Novel

Chapter 7: Harga Sebuah Kejujuran

Aruna menghadapi ancaman audit yang menargetkan masa lalu rehabilitasi Bramantya. Di tengah tekanan, Bramantya memberikan akses penuh ke dokumen pribadinya sebagai bentuk kepercayaan strategis. Aruna kini harus memilih antara menggunakan bukti akuisisi untuk menghancurkan Bramantya atau melindunginya dari ancaman Surya, sementara media mulai mencium aroma skandal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kejujuran

Lampu neon di ruang rapat utama Adiwangsa Group memancarkan cahaya steril yang dingin, menusuk mata Aruna saat ia membolak-balik dokumen audit. Di seberang meja, Bramantya duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk permukaan meja kayu mahoni secara ritmis—sebuah tanda bahaya yang hanya dipahami Aruna.

"Audit ini tidak sesuai prosedur standar, Bramantya," suara Aruna memecah keheningan, tajam dan penuh otoritas. Ia sengaja membiarkan suaranya bergema agar para auditor—yang disewa secara anonim oleh lawan bisnis—merasakan tekanannya. "Kalian memeriksa aset yang tidak relevan dengan laporan triwulanan. Atas dasar apa properti keluarga saya di Menteng menjadi objek audit kalian?"

Prasetyo, ketua tim auditor sekaligus mantan mitra bisnis yang pernah didepak Bramantya lima tahun lalu, tersenyum tipis. "Kami hanya mengikuti jejak dana, Nyonya Adiwangsa. Ada laporan mengenai pengalihan aset ilegal yang melibatkan nama Anda dan Tuan Bramantya sebelum pernikahan ini diresmikan."

Aruna merasakan denyut di pelipisnya. Ini bukan sekadar audit; ini adalah serangan terkoordinasi untuk mengekspos masa lalu Bramantya di fasilitas rehabilitasi Zurich dan membatalkan akuisisi paksa yang menjadi fondasi kekuasaan mereka. Jika dokumen itu bocor, reputasi Bramantya hancur, dan kursi direksi Aruna akan ikut terseret.

Satu jam kemudian, di kantor hukum privat, Aruna dan Bramantya berhadapan. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan.

"Seseorang tahu tentang masa rehabilitasimu," Aruna memecah kesunyian, suaranya terukur. "Surya. Dia tidak menginginkan uang, Bram. Dia menginginkan kehancuranmu."

Bramantya mengangkat wajah. Tatapan kelabunya tampak lelah, namun tetap menghunus. "Aku tahu. Dia adalah ancaman eksternal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang."

Aruna menarik napas panjang. Ia memiliki kartu as: dokumen akuisisi ilegal yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Bramantya dan merebut kembali kendali penuh atas aset keluarganya. Namun, jika Bramantya jatuh sekarang, Aruna kehilangan perlindungan strategis untuk membalas dendam pada Adrian dan Siska.

"Aku punya bukti akuisisi ilegal yang bisa membalikkan posisi kita di dewan direksi," Aruna berkata pelan, sarat implikasi. "Tapi jika aku menggunakannya, aku akan menghancurkanmu juga."

Bramantya terdiam, lalu mendorong sebuah kunci akses digital ke arah Aruna. "Jika kau ingin menghancurkanku, kau sudah melakukannya sejak hari pertama. Tapi jika kau ingin menang, gunakan ini. Ini adalah akses penuh ke seluruh dokumen pribadiku. Jika kau mengkhianatiku, aku habis. Jika kau melindungiku, kita selamat."

Aruna tertegun. Kerentanan tak terduga dari pria yang selama ini ia anggap sebagai musuh strategis itu membuatnya terpaku.

Saat malam turun, Aruna berdiri di balik pilar marmer lobi kantor. Ia melihat Surya sedang berdebat sengit dengan resepsionis. Di tangannya, ponsel Aruna menampilkan pesan anonim: Serahkan bukti akuisisi properti atau rahasia rehabilitasi Bramantya menjadi santapan media besok pagi.

Bramantya melangkah keluar dari lift pribadi, rahangnya mengeras saat melihat Surya. Aruna melangkah keluar dari bayang-bayang, berdiri tepat di sisi Bramantya. "Tuan Surya sepertinya memiliki banyak hal untuk dikatakan, Bram. Namun, sebelum ia bicara, mungkin dia harus tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini."

Aruna kini berdiri di persimpangan. Menyelamatkan reputasi Bramantya berarti mengubur dendam pribadinya, namun membiarkan musuh menang berarti kehilangan segalanya. Satu langkah salah, dan pernikahan palsu mereka akan terbongkar di hadapan publik yang menunggu kejatuhan mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced