Novel

Chapter 2: Zirah Putih di Depan Media

Aruna berhasil melewati debut publik sebagai pasangan Bramantya dengan bantuan ancaman bisnis yang dilontarkan Bramantya kepada Adrian. Namun, kemenangan itu ternoda saat Aruna menemukan bukti di kantor Bramantya bahwa pria itu sebenarnya adalah arsitek kehancuran bisnis keluarganya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Zirah Putih di Depan Media

Cermin di penthouse Bramantya memantulkan sosok yang hampir tidak dikenali Aruna. Gaun sutra putih dengan potongan minimalis itu bukan sekadar pakaian; itu adalah zirah yang dirancang untuk menahan gempuran tatapan orang-orang yang menganggapnya sudah hancur. Di balik kain halus itu, Aruna menyimpan ponsel yang berisi rekaman audio perselingkuhan Adrian dan Siska—senjata yang ia simpan rapat, menunggu waktu yang tepat untuk meledakkan reputasi mereka.

Bramantya berdiri di ambang pintu, kemeja hitamnya yang licin menciptakan kontras tajam. Ia tidak memberikan pujian klise. Sebaliknya, pria itu memeriksa penampilan Aruna seolah sedang mengaudit aset berharga sebelum peluncuran pasar.

"Ingat, Aruna," suara Bramantya rendah, dingin, dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan. "Di ballroom nanti, kelemahan adalah komoditas yang bisa dibeli oleh lawanmu. Jika kau menunjukkan satu saja retakan, mereka akan menghancurkanmu sebelum kau sempat membuka mulut."

Aruna memutar tubuh, menatap pantulan dirinya. "Saya tidak butuh simpati, Bramantya. Saya butuh posisi untuk menyerang balik."

Bramantya melangkah maju, jarak di antara mereka menipis hingga Aruna bisa mencium aroma kayu cendana yang maskulin. Ia meraih tangan Aruna, genggamannya kuat, hampir posesif. "Maka jadilah milikku yang tak tersentuh di depan kamera. Itu cukup untuk memenangkan babak pertama."

Setibanya di Ballroom Hotel Grand Hyatt, lampu sorot media terasa seperti interogasi. Aruna berdiri tegak, lengannya menjadi jangkar yang kokoh namun terasa asing di pinggang Bramantya. Di tengah kerumunan, Adrian muncul dengan angkuh bersama Siska, saudara tirinya yang tampak puas mengenakan gaun yang seharusnya menjadi milik Aruna.

"Aruna?" Adrian berhenti tepat di depan mereka, matanya menyapu penampilan Aruna dengan nada meremehkan. "Aku dengar kau menghilang dari altar. Ternyata kau hanya mencari pelarian yang lebih kaya?"

Siska tertawa kecil, jemarinya bertaut erat dengan lengan Adrian. "Jangan menyalahkannya, Adrian. Aruna selalu tahu caranya menempatkan diri. Meskipun, kurasa Bramantya hanya butuh pajangan untuk mengamankan posisinya. Dia mungkin tidak tahu kalau dia memungut barang sisa."

Aruna merasakan otot di lengannya menegang, namun ia menahan diri. Sebelum ia sempat membalas, Bramantya melangkah maju, memangkas jarak hingga Adrian terpaksa mendongak.

"Keluarga Aruna bukan lagi urusanmu, Adrian," suara Bramantya dingin dan mematikan. "Dan jika kau masih peduli pada sisa-sisa saham yang kau pegang di perusahaan ayahmu, aku sarankan kau segera menjauh sebelum aku memutuskan untuk mengaudit ulang setiap sen investasi yang kau gelapkan bulan lalu."

Adrian tersentak. Wajahnya yang semula memerah karena emosi mendadak pucat pasi. Ia tahu ancaman itu bukan gertakan; Bramantya memiliki wewenang untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Adrian mundur selangkah, napasnya tersengal di bawah tatapan tajam media.

Bramantya tidak berhenti di sana. Ia menarik Aruna lebih dekat, merangkulnya dengan posesif di depan puluhan kamera yang mulai berkedip liar. "Dia tidak memungut barang sisa," ucap Bramantya, suaranya cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. "Dia sedang mengambil alih masa depan yang tidak bisa kau beli dengan uang kecilmu, Adrian."

Aruna menatap Adrian yang kini kehilangan pijakan, menyadari bahwa perlindungan Bramantya memiliki efek sosial yang nyata. Namun, euforia itu hancur saat mereka kembali ke kantor Bramantya. Begitu Bramantya dipanggil keluar untuk urusan mendadak, Aruna membuka laci meja mahoni yang tidak terkunci.

Di dalamnya, ia menemukan map biru tua dengan segel perusahaan properti yang pernah menghancurkan bisnis ayahnya. Matanya membelalak saat melihat tanda tangan yang familiar di bawah klausul akuisisi paksa: Bramantya Adiwangsa. Seluruh skenario balas dendam yang ia susun kini terasa seperti lelucon yang kejam. Ia telah menyerahkan dirinya kepada arsitek utama kehancuran keluarganya sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced