Novel

Chapter 1: Tanda Tangan di Atas Luka

Aruna memergoki perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya tepat sebelum pernikahan. Alih-alih hancur, ia merekam bukti tersebut dan segera menemui Bramantya, seorang pebisnis dingin yang membutuhkan istri untuk syarat warisan. Aruna menegosiasikan kontrak pernikahan yang memberinya akses aset dan perlindungan hukum untuk membalas dendam pada keluarganya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tanda Tangan di Atas Luka

Gaun pengantin sutra putih itu terasa seperti zirah yang terlalu berat, mencekik leher Aruna hingga napasnya terasa tipis. Di depan cermin besar ruang ganti VIP, bayangan dirinya tampak sempurna—seorang pengantin wanita yang tenang, siap melangkah menuju altar untuk mengikat janji dengan Adrian. Namun, suara desah napas dan gesekan kain dari balik pintu yang sedikit terbuka menghancurkan ilusi tersebut.

“Adrian, jangan di sini. Aruna bisa masuk kapan saja,” suara itu milik Siska, saudara tirinya.

“Biarkan dia datang. Dia hanya akses menuju dana perwalian keluarga, bukan wanita yang aku inginkan,” jawab Adrian dengan nada meremehkan. Suara kecupan yang basah terdengar, diikuti tawa rendah Siska yang penuh kemenangan.

Aruna tidak menjerit. Ia tidak melempar vas bunga atau menendang pintu hingga jebol. Sebagai putri dari keluarga yang menempatkan reputasi di atas segalanya, ia tahu satu hal: keributan hanya akan membuatnya tampak seperti wanita malang yang ditinggalkan. Jika ia meledak sekarang, martabatnya akan hancur bersama dengan rencana pernikahan ini, dan ia akan kehilangan kendali atas masa depannya. Dengan tangan yang tidak gemetar, Aruna mengeluarkan ponsel dari balik lipatan gaunnya. Ia menyalakan perekam audio, mendekatkannya ke arah celah pintu, dan membiarkan perangkat itu menangkap setiap kata pengkhianatan yang diucapkan. Setelah merasa cukup, ia berbalik dan melangkah keluar dari gedung itu tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan mereka yang masih terbuai dalam skandal kecil mereka sendiri.

Satu jam kemudian, suasana di kantor hukum di kawasan Sudirman terasa jauh lebih dingin. Ruangan itu berbau kopi hitam pekat dan wewangian kayu cedar yang mahal—aroma khas kekuasaan. Aruna duduk tegak, memastikan jemarinya tidak gemetar saat diletakkannya di atas meja marmer yang dingin. Di hadapannya, Bramantya duduk dengan postur santai namun waspada, seolah sedang mengamati pion yang baru saja masuk ke papan caturnya.

“Ini bukan lamaran, Aruna. Ini transaksi,” ujar Bramantya, suaranya rendah dan datar. Ia mendorong map kulit hitam ke arah Aruna. “Keluargamu sedang di ambang kebangkrutan, dan reputasimu hancur karena skandal yang akan meledak di gedung pernikahan itu. Aku butuh istri untuk memenuhi syarat warisan perusahaan. Kamu butuh perlindungan agar tidak ditendang ke jalanan oleh keluargamu sendiri.”

Aruna tidak langsung membuka map itu. Ia menatap mata Bramantya—sepasang mata abu-abu yang tajam dan tidak memberikan celah bagi simpati. “Anda tidak sedang menawarkan penyelamatan, Bramantya. Anda sedang menawarkan perisai yang bisa Anda tarik kapan saja Anda mau.”

Bramantya menyeringai tipis. “Kamu cukup cerdas untuk menyadarinya. Jadi, apa yang kamu inginkan?”

Aruna membuka map tersebut. Ia mengabaikan pasal-pasal standar tentang kewajiban domestik. Matanya memindai dengan presisi hingga menemukan celah yang ia cari. Ia mengeluarkan pulpen dari tasnya, bukan untuk menandatangani, melainkan untuk menuliskan klausul tambahan di margin dokumen tersebut. “Akses penuh atas audit aset keluarga yang dikelola atas nama saya, dan perlindungan hukum mutlak atas setiap tindakan yang saya ambil untuk memulihkan posisi saya. Jika Anda ingin saya menjadi istri Anda, maka Anda harus membiarkan saya menghancurkan orang-orang yang mencoba menghancurkan saya.”

Bramantya terdiam sejenak. Ia membaca tambahan tersebut, lalu menatap Aruna dengan kilatan ketertarikan yang baru. “Kesepakatan yang menarik, Nyonya Bramantya.”

Ponsel Aruna bergetar hebat di atas meja. Nama ibunya muncul di layar, disusul oleh deretan pesan ancaman dari Adrian. Mereka menuntut Aruna segera kembali, menuntutnya untuk bungkam dan menerima penghinaan demi menjaga kehormatan keluarga. Aruna menatap layar itu sejenak, lalu dengan satu gerakan tenang, ia menekan tombol power hingga layar menghitam.

Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak itu. Bagi Aruna, itu bukan sekadar formalitas, melainkan deklarasi perang terhadap keluarga yang membuangnya. Ia tidak lagi menjadi pion; ia kini adalah mitra strategis yang memegang senjata paling mematikan bagi mereka yang berkhianat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced