Novel

Chapter 5: Langkah Pertama Menuju Balas Dendam

Aruna berhasil mengamankan kursi dewan direksi dan hak kelola properti melalui ancaman audit terhadap Pak Hartono. Kemenangan ini mempertegas posisinya sebagai mitra strategis Bramantya, namun sebuah ancaman anonim dari masa lalu Bramantya muncul, mengancam stabilitas aliansi mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Langkah Pertama Menuju Balas Dendam

Ruang rapat utama Adiwangsa Group terasa seperti ruang interogasi yang dibalut marmer dan kayu mahoni. Di ujung meja, Pak Hartono membanting remote proyektor ke atas meja, napasnya memburu. Layar di belakangnya masih menampilkan rincian akuisisi paksa PT. Aruna Properti Utama—sebuah noda hitam yang seharusnya terkubur selamanya.

"Ini pemerasan, Aruna," desis Pak Hartono. Suaranya rendah, namun penuh ancaman yang bisa menghancurkan karier siapa pun di Jakarta.

Aruna tidak bergeming. Ia melipat tangannya di atas meja, membiarkan keheningan menyiksa pria tua itu. "Ini bukan pemerasan, Pak. Ini adalah penyesuaian nilai investasi. Saya tidak meminta uang. Saya meminta kursi di dewan direksi dan hak veto atas aset properti yang Anda rampas dari keluarga saya."

Di sampingnya, Bramantya tidak membelanya, namun ia juga tidak menginterupsi. Pria itu hanya mengamati, jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme yang konstan.

"Kau pikir kau bisa mengendalikan perusahaan ini?" tantang Pak Hartono.

"Saya tidak perlu mengendalikannya. Saya hanya perlu memastikan bahwa jika dokumen ini sampai ke tangan auditor eksternal, bukan hanya reputasi Anda yang hancur, tapi seluruh struktur holding Adiwangsa akan runtuh," jawab Aruna dingin. Ia menatap lurus ke mata Pak Hartono. "Pilihannya sederhana: kursi direksi, atau kehancuran publik."

Bramantya akhirnya angkat bicara. "Berikan apa yang dia minta, Ayah. Aruna adalah aset yang lebih berharga daripada skandal yang tidak perlu."

Keputusan itu mengguncang ruangan. Aruna menang, namun ia tahu ia baru saja menukar perisai dengan pedang yang lebih tajam.

Beberapa jam kemudian, di ballroom Grand Hyatt, Aruna melangkah dengan gaun sutra yang terasa seperti zirah. Ia bukan lagi pengantin pengganti yang ketakutan; ia adalah mitra strategis. Adrian, mantan tunangannya, mendekat dengan wajah pucat.

"Aruna? Apa yang kau lakukan di sini bersama Bramantya?" tanya Adrian, suaranya bergetar.

Aruna tidak melepaskan lengan Bramantya. Ia justru merapatkan posisinya, memamerkan akses yang kini ia miliki. "Adrian. Sepertinya audit keuangan yang sedang dijalankan tim Bramantya membuatmu lupa cara menyapa. Omong-omong, proyek Menteng yang kau incar? Aksesmu sudah kucabut. Saya baru saja menandatangani kesepakatan untuk mengalihkan hak kelolanya ke bawah pengawasan saya."

Adrian tertegun, menatap Bramantya yang hanya membalas dengan tatapan dingin. Aruna merasakan kemenangan yang manis, namun tatapan Bramantya yang mengamatinya dari kejauhan terasa seperti peringatan bahwa ia kini berada di bawah pengawasan yang lebih ketat.

Di dalam mobil saat perjalanan pulang, aroma kayu cendana dan kulit mahal terasa menyesakkan. Bramantya memecah keheningan. "Kau sangat menikmati saat kau memojokkan ayahku, bukan?"

Aruna menoleh, keberaniannya mengeras. "Itu kompensasi yang pantas, Bramantya. Jangan berpura-pura kau tidak tahu bahwa aku memegang kendali atas apa yang kau sebut sebagai aliansi."

Bramantya mendekat, menghilangkan jarak hingga napasnya terasa di kulit Aruna. "Kau bukan lagi pion yang bisa kuatur, Aruna. Kau telah menjadi variabel yang berbahaya." Pria itu menatapnya dengan intensitas yang tidak ada dalam kontrak. "Kita tidak lagi bermain peran, Aruna," bisiknya, meninggalkan Aruna dalam ketidakpastian yang mendebarkan.

Saat Aruna hendak membalas, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal: "Aku tahu apa yang kau sembunyikan di balik kontrak itu, Aruna. Dan aku tahu siapa Bramantya sebenarnya." Aruna membeku. Seseorang dari masa lalu Bramantya baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced