Jantungnya tidak melonjak; justru dingin yang turun, seperti air es di belakang tengkuk. Jadi bukan sekadar pengantin yang lari. Raisa melihat sesuatu. Sesuatu yang membuat orang sebersih keluarga Santosa memilih meninggalkan gaun, meja, dan restu demi hidupnya sendiri.
Ketukan di pintu berubah jadi palu.
“Alena,” kata Nadim dari balik suara Bramanta, lebih pelan tapi lebih tajam. “Kalau lampiran itu ada, sekarang waktunya.”
Nada itu tidak lembut. Itu perintah yang dibungkus agar terdengar seperti perlindungan. Dan justru karena itu Alena tahu: Nadim juga sedang dikejar. Bukan hanya oleh keluarga ini, tapi oleh merger yang sedang menunggu tanda tangan seperti mulut menunggu darah.
Ia melangkah ke pintu dan membukanya hanya setengah.
Bramanta berdiri paling depan, jasnya masih rapi, senyumnya tipis dan salah arah. Di belakangnya ada dua staf hotel, satu petugas keamanan, dan seorang pria tua berkopiah hitam yang membawa map cokelat—notaris cadangan yang sudah dipanggil Nadim, atau mungkin dipanggil oleh keadaan yang sudah tidak bisa ditutup lagi. Lampu lorong memutihkan semuanya, membuat wajah-wajah itu tampak seperti bagian dari transaksi, bukan keluarga.
“Berikan salinannya,” kata Bramanta.
“Salinan apa?” tanya Alena.
“Jangan mulai main kata-kata.” Suaranya tetap rendah, tetapi matanya mengeras saat melihat veil di lengan Alena. “Kau tidak punya hak menahan dokumen keluarga.”
Alena menatapnya tanpa mundur. “Nama saya disebut di depan notaris. Hak saya sudah lebih banyak dari yang Anda inginkan.”
Ada jeda kecil. Cukup kecil untuk orang luar, cukup besar untuk menandai bahwa kalimat itu telah mengenai sasaran. Bramanta menatap Nadim, lalu notaris, seolah ingin memastikan siapa yang masih bisa ditakut-takuti.
Nadim tidak memberi dia jalan.
“Kalau ada upaya menahan lampiran dari pengantin yang sah malam ini, pembahasan merger berhenti,” katanya. Ia berdiri tepat di sisi Alena, dekat tapi tidak menyentuh, sebagai batas yang disadari semua orang di lorong itu. “Dan saya minta semua percakapan ini dicatat.”
Staf hotel saling pandang. Salah satu dari mereka menggeser clipboard lebih erat ke dada.
Notaris tua itu akhirnya membuka mapnya. Tangan keriputnya mengeluarkan satu lembar salinan surat kuasa lama—kertasnya sudah menguning, tetapi cap di sudut bawah masih jelas. Alena mengambilnya lebih dulu sebelum Bramanta sempat bergerak.
Jari-jarinya menyapu tepi kertas. Lalu ia melihatnya.
Cap itu.
Bukan sekadar pudar atau miring. Tinta dan tekanan capnya berbeda dari cap legal yang seharusnya terdaftar pada tahun itu. Ada lapisan kecil yang terlalu baru di atas yang lama, seolah seseorang pernah menekan, menyalin, lalu menutupinya agar jejak aslinya hilang. Dan di bagian bawah, nomor registrasi yang sama dengan arsip keluarga yang pernah ia lihat di ruang penyimpanan hotel—nomor yang mengikat rekening lama, notaris yang sama, dan pemindahan nama yang menghapus dirinya dari berkas utama.
Pemalsuan ini bukan kebetulan. Ini kebiasaan. Bertahun-tahun.
Alena merasakan sesuatu di dadanya mengeras jadi titik yang sangat tenang.
“Ini bukan cap dari arsip asli,” katanya, suaranya rata.
Bramanta mengulurkan tangan. “Kau tidak kompeten membaca dokumen keluarga.”
“Justru karena saya pernah dihapus dari sana, saya tahu bedanya.” Alena menahan kertas itu di bawah dagunya, jauh dari jangkauan Bramanta. “Dan ini…” Ia mengangkatnya sedikit. “Ada yang sengaja memalsukan jejak saya sejak lama.”
Satu staf hotel menahan napas. Nadim menoleh sekilas, bukan ke kertas, melainkan ke wajah Alena—seolah memastikan ia tetap berdiri, tidak retak, tidak menyusut karena kata-katanya sendiri. Itu bukan tatapan hangat. Itu tatapan pria yang baru sadar perempuan di sisinya sedang memegang senjata yang bisa menjatuhkan meja yang sedang ia duduki juga.
Ponsel Alena bergetar lagi.
Pesan lanjutan dari Raisa: Orang yang aku lihat bukan cuma menukar dokumen. Dia menunggu di ruang belakang. Kalau kau datang, bawa nama ini: Iqbal.
Alena menyimpan napasnya, lalu memasukkan salinan surat kuasa ke lipatan veil, menekannya seperti menyimpan peta ke bawah kulit kain. Ia mengangkat mata ke Bramanta, lalu ke Nadim, memilih kata yang paling sedikit memberi ruang bagi mereka untuk menutupnya lagi.
“Kirim staf Anda pergi,” katanya kepada Nadim. “Lalu saya mau lokasi Raisa, dan nama orang yang dia lihat.”
Bramanta tersenyum tipis, tapi kali ini senyumnya tidak membawa kuasa, hanya ancaman yang mulai kehabisan bentuk. Di lorong yang dingin itu, Alena tahu satu hal pasti: malam ini bukan lagi tentang pernikahan pengganti.
Malam ini tentang siapa yang pertama kali berani menyebut pemalsuan itu di depan kamera.
Chapter 5 — Kursi yang Tidak Bisa Mereka Cabut
Mereka baru tiga menit di ruang rapat hotel itu ketika Bramanta sudah mencoba mencabut Alena dari meja. “Statusnya sementara,” katanya datar, menekan telapak tangan ke map merger seolah itu palu sidang. “Satu malam bukan dasar untuk ikut bicara soal arsip keluarga.”
Alena tidak menoleh ke map itu. Ia menahan surat kuasa lama di bawah lipatan veil, dekat pinggangnya, agar jari-jarinya tetap tenang. Di sebelahnya, kursi berlapis krem yang semalam Nadim “berikan” padanya terasa seperti jebakan yang dibuat terlalu mahal untuk disingkirkan begitu saja. Ruang rapat itu sempit, terang, dan penuh orang yang pura-pura netral: notaris cadangan dengan kacamata tipis, dua staf hotel di pintu, Ibu Laras di ujung meja dengan wajah anggun yang tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan.
“Bramanta,” Ibu Laras memotong, suaranya halus, “kita tidak perlu memperpanjang drama. Alena cukup menandatangani pernyataan penerimaan pengganti mempelai, lalu kembali ke posisi yang pantas.”
Posisi yang pantas. Kalimat itu membuat dada Alena mengeras, tapi ia tidak memberi mereka kepuasan melihatnya retak. “Kalau saya hanya cadangan,” ujarnya, “kenapa nama saya disebut di depan notaris kemarin?”
Bramanta menatapnya lama, lalu tersenyum tipis seperti orang yang sudah menyiapkan bantahan sejak awal. “Karena situasi darurat.”
“Darurat tidak butuh cap berbeda di dua halaman dokumen yang sama,” balas Alena.
Senyum Bramanta berhenti.
Di ujung meja, notaris cadangan menunduk, seolah ingin tenggelam di balik map. Nadim, yang sejak tadi berdiri dekat kaca partisi, menutup ponselnya dengan gerakan pendek. Ia sudah memberi Alena kursi itu dengan biaya yang terasa nyata; sekarang ia terlihat seperti orang yang baru menyadari biaya berikutnya akan lebih mahal.
“Cukup,” kata Nadim.
Satu kata itu menebas ruangan lebih bersih daripada teriakan. Ibu Laras mengangkat alis. Bramanta menoleh ke dia, marah yang ditahan rapat. “Nadim, ini urusan keluarga kami.”
“Sekarang tidak,” jawab Nadim. “Ini urusan perusahaan juga. Dan selama merger belum dibahas ulang, tidak ada yang menghapus orang dari meja ini diam-diam.”
Ia melangkah ke sisi Alena, bukan di belakangnya, bukan sekadar di samping—tepat di garis yang membuat semua orang di ruangan itu harus menghitung ulang posisi mereka. Alena menangkap kilatan kecil di mata para staf: mereka mengerti ini bukan sekadar pertengkaran keluarga. Ini sudah jadi berita.
Telepon Ibu Laras bergetar lebih dulu. Ia melirik layar, wajahnya nyaris tak berubah, tapi Alena melihat jemarinya mengencang di tepi ponsel. Pesan dari seseorang di luar ruangan, mungkin tim legal, mungkin hotel, mungkin orang yang tahu lebih cepat daripada yang diizinkan keluarga.
“Lihat,” Bramanta mendesak, menyodorkan selembar kertas baru ke tengah meja. “Bahkan lampiran notaris belum lengkap. Kita tidak bisa membiarkan Alena memegang arsip tanpa verifikasi.”
Alena menatap Nadim, bukan Bramanta. “Lampiran yang kalian tahan itu apa?”
Nadim tidak menjawab langsung. Itu saja sudah jawaban yang cukup: ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Ada sesuatu yang ingin mereka hentikan sebelum mencapai tangan Alena.
Notaris cadangan akhirnya berdehem, terlalu pelan untuk disebut keberanian. “Saya… seharusnya menyerahkan salinan surat kuasa lama,” katanya. Ia merogoh map dan mengeluarkan lembaran yang sudah lama dilipat. “Ini dari arsip hotel. Ada tambahan cap.”
Alena mengambilnya tanpa meminta izin. Kertas itu tipis di bawah jarinya, tapi cap legal di pojok halaman terasa salah sejak sentuhan pertama—terlalu gelap, terlalu rata, hurufnya sedikit miring seperti dipaksa mengikuti bekas lama. Ia membandingkan dengan cap di surat kuasa yang ia simpan; bentuk lingkarannya sama, tetapi tekanan dan jaraknya tidak.
Seseorang di keluarga tidak hanya menghapus namanya. Seseorang sudah menata pemalsuan ini bertahun-tahun.
Dari saku gaunnya, ponsel Alena bergetar. Nama Raisa muncul di layar, lalu pesan singkat yang membuat tenggorokannya dingin: Aku kabur karena melihat transaksi. Bukan soal nikah. Mereka pakai nama keluarga untuk menutup uang. Jangan biarkan mereka ambil lampiran itu.
Alena mengangkat kepala. “Raisa melihat transaksi. Siapa yang terlibat?”
Bramanta tidak bergerak, tapi sorot matanya berubah. Ibu Laras menutup ponsel di telapak tangan, terlalu cepat. Ruangan itu mendadak lebih sunyi daripada bridal suite semalam—sunyi yang dibayar mahal agar orang lupa bertanya.
Alena memasukkan salinan surat kuasa ke lipatan veil, tepat di balik kain yang jatuh di lengannya. “Saya tidak akan tanda tangan apa pun hari ini,” katanya, setiap kata dipilih seperti pisau kecil. “Dan saya mau nama petugas arsip hotel. Sekarang.”
Nadim menatapnya, lalu ke pintu kaca di belakang meja. Di koridor luar, bayangan kamera hotel bergerak sebentar, menangkap lebih dari yang diinginkan siapa pun. Ia membuat keputusan tanpa menoleh pada Bramanta. “Kalau mereka mau memaksa narasi, kita kasih wajah yang tak bisa disangkal.”
Ia meraih lengan Alena—singkat, terukur, cukup untuk membawanya berdiri di depan garis pandang pintu dan kamera. Bukan sentuhan intim, melainkan deklarasi. Alena merasakan tegangnya tangan itu, beban pilihannya, dan biaya yang langsung lahir di udara.
Di sisi lain meja, ponsel Bramanta menyala bertubi-tubi. Satu pesan masuk, lalu panggilan. Ibu Laras membaca layar dan untuk pertama kalinya, rautnya kehilangan kendali.
Alena menatap cap yang salah itu sekali lagi, lalu menyimpan kertasnya lebih dalam. Ia sudah mengerti cukup untuk tahu ini belum awal, melainkan bekas luka yang sengaja dipelihara. Dan ketika Nadim berdiri di depannya menghadapi kamera, ia juga melihat akibatnya: aliansi bisnis pria itu mulai retak di depan mata mereka, dan seseorang di luar ruangan sudah mengaktifkan serangan resmi.
Chapter 5 - Cap yang Salah
Dua puluh menit setelah notaris pergi, Alena masih berdiri di ambang ruang rapat hotel dengan salinan surat kuasa lama di tangan, sementara ponselnya bergetar sekali lagi oleh pesan baru dari nomor tak dikenal: lokasi, jam, dan satu nama yang membuat perutnya mengencang—Raisa di lantai servis, dekat ruang linen.
Di belakangnya, pintu kaca ruang rapat terbuka dan menutup, memuntahkan suara sepatu Ibu Laras dan suara datar Bramanta yang sudah mulai menekan staf arsip hotel seperti orang yang merasa berhak atas semua laci di gedung ini.
“Berikan itu ke saya,” kata Bramanta, suaranya licin tanpa perlu ditinggikan. “Dokumen yang tidak terdaftar bukan barang keluarga.”
Alena tidak menoleh. Ia menurunkan pandangan ke cap legal yang tadi menampar matanya: lingkaran tinta tua dengan tepi pecah, terlalu mirip cap yang dipakai pada arsip resmi, tetapi ada satu detail yang salah—nama kantor notarisnya dibikin terlalu rapat, seolah dicetak tergesa-gesa dari stempel yang diganti kepala hurufnya. Kesalahan kecil. Kesalahan yang hanya dibuat orang yang sudah terbiasa memalsukan hal besar.
“Kalau tidak terdaftar, kenapa capnya ada di map keluarga?” Alena bertanya tenang.
Bramanta berhenti satu langkah. Itu cukup untuk memberi ruang pada staf arsip hotel yang berdiri kaku di samping troli map krem. Orang itu memegang amplop tambahan, matanya bolak-balik dari wajah Alena ke wajah Bramanta, jelas berharap salah satu pihak menyuruhnya pergi.
Nadim muncul dari sisi lorong layanan, jasnya belum rapi sepenuhnya, kerah kemejanya sedikit terbuka seperti dia baru saja melepas dasi untuk menahan amarah yang lebih berguna disimpan. Tatapannya jatuh pada amplop di tangan staf, lalu pada cap di kertas Alena.
“Jangan sentuh dokumen itu,” katanya kepada Bramanta, datar tapi berbahaya. “Kalau ada yang direbut sekarang, saya akan anggap itu pengakuan.”
Bramanta tersenyum tipis. “Pengakuan atas apa? Bahwa Alena memegang kertas yang bukan haknya?”
“Pengakuan bahwa Anda gugup,” sahut Alena sebelum Nadim menjawab. Ia melipat salinan itu sekali, lalu dua kali, cukup kecil untuk masuk ke telapak tangan tanpa kehilangan bagian cap. “Dan orang yang gugup biasanya tidak suka kalau jejaknya dibaca keras-keras.”
Ibu Laras menatapnya seperti menatap noda di taplak mahal. “Kau semakin jauh melampaui tempatmu, Alena.”
“Tempat saya sudah disebut di depan notaris,” kata Alena. “Terlambat membuang saya ke pinggir meja.”
Kata-kata itu memaksa jeda singkat yang lebih mahal daripada teriakan. Nadim menyusupkan satu langkah ke samping Alena, tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat staf arsip itu menyerahkan amplop tambahan ke meja kecil di lorong. Amplop itu berlogo hotel, segelnya belum dibuka. Alena membaca nama pengirim di sudutnya: Arsip Internal, lantai administrasi.
“Dari mana ini?” tanya Alena.
Staf itu menelan ludah. “Ditemukan di kotak retensi lama. Ada permintaan salinan dari… dari atas, sejak minggu lalu. Tapi cap kirimnya—”
“Tidak cocok,” kata Alena, cepat.
Ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada salinan daftar keluar-masuk arsip dan satu lembar pemindaian cap yang sama, tercatat dengan tanggal tiga tahun lalu. Tanggal yang terlalu lama untuk disebut kebetulan. Tanggal yang membuat penghapusan namanya bukan tindakan panik saat ini, melainkan pekerjaan rapi yang dikerjakan berkali-kali, dari meja ke meja, dari keluarga ke notaris, dari rekening ke arsip hotel.
Nadim membaca lembar itu sekali, lalu sorot matanya menajam. “Ada transaksi yang berjalan lewat jalur ini,” katanya pelan.
Alena menggeser amplop ke lipatan veil yang tergantung di lengannya. Gerakannya halus, tapi keputusan itu keras: bukti itu sekarang miliknya, bukan milik keluarga. “Raisa melihat transaksi itu,” ujarnya. “Bukan sekadar lari dari pernikahan.”
Bramanta menyambar kesempatan. “Dan kau percaya pesan orang yang menghilang?”
“Tidak,” jawab Alena. “Saya percaya pola.”
Dia mengangkat lembar pemindaian cap itu cukup tinggi agar Nadim melihat detail yang sama: nama kantor notaris, nomor registrasi, dan satu bekas coretan tinta yang menandai huruf pertama seolah pernah diganti. Sebuah jejak kecil yang, bila dibawa ke ahli, bisa merobohkan seluruh cerita keluarga tentang siapa yang sah dan siapa yang dihapus.
Nadim menatapnya lama, lalu mengangkat wajah ke arah kamera ponsel staf hotel yang tiba-tiba menyala di ujung lorong. Seseorang sudah merekam. Tentu saja. Di hotel ini, reputasi selalu punya penonton.
“Kalau mereka mau narasi,” kata Nadim, suaranya lebih keras sekarang, cukup untuk ditangkap kamera, “mereka akan dapat yang benar.”
Ia melangkah ke sisi Alena, berdiri sejajar dengannya di depan lampu lorong yang putih dan kejam. Tidak memeluk, tidak memamerkan romantik murahan—hanya posisi yang jelas, cukup untuk mengubah citra mereka dari skandal menjadi pernyataan. Biaya itu langsung terlihat di wajah Bramanta; aliansi bisnis yang tadi berusaha ia jaga retak di depan mata orang-orang yang sedang merekam.
Alena merasakan beban baru di telapak tangannya: bukan hanya bukti, tapi keputusan. Ia memasukkan salinan surat kuasa ke lipatan veil, menekan ujung kertas itu hingga rata, lalu menatap Bramanta tanpa berkedip.
“Mulai sekarang,” katanya, “kalau kalian mau menyangkal saya, kalian harus menjelaskan cap ini dulu.”
Chapter 5 - Di Depan Kamera
Begitu pintu lift VIP terbuka, suara sepatu, panel kamera internal, dan bisik staf hotel menyambar Alena seperti debu tajam. Baru beberapa menit lalu, Nadim memintanya tetap di area privat sambil menunggu lampiran notaris; sekarang, lorong itu sudah dipenuhi orang yang jelas bukan tamu biasa. Seseorang dari tim perusahaan menunjuk ke arah lobi, dan Alena tahu: berita soal pengantin pengganti sudah turun dari rumor menjadi bahan siaran internal.
Nadim berdiri di ujung lorong, jasnya rapi seperti tidak ikut terbakar oleh kekacauan apa pun. Tapi matanya bergerak cepat—dari kartu akses di tangan staf, ke ponsel yang bergetar di saku Bramanta, lalu ke wajah Alena. “Mereka minta pernyataan resmi,” katanya singkat. “Bukan soal pernikahan saja. Soal siapa yang duduk di meja keputusan malam ini.”
“Dan kau mau aku diam?” Alena menahan map arsip di bawah lengan, jari-jarinya menekan lipatan veil yang menyimpan salinan surat kuasa lama. Ia tidak akan menyerahkannya ke siapa pun sebelum tahu siapa yang bermain di belakangnya.
Nadim tidak langsung menjawab. Itu sendiri sudah jawaban. Di belakangnya, Ibu Laras muncul dengan langkah terukur, wajahnya tetap tenang seperti sedang menilai susunan meja makan, bukan runtuhnya kontrol keluarga. Bramanta menyusul, telepon menempel di telinga, lalu menatap Alena seolah ia adalah gangguan yang belum selesai dibersihkan.
“Ini di luar ruang keluarga,” kata Bramanta dingin. “Jangan buat hotel melihat kita saling menjatuhkan.”
“Hotel sudah melihat lebih dari yang kau inginkan,” sahut Alena. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat dua staf menunduk pura-pura memeriksa kartu akses mereka.
Ibu Laras mengangkat dagu. “Kalau kau ingin tetap di sini, patuhi tata cara yang sudah disiapkan.”
“Yang kau maksud, tata cara untuk menghapus namaku lagi?” Alena mengarahkan tatapannya langsung ke perempuan itu. “Atau tata cara untuk menutup transaksi yang membuat Raisa kabur?”
Satu detik. Hanya satu detik, tapi cukup untuk mengubah udara.
Nadim menoleh cepat. “Raisa mengirim pesan padamu?”
Alena mengangguk kecil. “Dia tidak lari karena takut menikah. Dia melihat transaksi.” Ia tidak membuka isi pesannya di depan mereka, tidak memberi Bramanta satu kata pun lebih dari yang sudah ia punya. “Kalau kau masih menyembunyikan lampiran notaris, sekarang waktu paling buruk untuk terus menahan aku.”
Bramanta menegang. Itu saja sudah membuat Alena yakin ada bagian yang tepat mengenai sasaran. Nadim melihatnya juga. Ia mengeluarkan ponsel, memutar layar ke arah mereka: notaris cadangan menunggu di ruang rapat kecil, dan jadwal konferensi pers hotel sudah bergeser sepuluh menit. “Kalau kalian ingin pembahasan merger tetap hidup, aku butuh satu keputusan,” katanya. “Alena berdiri di sampingku di depan kamera. Bukan di belakang staf, bukan di lorong servis.”
Itu biaya nyata. Alena mengerti artinya: begitu kamera menangkap mereka, tidak ada lagi jalan aman untuk menyebutnya cadangan yang bisa disingkirkan malam ini. Nadim juga tahu. Ia memilih tetap melakukan itu.
Ibu Laras menatapnya tajam. “Kau akan mengikat perusahaanmu pada skandal ini?”
“Aku sedang mencegah kalian menguburnya,” jawab Nadim.
Lalu ia bergerak. Bukan dengan romantisasi, bukan dengan gestur besar, melainkan dengan tubuh yang secara sadar mengambil posisi di depan Alena saat dua staf media internal mendekat. Tangannya hanya menyentuh punggung kursinya sesaat—cukup untuk memberi isyarat bahwa tempat itu miliknya malam ini. Alena maju satu langkah, menyesuaikan veil agar map di lipatannya tidak terbaca siapa pun.
Sorot kamera internal menyala.
“Nama?” tanya operator, sudah hafal prosedur.
“Nadim Santosa,” kata Nadim.
“Alena Pradipta,” sambung Alena, tanpa menurunkan dagu.
Bramanta menyipit. Ibu Laras tidak bergerak, tetapi Alena menangkap getar tipis di rahangnya. Namanya, yang sudah terlanjur disebut di depan notaris, kini keluar lagi di depan kamera hotel. Tak bisa ditarik mundur.
Saat operator menekan tombol rekam, seorang staf hotel datang tergesa membawa amplop krem dari arsip internal. “Dari penyimpanan lama,” katanya kepada notaris cadangan yang baru masuk, napasnya terputus. Nadim mengambilnya lebih dulu, lalu menyerahkannya ke Alena—langkah kecil, tapi jelas: ia memilih berpihak di depan semua mata.
Alena membuka satu sisi amplop itu. Di dalamnya ada salinan surat kuasa dengan cap yang sama seperti yang ia temukan di bridal suite—dan kali ini, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti sebentar: tepi cap itu tidak sejajar dengan tahun berkas, tintanya terlalu baru untuk umur dokumen, dan nomor registrasinya memakai format yang sudah lama tidak dipakai keluarga. Bukan sekadar cap aneh. Ini jejak palsu yang sengaja diproduksi bertahun-tahun lalu.
Di layar ponselnya, pesan dari Raisa baru masuk: Aku melihat transaksi itu. Nama-nama di atasnya bukan cuma keluargamu. Jangan percaya arsip yang terlihat rapi.
Alena menutup amplop perlahan, lalu menyelipkan salinan itu kembali ke lipatan veil sebelum siapa pun sempat merebutnya. Di sekelilingnya, kamera masih menyala, Nadim masih berdiri di sampingnya, dan untuk pertama kalinya malam itu Alena merasakan beban bukti itu bukan lagi luka—melainkan senjata.
Ia mengangkat mata ke Bramanta. “Kalau cap ini palsu, maka jejak yang kau hapus dari berkas keluargaku juga palsu.” Suaranya tenang, tetapi cukup keras untuk masuk ke mikrofon kamera. “Dan aku ingin tahu siapa yang menandatanganinya.”