Chapter 4
Cap di Surat Kuasa
Alena baru sempat menutup map arsip keluarga ketika pintu bridal suite terbuka lagi—lebih keras dari seharusnya. Di ambang pintu, Ibu Laras masuk dengan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang memaksa seorang perempuan menukar nasibnya di hari pernikahan.
“Cukup,” kata Ibu Laras. “Staf hotel sudah menunggu. Notaris cadangan juga sudah di bawah. Kamu tinggal menandatangani, lalu semua orang berhenti bicara.”
Alena tidak berdiri. Ia justru menggeser map di pangkuannya ke sisi lain, menjauhkannya dari jangkauan siapa pun. Di dalamnya ada salinan surat kuasa lama yang ia temukan di laci meja rias—kertas tipis dengan cap basah yang setengah pudar, tapi masih cukup jelas untuk membuat jantungnya bekerja lebih lambat dan lebih tajam. Bukti itu belum lengkap. Namun cukup untuk membuatnya berbahaya.
“Semua orang?” ulang Alena. Suaranya datar. “Atau semua orang yang Ibu pilih?”
Bramanta muncul di belakang Ibu Laras, kancing jasnya belum tertutup sempurna, seperti baru saja meninggalkan ruang rapat dengan langkah tergesa. “Jangan memelintir keadaan. Kamu sudah diberi kursi semalam. Itu biaya mahal. Jangan bikin keluarga menyesal memberi kamu kesempatan.”
Alena menatapnya. “Kursi sementara bukan hadiah. Itu alat tekan.”
Nadim berdiri di dekat meja rias, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi menyelipkan amplop cokelat ke dalam map dokumen lain. Ia tidak ikut memotong pembicaraan, tapi kehadirannya membuat ruangan itu terasa lebih sempit. Sejak kemarin ia sudah memilih berpihak di depan semua orang, dan Alena tahu pilihan itu membuatnya membayar dengan posisinya sendiri. Kendali rapat, akses staf, citra perusahaan—semuanya sudah ia geser demi satu malam yang belum tentu cukup.
Ibu Laras melirik Nadim, lalu kembali ke Alena. “Kamu tidak mengerti apa yang dipertaruhkan.”
“Aku mengerti terlalu banyak,” balas Alena. Ia mengangkat mapnya sedikit. “Aku tahu kenapa arsip lama dipindahkan. Aku juga tahu nama asliku disebut di depan notaris bukan kecelakaan. Dan aku tahu ada transfer tua yang mengalir lewat rekening yang sama, dari tangan yang sama, ke orang yang sama.”
Ruangan itu mengeras. Bahkan staf hotel di dekat pintu menahan napas, pura-pura sibuk dengan tray air dan tisu yang tak disentuh siapa pun.
Bramanta maju selangkah. “Kamu belum punya bukti.”
Alena tersenyum tipis, tanpa hangat. “Makanya aku belum menandatangani apa pun.”
Nadim akhirnya menoleh padanya. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang lebih gelap di bawah kendali itu—perhitungan, dan mungkin juga perlindungan yang dipaksa memilih bentuk. “Notaris cadangan bawa lampiran tersegel,” katanya, suaranya rendah. “Kalau cap surat kuasa ini sah, posisi kamu berubah.”
“Kalau?” Alena menangkap kata itu.
“Kalau capnya asli,” jawab Nadim.
Bramanta tertawa kecil, terlalu cepat. “Lihat? Bahkan dia tahu itu belum tentu valid.”
Alena menggeser map itu terbuka. Di atas kertas lama, cap merah yang meleleh sebagian masih menempel di sudut garis tanda tangan. Tidak rapi, tapi khas. Terlalu khas untuk bisa dianggap kebetulan. Tangannya tidak gemetar saat ia menelusuri lingkaran tinta itu dengan ujung jari.
“Cap ini bukan milik arsip hotel,” katanya. “Ini cap keluarga.”
Ibu Laras menegang untuk pertama kalinya. Itu tidak lama, tapi cukup untuk Alena menangkapnya.
Ponsel Nadim bergetar. Ia membaca satu baris pesan, lalu rahangnya mengencang. “Raisa mengirim sesuatu lagi.”
Alena mengangkat kepala. “Baca.”
Nadim sempat ragu hanya sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan bahwa isi pesan itu tidak sederhana. Lalu ia menaruh ponsel di atas meja rias, memutar layarnya ke arah Alena.
Raisa: aku kabur bukan karena takut menikah. aku lihat satu transaksi. kalau itu keluar, keluarga kalian habis.
Alena merasakan dingin yang berbeda. Bukan lagi dingin kamar bridal suite, bukan lagi dingin tatapan keluarga. Ini dingin yang datang dari bawah lantai: tahu bahwa alasan di balik pelarian Raisa bukan lemah, melainkan mematikan.
“Transaksi apa?” tanya Bramanta tajam.
“Pertanyaan yang sama,” kata Nadim, menatap layar tanpa menyentuhnya. “Yang sedang kita kejar sejak malam tadi.”
Ibu Laras menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi. “Pesan anak itu belum berarti apa-apa.”
“Kalau begitu kenapa Ibu terlihat takut?” Alena bertanya pelan.
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya derit halus roda troli hotel di luar, dan notaris cadangan yang akhirnya mengetuk dua kali sebelum masuk dengan map tersegel di tangan.
Nadim mengulurkan tangan. “Buka di sini.”
Alena menatap map lamanya sekali lagi, lalu memasukkan salinan surat kuasa itu ke lipatan veil yang tergeletak di atas sofa. Gerakannya cepat, presisi, seperti menyimpan pisau di tempat yang paling tak terduga. Ia tidak menyimpan bukti itu untuk dibaca nanti. Ia menyimpannya untuk menang.
Cap merah itu masih terasa di ujung jarinya ketika ia mengangkat wajah.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alena paham: siapa pun yang memalsukan jejak cap ini bukan sekadar ingin menghapus namanya. Mereka sudah bekerja bertahun-tahun untuk membuatnya seolah tak pernah punya hak atas keluarga ini sama sekali.
Chapter 4 — Pesan dari Raisa
Ponsel Alena bergetar tepat saat ia menutup map arsip keluarga, seolah hotel ikut tahu ia baru saja menemukan darah lama di atas kertas. Layar menampilkan nomor tak dikenal tanpa nama, lalu satu pesan pendek dari Raisa Wulandari: Aku kabur bukan karena takut menikah. Aku melihat transaksi itu.
Alena tidak langsung menjawab. Di bridal suite yang terlalu mahal untuk dipakai menyembunyikan ketakutan, sunyi menggantung di antara buket putih yang mulai layu, gelas sampanye yang belum disentuh, dan koper dokumen yang tadi malam diperlakukan seperti senjata. Ia berdiri di depan meja rias, punggung tegak, jari menekan layar agar tidak salah sentuh. Setelah pesan kedua menyusul—Transaksi yang bisa menjatuhkan keluarga kalian semua—barulah napasnya bergerak pelan.
Di belakangnya, Nadim berhenti di ambang pintu. Ia baru kembali dari koridor ruang rapat, jasnya masih rapi, tetapi garis rahangnya lebih keras daripada sebelumnya. “Jangan balas dulu,” katanya, matanya turun ke layar yang menyala di tangan Alena. “Kalau itu jebakan, mereka sedang menunggu Anda menulis sesuatu yang bisa dipelintir.”
Alena menoleh. “Dan kalau itu kebenaran?”
“Kalau itu kebenaran, justru lebih berbahaya jika Anda tampak panik.” Nadim mendekat setengah langkah, tidak sampai mengambil ponselnya, cukup dekat untuk menutup ruang tanpa merampas. “Bramanta sudah menelepon notaris dua kali. Ibu Laras meminta akses ke daftar saksi. Mereka tahu Raisa menghilang membawa sesuatu.”
Nama itu membuat dada Alena mengencang, tapi bukan karena cemburu atau sakit hati yang dangkal. Ada pola di sana—terlalu rapi untuk sekadar pelarian seorang calon pengantin. “Raisa melihat transaksi di mana?”
“Belum tahu.” Nadim menatap map di meja. “Tapi kalau dia menulis langsung ke nomor ini, berarti dia menganggap Anda lebih aman daripada keluarga sendiri.”
Kalimat itu seharusnya terasa seperti pujian. Bagi Alena, itu terasa seperti pengakuan bahwa rumah yang membesarkannya sudah lama bukan tempat yang aman. Ia mengangkat map itu, membuka halaman yang tadi ia fotokopi diam-diam dari arsip keluarga. Ada nomor rekening lama, nama notaris, dan satu cap yang hampir pudar di sudut surat kuasa. “Kalau Raisa melihat transaksi, berarti ia juga melihat siapa yang menyetujui aliran uang ini.”
Nadim menurunkan pandangan ke cap itu. “Saya sudah minta lampiran tersegel dari notaris. Tapi Bramanta menahan prosesnya.”
“Karena isi lampiran itu pasti mengganggu narasi mereka.”
“Karena isi lampiran itu bisa memindahkan posisi tawar.” Nadim berkata datar, tetapi nada itu lebih tajam daripada kemarahan. Ia mengambil teleponnya, mengetik satu pesan singkat, lalu menonaktifkan layar. “Sementara itu, kita ke ruang rapat. Sekarang.”
Alena tidak bergerak segera. Ia tahu betul arti “kita” dari mulut pria seperti Nadim: bukan janji manis, melainkan penempatan ulang risiko. Ia sudah diberi kursi di meja keputusan untuk satu malam, dan kursi itu kini menuntut harga yang makin jelas. “Jika saya masuk ke sana bersama Anda, Bramanta akan bilang saya menunggangi nama keluarga untuk menyelamatkan diri.”
“Dia akan bilang apa pun.”
“Benar. Jadi saya butuh sesuatu yang lebih dari sekadar berdiri di samping Anda.” Alena menutup map, lalu menggesernya ke tepi meja, jauh dari jangkauan tangan yang tidak ia percayai. “Saya butuh alasan untuk percaya bahwa Anda tidak sedang menukar saya dengan versi masalah yang lebih rapi.”
Ada jeda. Nadim menahan pandangannya, seolah menilai apakah kata-kata itu tuduhan atau syarat. “Kalau saya ingin menukar Anda, saya tidak akan membiarkan nama asli Anda diucapkan di depan notaris. Saya juga tidak akan menutup akses rapat dan memaksa keluarga Anda mendengar Anda sebagai subjek, bukan barang cadangan.”
Itu, sayangnya, benar. Dan kebenaran yang paling menyakitkan sering datang dengan biaya paling murah untuk diucapkan.
Ketukan keras di pintu memotong ruang di antara mereka. Tanpa menunggu izin, Ibu Laras masuk, wajahnya tenang seperti kain sutra yang ditarik terlalu kencang. Bramanta menyusul di belakangnya, membawa sikap seorang pria yang yakin arsip sama pentingnya dengan darah.
“Masih di sini rupanya,” kata Bramanta, matanya jatuh pada ponsel di tangan Alena. “Saya kira Anda sudah cukup puas membuat suasana keluarga memalukan.”
Alena menyimpan ponsel ke telapak tangan, tidak memberi mereka layar yang sedang menyala. “Saya sedang membaca pesan dari orang yang kabur karena melihat transaksi, bukan karena takut menikah.”
Ibu Laras tidak berkedip. “Pesan dari nomor tak dikenal bisa dibuat siapa saja.”
“Benar,” kata Alena. “Seperti arsip keluarga bisa dirapikan siapa saja. Seperti nama saya bisa dihapus siapa saja.”
Ruangan membeku. Bramanta mengencangkan rahangnya; untuk sesaat, topeng ramahnya retak dan memperlihatkan sesuatu yang lebih tua: takut kehilangan kendali.
Nadim bergerak pertama. Ia menutup langkah Bramanta tanpa menyentuh, cukup untuk membuat jarak itu terasa seperti pengusiran halus. “Lampiran tersegel dari notaris harus saya terima malam ini,” katanya. “Dan Anda berdua tidak akan masuk sebelum itu saya baca.”
Ibu Laras menatap Alena, bukan Nadim. “Jangan terburu-buru mengira satu pesan mengubah posisi Anda.”
Alena justru merasakan posisi itu bergerak. Bukan naik, belum—tetapi bergeser cukup jauh untuk membuat ancaman keluarga terlihat lebih telanjang. Ia menatap ponselnya lagi, lalu mengetik balasan singkat ke nomor tak dikenal itu. Satu kalimat, tanpa permintaan maaf dan tanpa tanda tanya:
Kalau kau benar melihat transaksi itu, kirim tempat dan nama.
Chapter 4 - Kursi yang Menjadi Biaya
Alena baru sempat menyentuh ujung map ketika pintu ruang rapat hotel dibuka keras dari sisi koridor servis. Seorang staf perusahaan masuk dengan wajah pucat, membawa amplop krem yang ujungnya sudah terlipat seperti habis diremas berkali-kali. Di belakangnya, suara sepatu Bramanta sudah lebih dulu memotong udara.
“Notaris menolak lanjut kalau lampiran tersegel tidak dibuka di hadapan semua pihak,” kata staf itu terbata.
Bramanta menyambar amplop di tangan staf sebelum sampai ke meja. “Siapa yang memberi instruksi ke notaris? Alena?” Suaranya datar, tapi cukup tajam untuk membuat dua orang staf menunduk.
Alena tidak bergerak. Ia hanya menggeser kursi yang tadi malam “diberikan” Nadim padanya ke posisi tepat menghadap meja utama. Kursi itu masih terasa seperti pinjaman yang bisa ditarik kapan saja, tapi malam ini ia duduk di atasnya dengan punggung tegak. “Kalau kursi ini memang sementara, Pak Bramanta, jangan khawatir. Saya cuma butuh jalur resmi, bukan pengakuan dari orang yang panik.”
Ibu Laras berdiri di sisi kaca, gaunnya rapi, wajahnya tenang seperti tidak ada satu pun yang retak. “Alena,” katanya lembut, justru karena itu lebih berbahaya, “jangan memaksa keluarga mempermalukan diri sendiri lagi. Satu nama sudah terlanjur keluar dari mulut notaris. Cukup.”
“Keluarga yang mana?” Alena menatapnya. “Yang menghapus nama saya dari berkas, atau yang sekarang takut capnya ketahuan?”
Bramanta membuka amplop itu, tetapi Nadim lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Tidak keras. Justru itu yang membuat ruangan diam. “Jangan sentuh apa pun sebelum notaris datang,” kata Nadim.
“Ini rapat internal perusahaan saya,” Bramanta menekan tiap kata. “Dan kau memihak orang luar yang tidak punya tempat di sini.”
Alena menangkap sesuatu yang halus di wajah Nadim: bukan marah, melainkan keputusan yang sudah menelan biaya. Tadi malam ia menutup akses rapat. Sekarang ia datang sendiri, tanpa sekretaris, tanpa perlindungan formal, seolah bersedia disalahkan bersama Alena.
“Kalau Anda ingin menyebut saya orang luar,” kata Alena pelan, “pastikan dulu arsip Anda bersih.” Ia menggeser map cokelat ke tengah meja. “Karena transfer lama yang saya temukan tidak berjalan lewat jalur resmi. Nama di rekening itu disamarkan, lalu disambungkan ke notaris yang sama.”
Wajah Bramanta menegang untuk pertama kalinya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Alena untuk melihat: ia mengenali nomor itu.
Nadim menoleh pada staf perusahaan. “Panggil notarisnya sekarang. Dan minta salinan lampiran sebelum ada yang keluar dari ruangan ini.”
Staf itu ragu. “Pak Bramanta bilang—”
“Saya yang menanggung rapat ini,” potong Nadim. “Kalau akses diblokir lagi, saya hentikan pembahasan merger sampai pagi.”
Ancaman itu bukan kosong. Alena tahu sebabnya kini ikut berubah: Nadim tidak lagi hanya melindunginya dari malu; ia mempertaruhkan pembicaraan bisnis yang nilainya jauh lebih besar. Itu berarti setiap detik di ruangan ini mahal.
Pintu dibuka lagi. Notaris masuk dengan map hitam dan wajah yang tampak terlalu sadar bahwa dirinya sedang berada di tengah ranjau. Ia menaruh map itu di ujung meja, tepat di depan Alena, lalu menunduk singkat. “Lampiran tersegel bisa dibuka jika semua pihak yang tercantum hadir. Tapi ada satu salinan surat kuasa lama yang harus Anda lihat lebih dulu.”
Ia mengeluarkan amplop tipis. Tidak setebal kehormatan keluarga, tetapi cukup untuk merobohkannya.
Alena membukanya dengan teliti, tanpa gemetar. Di dalamnya ada salinan surat kuasa lama atas aset keluarga, tanda tangan, dan stempel notaris. Di pojok kanan bawah, cap legalnya tampak sedikit miring—seolah dicetak ulang dari acuan yang tidak sama.
Matanya menyempit.
Cap itu bukan sekadar tua. Cap itu salah.
Bramanta langsung maju satu langkah. “Serahkan.”
Alena menutup amplop di telapak tangannya. “Tidak.”
Itu satu kata, tapi ruang rapat terasa bergeser. Nadim memandangnya sebentar, lalu memotong jalan Bramanta dengan tubuhnya sendiri. Tidak agresif. Cukup tegas untuk membuat posisi berubah. “Ia berhak memeriksa dokumen yang dipakai untuk menyentuh namanya.”
Ibu Laras menghela napas, lebih dingin dari yang ia maksudkan. “Kau akan melawan keluarga demi satu perempuan yang bahkan belum sah masuk?”
Nadim tidak menjawab cepat. Saat ia akhirnya bicara, suaranya lebih rendah. “Saya melawan kebohongan yang kalian pakai untuk mengatur hidupnya.”
Kalimat itu tidak lembut, tapi justru karena itu terasa seperti pengakuan yang dibayar mahal.
Ponsel Alena bergetar di atas meja. Satu pesan masuk, tanpa nomor pengirim yang disimpan.
Raisa.
Alena membaca sekali. Lalu sekali lagi.
Aku kabur bukan karena takut menikah. Aku lihat transaksi itu. Kalau selesai malam itu, keluarga kalian semua habis.
Di bawah pesan itu, ada foto buram: sebagian lembar transfer, tanda tangan yang setengah tertutup, dan bayangan tangan seseorang di meja notaris. Alena mengangkat pandangan perlahan. Selama ini ia menebak Raisa lari dari pernikahan. Ternyata bukan. Raisa lari karena melihat sesuatu yang lebih kotor dari penolakan—sesuatu yang bisa menjatuhkan seluruh nama yang sedang bertarung di ruangan ini.
“Buka lampirannya,” kata Alena pada notaris, suaranya kini lebih tajam daripada sebelumnya. “Sekarang.”
Bramanta mencoba menyela, tetapi Nadim mengangkat satu tangan—bukan untuk menenangkan, melainkan menutup kemungkinan interupsi. “Buka.”
Notaris menarik napas, lalu membuka segel.
Alena belum sempat membaca isi lampiran itu, karena staf perusahaan kembali masuk tergesa, menyerahkan amplop kecil tambahan yang ternyata terselip di bawah map hitam. “Ini tertinggal di kotak arsip lama hotel. Atas nama keluarga Pradipta.”
Alena mengambilnya lebih dulu. Di dalamnya ada satu salinan surat kuasa lain—dan cap di pojoknya sama cacatnya.
Seseorang di keluarga ini memang sengaja memalsukan jejaknya sejak bertahun-tahun lalu.