Novel

Chapter 4: Skandal yang Menguntungkan

Aruna mengubah skandal reputasi yang menyerangnya menjadi senjata untuk memojokkan Pak Hartono di depan dewan direksi, sekaligus menegaskan posisinya di hadapan Bramantya dengan menuntut akses aset sebagai kompensasi atas kehancuran bisnis keluarganya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Skandal yang Menguntungkan

Layar tablet di meja marmer itu menyala, menampilkan wajah Aruna yang terpampang jelas di samping Bramantya. Judul berita utama di situs gosip ternama Jakarta berteriak: ‘Si Pengantin Pengganti: Benarkah Aruna Menjual Diri Demi Melunasi Utang Keluarga?’ Foto-foto candid mereka saat di Gala Grand Hyatt—saat Bramantya membisikkan sesuatu ke telinga Aruna—kini diputarbalikkan menjadi bukti transaksi kotor.

Aruna tidak berkedip. Ia menyesap teh hijaunya, merasakan aroma melati yang menenangkan di tengah kekacauan reputasi yang baru saja meledak. Di seberang meja, Bramantya berdiri menghadap jendela setinggi langit-langit yang memperlihatkan cakrawala Jakarta. Punggung pria itu tegang, kemejanya yang pas di tubuh tampak seperti zirah yang tidak bisa ditembus.

“Media mulai mencium bau bangkai dari perusahaan keluargamu, Aruna,” suara Bramantya dingin, tanpa menoleh. “Jika skandal ini tidak diredam, Pak Hartono akan menggunakan ini untuk membatalkan audit yang sedang berlangsung. Dia akan menuduhmu sebagai pengalih perhatian yang tidak stabil.”

Aruna meletakkan cangkirnya dengan denting pelan yang presisi. “Justru sebaliknya, Bram. Mereka menuduhku matre, yang berarti publik percaya aku memiliki kendali atas dirimu. Itu adalah posisi tawar yang sempurna.”

Bramantya berbalik, alisnya terangkat. “Kau ingin menggunakan penghinaan ini?”

“Bukan sekadar penghinaan,” Aruna bangkit, berjalan mendekati suaminya dalam kontrak itu. “Ini adalah narasi. Jika dunia melihatku sebagai wanita yang mampu menaklukkan Bramantya Adiwangsa, maka mereka tidak akan berani menyentuh aset yang sedang aku kelola. Aku akan mengubah skandal ini menjadi kampanye amal strategis. Kita akan terlihat seperti pasangan yang sedang merencanakan konsolidasi aset, bukan menjual diri.”

*

Pintu mahoni ruang rapat Adiwangsa Group terbuka tanpa suara, namun ketegangan yang menyambut Aruna terasa seperti hantaman fisik. Di ujung meja panjang, Pak Hartono duduk dengan tatapan yang menguliti harga diri. Di layar proyektor, terpampang tangkapan layar berita skandal pagi ini.

“Seorang istri yang menjadi beban reputasi, Bramantya,” suara Pak Hartono memecah keheningan. “Perusahaan kita bukan tempat penampungan untuk wanita yang gagal mengamankan tunangan pertamanya. Aruna harus mundur dari dewan direksi sebelum harga saham kita anjlok lebih dalam.”

Aruna tidak menunggu Bramantya membela. Ia melangkah maju, merapikan blazer putihnya. “Skandal ini memang tidak menyenangkan, Pak Hartono,” suaranya tenang namun tajam. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan meletakkannya di meja, tepat di depan ayah mertuanya. “Namun, menarik melihat bagaimana dewan begitu peduli pada moralitas, saat aku memegang bukti akuisisi paksa PT. Aruna Properti Utama yang dilakukan melalui jalur ilegal.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Wajah Pak Hartono memucat, lalu berubah merah padam. Aruna tidak bergetar; ia tahu ia memegang kendali. “Jika reputasiku jatuh, maka audit yang selama ini Bramantya jalankan terhadap aset perusahaan akan menjadi konsumsi publik. Saya yakin, para pemegang saham akan lebih tertarik membahas akuisisi paksa ini daripada kehidupan pribadi saya.”

Dewan direksi terdiam. Mereka bertukar pandang dengan gugup. Pak Hartono terpaksa menunduk, mengakui kekalahan telak dalam permainan kekuasaan ini demi menjaga stabilitas harga saham.

*

Kembali ke penthouse, udara terasa lebih berat. Bramantya berdiri di ruang kerjanya, menatap Aruna dengan intensitas yang tidak ada dalam kontrak. Aruna baru saja meletakkan tabletnya di meja mahoni besar setelah menunjukkan data akuisisi yang ia retas.

“Kau sudah melihatnya,” suara Bramantya rendah, tanpa keterkejutan. “Bukti bahwa aku adalah orang yang memutus napas bisnis keluargamu. Aku menunggumu untuk meledak, Aruna.”

Aruna mendekat, menatap pria itu tepat di manik matanya. “Aku tidak di sini untuk meledak. Aku di sini untuk memastikan bahwa jika aku akan menjadi pion dalam permainanmu, aku setidaknya memegang bidak catur yang tepat. Berikan aku akses penuh ke data akuisisi aset-aset properti lain di Jakarta. Sebagai kompensasi atas keterlibatanmu dalam kehancuran bisnis keluargaku, aku menuntut posisi di dewan direksi untuk mengawasi aset-aset itu.”

Bramantya menyadari bahwa Aruna tidak lagi bermain peran sebagai pengantin pengganti yang patuh. Ia adalah pemain baru yang berbahaya. Bramantya melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Aruna bisa mencium aroma tembakau dan jeruk nipis dari jasnya.

“Kita tidak lagi bermain peran, Aruna,” bisiknya, suaranya sarat dengan ancaman sekaligus ketertarikan yang tak terelakkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced