Chapter 6
Belum lima menit sejak sidang dadakan di lobby privat hotel itu berakhir, ponsel Alena sudah seperti dilempari batu dari dua arah sekaligus. Grup komunikasi keluarga meledak. Notifikasi bertubi-tubi. Satu pesan dari tim legal, tiga dari tim publikasi, lalu tangkapan layar yang membuat perutnya mengencang: foto dirinya berdiri satu langkah di depan Nadim, veil masih tergenggam di tangan, sudah beredar di akun gosip.
Caption di bawahnya tidak perlu banyak kata untuk merendahkan.
Pengantin pengganti?
Alena menatap layar itu tanpa berkedip. Di balik kaca lobby, lampu kamera internal hotel menyala merah, menandakan semua pergerakan di area itu masih direkam. Staf hotel yang tadi mondar-mandir mendadak memilih diam. Bahkan suara AC di langit-langit terdengar terlalu keras.
Di sisi koridor, Bramanta keluar dari lift servis dengan map cokelat di tangan. Wajahnya rapi, nadanya juga. Itulah yang justru membuatnya berbahaya.
“Sudah saya bilang,” ucapnya, cukup keras untuk didengar orang yang sengaja pura-pura tidak mendengar, “begitu Anda turun ke sini, biaya diam jadi lebih mahal.”
Alena mengangkat kepala. Ia tidak memberi Bramanta kepuasan melihatnya gentar.
“Kalau yang bocor foto saya berdiri di depan kamera, itu bukan salah saya,” balasnya datar.
“Bukan?” Bramanta berhenti di dekat meja konsol. “Anda berada di ruang yang belum jelas statusnya. Anda membawa surat kuasa lama. Anda memaksa rapat keluarga jadi panggung. Lalu Anda heran ketika orang bertanya siapa sebenarnya Anda?”
Kalimat itu menempel seperti debu basah.
Alena memejam sekali, lalu membuka mata lagi. Jarinya menggenggam lipatan veil di pergelangan tangan kiri. Di sana, tersimpan salinan surat kuasa lama dan daftar perubahan arsip yang ia ambil dari notaris cadangan—benda tipis, tapi cukup untuk merobohkan satu versi sejarah keluarga.
Nadim berdiri di ujung meja konsol, jasnya masih sempurna, tapi rahangnya mengeras saat ponselnya bergetar. Ia melihat layar, lalu mengangkat mata ke arah dua orang tim komunikasinya yang baru saja masuk dengan ekspresi tegang.
“Keluar dulu,” katanya singkat.
Salah satu staf ragu. “Tuan Nadim, akun internal—”
“Keluar.”
Tidak ada bentakan. Justru itu yang membuat semua orang bergerak lebih cepat.
Ketika lorong mulai kosong, seorang staf hotel mendekat dengan tablet di tangan. “Maaf, Tuan. Tim keamanan meminta konfirmasi. Ada beberapa unggahan yang menunjukkan area ini. Kalau perlu kami kunci akses kamera—”
“Jangan.” Nadim menjawab sebelum kalimat itu selesai. “Biarkan tetap menyala.”
Alena menoleh padanya, membaca keputusan itu lebih dulu sebagai risiko daripada bantuan. Di depan kamera, semua pilihan jadi bukti. Dan Nadim baru saja memilih terlihat.
Ponsel Alena kembali bergetar. Kali ini bukan dari grup keluarga. Nama Raisa muncul di layar.
Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap pada Bramanta, yang kini membuka map cokelatnya dan meletakkan dua lembar dokumen di atas meja konsol, seolah ingin mengubah ruangan ini menjadi ruang ancaman yang sopan.
“Kalau Anda tetap mau bicara soal nama,” kata Bramanta, “maka kita bicara resmi. Kita cabut posisi darurat. Kita kembalikan semua ke jalur semula. Alena bisa tetap di sini sebagai pendamping, bukan pihak keputusan.”
“Posisi semula?” Alena mengulangi pelan. “Posisi semula itu yang menghapus nama saya dari berkas utama keluarga?”
Bramanta tidak menjawab. Dan diamnya terlalu cepat untuk disebut kebetulan.
Nadim menggeser tubuh, satu langkah saja, tapi cukup untuk menutup garis pandang langsung Bramanta ke Alena. Tidak dramatis. Tidak berlebihan. Hanya posisi yang sengaja dipilih.
“Kalau mau bicara status, bicara di depan semua saksi yang tadi hadir,” kata Nadim. “Bukan setelah membuang orang yang tidak Anda suka dari meja.”
Bramanta menatapnya tajam. “Anda sudah terlalu jauh melindungi sesuatu yang bahkan belum Anda pahami.”
“Yang saya pahami,” jawab Nadim tenang, “adalah ada orang yang namanya disebut di depan notaris, lalu diperlakukan seperti tak pernah ada. Itu cukup untuk membuat saya tidak setuju.”
Kalimat itu tidak terdengar sebagai pengakuan cinta. Justru karena itu, Alena merasakan sesuatu yang lebih sulit: hormat yang dipaksa lahir di tempat yang tidak aman.
Ponselnya berhenti bergetar. Panggilan Raisa masuk lagi, lalu putus. Sebuah pesan singkat menyusul.
Jangan angkat dulu. Lihat map biru. Yang mereka sembunyikan bukan cuma pernikahan.
Alena menegang. Map biru.
Kata itu kembali menyalakan memori yang selama ini hanya berupa potongan. Ruang arsip. Cap yang tidak konsisten. Nama yang dihapus terlalu bersih. Dan sesuatu yang lebih besar dari pertengkaran keluarga biasa.
Ia menutup layar ponsel tanpa menjawab.
“Raisa?” tanya Nadim, cukup pelan agar tidak terdengar seperti ikut campur, tapi cukup jelas untuk menunjukkan ia memperhatikan.
Alena menatapnya singkat. “Dia melihat transaksi yang tidak seharusnya ada.”
Bramanta tertawa kecil, tanpa humor. “Dan Anda percaya orang yang kabur dari altar?”
“Dia tidak kabur dari altar,” kata Alena. “Dia kabur setelah melihat sesuatu yang bisa menghancurkan keluarga kalian.”
Kata-kata itu membuat udara di ruangan menipis.
Ibu Laras, yang sejak tadi duduk tegak di kursi ujung seolah semua kekacauan ini bisa ditahan dengan punggung yang lurus, akhirnya berbicara. “Kita tidak perlu memperbesar kesalahpahaman. Pernikahan ini urusan dewasa. Citra keluarga juga urusan dewasa.”
“Citra keluarga selalu jadi alasan paling rapi untuk menutup luka,” jawab Alena. Suaranya tetap rendah, tapi ia membiarkan setiap kata berdiri sendiri. “Tapi luka saya tetap ada.”
Ibu Laras menatapnya seperti hendak menegakkan disiplin. “Kalau Anda ingin dihormati, jaga cara bicara.”
Alena tersenyum tipis. Bukan ramah. Bukan lunak.
“Kalau saya ingin dihormati, saya akan mulai dari berkas yang diubah atas nama saya.”
Seorang notaris cadangan, yang sedari tadi berdiri di dekat proyektor dengan kertas-kertas di tangan, menelan ludah. Ia seperti ingin menghilang ke dinding.
Nadim melihat kegelisahan itu. Lalu ia menoleh ke kurir hotel yang baru saja masuk tergesa sambil membawa amplop krem tersegel.
“Dari mana itu?” tanyanya.
“Dititipkan untuk Tuan Nadim,” jawab kurir itu, napasnya pendek. “Ada instruksi: dibuka di depan pihak yang namanya tercantum.”
Bramanta langsung bergerak. “Serahkan ke saya.”
“Bukan atas nama Anda,” balas Nadim.
Ia menerima amplop itu tanpa buru-buru. Alena memperhatikan cara jari-jarinya memegang segel itu—tenang, terukur, tapi ada tegangan yang tidak bisa disembunyikan seluruhnya. Nadim tahu isi benda ini lebih penting daripada yang ia ucapkan.
Kamera internal tetap menyala merah. Staf hotel diam. Bahkan Ibu Laras pun menahan napas, seolah segel itu bisa memutuskan siapa yang masih punya kursi di ruangan ini.
Nadim membuka segel pada ujung map. Suara kertas yang tersobek terdengar terlalu keras.
Di dalamnya ada lampiran yang lebih tipis dari yang Alena bayangkan. Beberapa lembar salinan rekening lama. Satu daftar transfer yang diberi garis tangan. Dan di bawahnya, fotokopi lampiran notaris dengan cap yang sama—cap yang kemarin Alena curigai, cap yang tidak konsisten, cap yang menandakan pemalsuan yang sudah bekerja bertahun-tahun.
Matanya bergerak cepat, menangkap nama-nama yang berulang di beberapa baris. Notaris yang sama. Tanggal yang diatur seperti sengaja dijaga agar tidak berisik. Satu rekening lama yang pernah ia dengar disebut dalam bisik-bisik keluarga. Lalu satu item yang membuat napasnya tertahan sepersekian detik:
Aset atas nama Alena Pradipta—dikunci sementara, status internal, menunggu persetujuan pihak pengelola.
Ia membaca lagi. Lebih pelan. Lebih hati-hati.
Bukan hanya saham. Bukan hanya waris keluarga. Ada rekening. Ada aset diam-diam. Ada sesuatu yang sengaja diposisikan agar tak pernah sampai ke tangannya.
Alena mengangkat kepala. Di wajahnya tak ada kejutan yang meledak-ledak. Yang ada hanya perhitungan tajam, cepat, dan dingin.
“Jadi ini,” katanya, suaranya rata, “bukan soal satu surat kuasa palsu.”
Nadim tidak menjawab seketika. Ia menatap isi lampiran itu, lalu menatap Bramanta. Untuk pertama kalinya malam itu, perhatian Bramanta benar-benar goyah.
“Siapa yang menyusun ini?” tanya Alena.
Tidak ada yang menjawab.
“Siapa yang memerintahkan penghapusan nama saya dari berkas utama?” ulangnya, kali ini lebih tajam.
Ibu Laras mengatupkan rahang. “Alena—”
“Jangan panggil nama saya seperti saya masih milik rumah ini,” potong Alena. “Kalau ada aset yang dikunci atas nama saya, berarti ada yang sadar saya bukan sekadar cadangan.”
Nadim menutup map itu separuh, lalu mendorongnya ke arah Alena, bukan ke Bramanta. Gerakan kecil, tapi di ruangan itu terasa seperti keputusan.
“Bawa,” katanya singkat.
Bramanta langsung menatapnya. “Anda tidak bisa menyerahkan dokumen keluarga kepada—”
“Dia yang namanya tercantum,” sahut Nadim. “Kalau Anda khawatir, seharusnya dari awal tidak menyentuh berkasnya.”
Ada desakan langkah di luar pintu. Seseorang berbicara di interkom hotel. Kalimat-kalimatnya terlalu cepat untuk ditangkap penuh, tapi satu frasa menembus sampai dalam:
tim komunikasi keluarga meminta penguncian pernyataan resmi.
Itu berarti serangan sudah bergerak.
Alena merasakan hal itu sebelum siapa pun menjelaskan. Begitu nama asli diucapkan di depan saksi, keluarga tidak akan membiarkannya menjadi fakta yang diam. Mereka akan memutar narasi. Menutup pintu. Mengunci orang. Membuatnya terlihat seperti gangguan yang memaksa terlalu jauh.
Dan di antara semua itu, Nadim berdiri di dekatnya. Bukan di belakang. Bukan di samping secara sopan. Di garis depan yang sama dengan dirinya.
Di wajah Nadim, ketenangan tetap utuh. Tapi Alena tahu betapa mahal keputusan seperti itu. Ia bisa membaca konsekuensi dari kacamata bisnis yang tergelincir sedikit di pangkal hidungnya, dari satu pesan masuk yang ia abaikan, dari cara jari-jarinya menekan sisi map seolah menahan dunia agar tidak pecah lebih jauh.
Ponselnya bergetar lagi. Satu nama muncul di layar Nadim. Ia melihatnya sekilas, lalu mematikan layar tanpa membuka.
Alena menangkap perubahan itu. “Aliansi Anda retak,” katanya lirih.
Nadim menoleh padanya. “Saya tahu.”
“Itu biaya yang besar.”
“Tidak sebesar membiarkan Anda sendirian di ruangan ini.”
Kata-kata itu sederhana. Justru karena itu, mereka terasa lebih berat dari segala pidato yang mungkin bisa diucapkan.
Alena menahan tatapannya beberapa detik. Ada kemarahan di sana, tentu saja. Ada kehati-hatian juga. Tapi di bawah semuanya, sesuatu mulai berubah: bukan percaya penuh, belum. Hanya pengakuan bahwa Nadim tidak sedang bermain aman demi dirinya sendiri.
Seseorang mengetuk pintu dua kali, keras, lalu membuka sedikit tanpa menunggu izin. Seorang staf komunikasi keluarga berdiri di ambang, wajahnya pucat.
“Maaf mengganggu,” katanya terburu-buru. “Ada pernyataan resmi yang sedang disiapkan. Tiga media sudah minta konfirmasi soal foto di lobby. Dan—” ia berhenti, menelan ludah, “—kantor pusat minta Tuan Nadim segera menegaskan posisi beliau sebelum isu ini merusak kesepakatan.”
Ruang itu membeku.
Bramanta menatap Nadim seperti baru mendapat celah.
Ibu Laras tidak bergerak, tapi wajahnya mengeras lebih dalam.
Alena memegang map itu lebih rapat di sisi tubuhnya. Jika Nadim melangkah mundur sekarang, ia akan kehilangan bukan hanya perlindungan, tapi juga ruang tawar yang baru dibuka. Jika ia tetap berdiri di sini, ia mengorbankan lebih banyak dari sekadar citra.
Nadim memandang staf itu sebentar, lalu menggeser tubuhnya setengah langkah ke depan—tepat di depan kamera yang masih menyala merah.
“Konfirmasi apa yang Anda butuhkan?” tanyanya.
Staf itu tertegun.
Alena menoleh pelan, membaca pilihan itu sebelum kata-kata berikutnya diucapkan. Nadim tidak hanya berdiri di sisinya.
Ia memilih terlihat bersama Alena, di depan kamera, pada momen ketika semua orang menunggu dia menarik diri.
Dan begitu pilihan itu dibuat, Nadim menerima benturan yang tak bisa lagi disembunyikan: satu pesan masuk dari kantor pusat, dua panggilan tak terjawab dari tim bisnis, dan perubahan wajah Bramanta yang mendadak tahu bahwa serangan resmi kini punya alasan untuk menyala penuh.
Di layar ponsel staf komunikasi itu, draft pernyataan keluarga mulai diketik. Kata pertama muncul sebelum siapa pun bisa menghentikannya.
Alena mengangkat dagunya, memegang map arsip itu seperti orang yang baru saja menemukan pintu ke ruang yang selama ini ditutup untuk namanya.
Dan di belakang lampu kamera yang tetap menyala, perang resmi pun mulai bergerak.