Novel

Chapter 8: Panggung yang Runtuh

Aruna berhasil membalikkan skandal media dengan sandiwara intim yang meyakinkan, sekaligus menjebak Surya dengan bukti audit internal di depan para investor. Kemenangan ini memperkuat posisi Aruna, namun kini ia memegang kendali penuh atas masa depan Bramantya melalui bukti akuisisi ilegal yang ia simpan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggung yang Runtuh

Cahaya lampu meja di ruang kerja Bramantya terasa seperti interogasi. Di hadapan Aruna, dokumen akuisisi PT. Aruna Properti Utama—sebuah pengkhianatan yang dulu menghancurkan keluarganya—kini tampak seperti tumpukan kertas tak berdaya. Aruna membalik halaman terakhir, menemukan catatan tangan Surya, mantan mitra bisnis Bramantya yang kini menjadi ancaman nyata bagi Adiwangsa Group.

"Kau sudah membacanya?" Suara Bramantya memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, kemejanya sedikit kusut, menampakkan sisi yang jarang dilihat publik: seorang pemimpin yang sedang terkepung.

Aruna tidak menoleh. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. "Surya tidak hanya menyerang reputasimu dengan isu rehabilitasi. Dia memegang bukti bahwa akuisisi ini dilakukan melalui pemerasan hukum yang tidak sah. Jika dokumen ini bocor ke media, bukan hanya posisimu yang runtuh, tapi seluruh legitimasi perusahaan yang baru saja kuperjuangkan di dewan direksi."

Bramantya melangkah mendekat, berhenti tepat di samping kursi Aruna. Ia menumpukan tangan di meja, mengurung Aruna dalam ruang geraknya yang dominan. "Aku memberikan akses itu bukan untuk kau simpan sebagai koleksi. Aku memberikannya agar kau tahu siapa musuh kita yang sebenarnya. Jika kau ingin menghancurkanku, lakukan sekarang. Tapi ingat, tanpa payung Adiwangsa, kau tidak akan pernah bisa menyentuh Adrian atau Siska."

Aruna merasakan detak jantungnya berpacu, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin. Ia memegang kunci masa depan pria ini. Namun, sebelum ia sempat membalas, pintu ruang kerja digedor keras.

"Pak, wartawan sudah mengepung lobi. Mereka punya bocoran soal audit rehabilitasi Anda. Mereka menuntut pernyataan sekarang juga!"

Lobi Adiwangsa Group berubah menjadi arena eksekusi. Begitu pintu kaca terbuka, kilatan lampu kamera menyilaukan mata. "Nona Aruna! Benarkah ada klausul cerai dalam kontrak pernikahan Anda?" "Bram, benarkah Anda baru saja keluar dari fasilitas rehabilitasi tertutup?"

Aruna menangkap bayangan Surya di sudut lobi, menatap dengan senyum kemenangan yang tipis. Bramantya di sampingnya menegang, rahangnya mengeras. Jika pria itu meledak di depan kamera, reputasi Adiwangsa akan tamat.

Tanpa peringatan, Aruna melangkah maju, memotong ruang di antara Bramantya dan para wartawan. Ia meraih lengan Bramantya, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan gerakan yang sangat intim. "Suami saya baru saja menyelesaikan serangkaian pemeriksaan kesehatan rutin karena kelelahan bekerja, bukan rehabilitasi. Dan jika ada yang mempertanyakan pernikahan kami, silakan tanyakan langsung pada pengacara kami yang sedang menyiapkan tuntutan hukum atas pencemaran nama baik ini," ucap Aruna dengan nada dingin dan otoritas yang tak terbantahkan.

Media terbungkam. Bramantya, yang terkejut dengan inisiatif Aruna, segera merangkul pinggang wanita itu, mempererat cengkeramannya. "Istri saya benar," suara Bramantya terdengar berat dan protektif, membungkam sisa keraguan.

Di dalam limusin, keheningan terasa mencekam. Aruna melepaskan rangkulan Bramantya. "Kau berutang penjelasan. Mengapa kau membiarkanku mengambil risiko itu?"

Bramantya menoleh, tatapannya tajam namun kini terselip rasa hormat. "Karena aku tahu kau tidak akan membiarkan musuhmu menang. Kita butuh aliansi yang lebih dari sekadar kontrak. Kita butuh saling percaya untuk menjatuhkan Surya."

"Aku akan menjatuhkannya," potong Aruna. Ia mengeluarkan ponselnya, menampilkan data akuisisi ilegal yang kini ia pegang sepenuhnya. "Tapi aku yang akan menjadi eksekutornya. Dan kau, Bramantya, akan membantuku memuluskan jalannya."

Di ballroom Hotel Grand Hyatt, Surya mencoba memprovokasi dengan bukti palsu di depan para investor. Namun, Aruna melangkah maju dengan ketenangan yang mematikan. Ia memproyeksikan dokumen audit internal yang membuktikan bahwa transaksi mencurigakan yang dituduhkan Surya justru berasal dari rekening pribadi pria itu sendiri.

Surya terperangah saat keamanan hotel mendekat atas instruksi Bramantya. Aruna menatap Surya dengan tatapan tajam, menyadari bahwa ia baru saja memenangkan pertempuran ini. Namun, saat ia menoleh ke arah Bramantya, ia menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya: dengan bukti pengkhianatan yang kini ia pegang, Aruna tidak lagi hanya memegang kendali atas dewan direksi, ia memegang hidup Bramantya di tangannya. Pernikahan palsu mereka mungkin terselamatkan dari media, namun kini, Aruna memiliki kekuatan mutlak untuk menghancurkan segalanya jika ia mau.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced