Novel

Chapter 3: Perjanjian di Balik Pintu Tertutup

Aruna menemukan bukti bahwa Bramantya adalah arsitek kehancuran bisnis keluarganya. Ia menggunakan ancaman audit Bramantya terhadap ayahnya sebagai perisai, sambil menyimpan bukti akuisisi sebagai senjata untuk membalikkan keadaan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perjanjian di Balik Pintu Tertutup

Bau parfum mahal dan sisa sampanye masih menggantung di udara penthouse saat pintu utama tertutup rapat, mengunci dunia luar yang baru saja mereka taklukkan. Aruna melepas anting berliannya dengan gerakan kaku, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di belakangnya, Bramantya melonggarkan dasi, sosok predator yang baru saja menyelamatkan posisinya di depan media, namun kini terasa seperti ancaman yang lebih nyata.

"Kinerja yang bagus, Aruna. Mereka percaya sepenuhnya pada sandiwara kita," suara Bramantya memecah keheningan. Dingin, datar, dan penuh otoritas.

Aruna berbalik, menjaga ekspresinya tetap sedatar mungkin. "Itu karena aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kita memiliki kontrak, Bramantya. Aku tidak akan membiarkan reputasiku hancur begitu saja."

Bramantya berjalan mendekat, langkahnya tenang namun menekan. Ia berhenti tepat di depan Aruna, menyerahkan kartu akses elektronik dengan lambang perusahaan Adiwangsa. "Sebagai kompensasi atas kesuksesan malam ini, aku memberimu akses terbatas ke beberapa aset operasional. Anggap ini langkah awal untuk memulihkan posisimu."

Aruna menerima kartu itu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang memuncak. Ini adalah celah yang ia butuhkan. Saat Bramantya beralih ke telepon mendesak dari kolega bisnisnya di ruang tamu, Aruna segera melangkah menuju ruang kerja pria itu. Ruang kerja Bramantya berbau kayu cendana dan ambisi yang dingin. Dengan kunci cadangan yang ia ambil dari meja sekretaris, Aruna membuka laci meja yang terkunci rapat.

Di sana, sebuah map biru tua menarik perhatiannya. Aruna membukanya, dan dunianya seolah berhenti berputar. Rencana Akuisisi Paksa - PT. Aruna Properti Utama. Dokumen itu bukan sekadar catatan bisnis; itu adalah peta jalan penghancuran bisnis keluarganya yang dirancang oleh Adiwangsa Group. Bramantya bukan sekadar penyelamat; dia adalah arsitek kehancuran yang ia coba hindari. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Aruna memotret setiap halaman, menyembunyikan bukti di balik sikap tenangnya tepat saat langkah kaki Bramantya terdengar mendekat.

Ketegangan memuncak saat Ayah Bramantya, Pak Hartono, datang berkunjung. Di ruang makan, Hartono menatap Aruna dengan tajam. "Pernikahan yang mendadak, Aruna. Bramantya tidak pernah membuat keputusan impulsif kecuali ada keuntungan besar. Apa yang sebenarnya kau bawa ke dalam keluarga ini?"

Aruna meletakkan serbetnya dengan tenang. "Saya membawa stabilitas yang dibutuhkan Bramantya untuk memuluskan akuisisi-akuisisi yang ia rencanakan. Bukankah itu yang paling penting dalam transaksi ini?"

Bramantya memotong sebelum ayahnya sempat membalas, meletakkan gelas anggurnya dengan denting keras. "Aruna adalah istriku, Ayah. Dan jika audit yang Ayah tuntut menyentuh aset yang kini menjadi bagian dari kendalinya, maka aku akan memastikan audit itu dimulai dari rekening pribadi Ayah sendiri." Ancaman itu halus namun mematikan. Aruna menyadari, Bramantya melindunginya bukan karena cinta, melainkan karena ambisi yang saling terkait.

Setelah tamu pergi, Aruna menantang Bramantya di ruang kerja. "Kau pikir kau bisa mengendalikan segalanya?" Aruna menatap tajam, menyimpan bukti akuisisi sebagai senjata rahasia. "Bagaimana dengan rekaman audio perselingkuhan Adrian yang bisa menghancurkan reputasi mereka tepat di depan dewan direksi?"

Bramantya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. "Aku sudah tahu tentang rekaman itu, Aruna. Tapi kita bisa menegosiasikan klausul baru jika kau cukup cerdas untuk menggunakannya."

Aruna menatap Bramantya dengan penuh tekad. Ia akan menghancurkan Bramantya dari dalam, tepat saat skandal foto mereka mulai tersebar di media, mengubah permainan ini menjadi perang terbuka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced