Bayang-Bayang Masa Lalu
Lampu gantung kristal di ruang rapat utama Adiwangsa Group memancarkan cahaya dingin yang steril. Aruna duduk di kursi kulit hitam, punggungnya tegak, menatap deretan direktur yang menatapnya dengan skeptisisme yang nyaris bisa disentuh. Mereka tidak melihat Aruna sebagai mitra strategis; mereka melihatnya sebagai penyusup yang kebetulan memegang kunci brankas rahasia.
"Nona Aruna, posisi ini bukan sekadar gelar kehormatan untuk calon istri CEO," suara Pak Hartono memecah keheningan, sarat dengan nada merendahkan. "Kami meragukan kualifikasi Anda untuk menangani portofolio properti yang sensitif ini. Adiwangsa bukan tempat untuk eksperimen emosional."
Aruna tidak bergeming. Ia membuka folder kulit hitam di hadapannya dengan gerakan lambat yang disengaja. Di sampingnya, Bramantya duduk tegak, tangannya terlipat di atas meja. Pria itu diam, membiarkan Aruna menghadapi serigala-serigala yang dulu membesarkannya. Ia ingin melihat apakah Aruna hanya sekadar pion atau pemain yang memang layak berada di sisinya.
"Kualifikasi saya mungkin baru bagi Anda, Pak Hartono," jawab Aruna, suaranya tenang namun memiliki ketajaman silet. Ia menyodorkan dokumen akuisisi PT. Aruna Properti Utama ke tengah meja. "Tapi, keterlibatan Anda dalam manipulasi data akuisisi ilegal dua tahun lalu adalah fakta yang sudah lama mengendap. Saya rasa, dewan direksi akan lebih tertarik membahas ini daripada mempertanyakan kualifikasi saya."
Ruangan mendadak sunyi. Aruna duduk dengan tenang, menyadari bahwa ia kini memiliki senjata yang bisa menghancurkan Bramantya—dan para direktur ini—kapan saja.
*
Di ballroom Hotel Mulia malam itu, Aruna harus menjaga fasad sebagai istri yang patuh. Namun, di balik senyum tipis yang ia pasang, pikirannya terkunci pada layar ponsel yang tersembunyi di balik tas koplingnya. Sebuah pesan anonim masuk lagi. Foto usang Bramantya di sebuah fasilitas rehabilitasi—tempat yang tak pernah tercatat dalam profil publik sang konglomerat.
"Kau terlalu tegang, Aruna," bisik Bramantya. Ia meraih pinggang Aruna, menariknya lebih dekat hingga aroma parfum kayu cendananya menyelimuti indra penciuman Aruna. "Jika kau ingin mempertahankan posisimu di dewan, kau harus belajar bernapas di tengah sarang ular ini."
Aruna menatap lurus ke arah Pak Hartono yang sedang berbincang dengan investor lain. "Aku tidak tegang karena ular, Bramantya. Aku tegang karena aku mulai menyadari bahwa aku tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang berdiri di sampingku."
Setelah pesta, mereka kembali ke kantor pribadi Bramantya. Aruna melempar amplop cokelat berisi ancaman anonim itu tepat di atas meja. "Ini bukan sekadar lelucon, Bramantya. Seseorang tahu tentang akuisisi ilegal perusahaan keluargaku, dan mereka juga tahu sejarah kelam yang kau sembunyikan."
Bramantya menyesap kopinya, menatap Aruna dengan mata yang menyimpan badai. "Kesepakatan kita adalah aliansi strategis, bukan menjadi tumbal dari rahasia masa laluku."
"Aku punya akses penuh sekarang," Aruna membalas, mencondongkan tubuh. Ia membuka laptopnya, layar menampilkan akses audit yang ia peroleh. "Jika kau tidak jujur tentang siapa pengirim ini, aku akan merilis bukti audit ini ke publik besok pagi. Kita akan hancur bersama, atau kau memberiku kendali penuh atas perlindungan aset properti yang tersisa."
Keesokan paginya, lobi kantor Adiwangsa yang biasanya steril mendadak sesak. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas kusut menerobos masuk, mengabaikan protes resepsionis. Aruna, yang baru saja keluar dari ruang rapat, berhenti melangkah. Di sampingnya, Bramantya menegang, rahangnya mengeras hingga otot di pelipisnya terlihat menonjol.
"Bramantya, kau pikir bisa membuangku begitu saja setelah semua kotoran yang kita bersihkan bersama?" suara pria itu menggema di lobi. Ia adalah mantan mitra bisnis yang memegang kunci rahasia akuisisi ilegal yang menjadi fondasi kekaisaran bisnis Adiwangsa.
Aruna menatap Bramantya. Pria itu tidak segera memanggil keamanan. Keraguannya adalah bukti bahwa ancaman pria ini nyata. Jika rahasia ini bocor, bukan hanya Bramantya yang jatuh, tapi seluruh rencana balas dendam Aruna terhadap keluarga Adrian akan ikut terkubur. Aruna berdiri di sisi Bramantya, namun ia menyimpan bukti akuisisi itu sebagai asuransi terakhir, siap digunakan kapan saja jika aliansi ini mulai merugikannya.