Senjata Terakhir
Ruang kerja Arion berbau kayu cendana dan dinginnya AC yang disetel terlalu rendah. Di atas meja mahoni, kunci kuningan kecil tergeletak di samping tumpukan dokumen audit proyek Grand Landmark. Benda itu tampak sepele, namun bagi Elena, kunci itu adalah martir dari seluruh kebohongan yang telah ia telan selama berbulan-bulan. Arion duduk di balik meja, lengan kirinya yang terluka—akibat melindunginya dari massa Adrian beberapa hari lalu—masih dibalut perban putih bersih, kontras dengan kemeja hitamnya. Matanya yang tajam tidak berkedip, menimbang harga yang harus ia bayar untuk mempertahankan aliansi mereka.
"Ayahmu tidak hanya menghancurkan keluargaku, Arion. Dia merancang kebangkrutan itu agar bisa mengakuisisi aset properti kami dengan harga murah pada 2018," suara Elena datar, namun setiap kata terasa seperti irisan belati. Ia tidak lagi mencari simpati. Ia mencari eksekusi. Arion menghela napas, suara yang berat dengan beban yang tidak pernah ia tunjukkan di depan publik. "Aku tahu. Aku menemukan dokumen transfer aset itu tiga tahun lalu. Itu alasan utama mengapa aku harus memegang kendali perusahaan sebelum dia menghapus jejaknya secara permanen."
"Jadi, pernikahan ini hanyalah bagian dari skenario besarmu?" Elena melangkah maju, membiarkan ujung gaunnya menyapu karpet. "Aku bukan sekadar pengantin pengganti. Aku adalah instrumen untuk menyinarkan kejahatan ayahmu di bawah lampu sorot yang paling terang." Arion menatap kunci kuningan itu. "Ambil. Itu kunci brankas fisik yang berisi catatan asli transaksi gelap Baskoro. Jika kau menggunakannya, kau bukan hanya menghancurkan Adrian, kau meruntuhkan seluruh fondasi kekuasaan ayahku. Dan kau akan berdiri di atas reruntuhan itu sendirian."
Elena mengambil kunci itu. Dingin logamnya meresap ke telapak tangannya, sebuah janji pembalasan yang nyata. Ia tidak menjawab, hanya berbalik meninggalkan Arion dengan luka dan pengakuannya.
*
Ruang rapat utama Grand Landmark terasa seperti peti mati yang dilapisi beludru. Elena duduk di ujung meja, punggungnya tegak, gaun sutra hitamnya menjadi kontras tajam dengan lampu gantung kristal. Di hadapannya, Baskoro—pria yang menghancurkan masa depan keluarganya—menatapnya dengan tatapan meremehkan yang kini terasa basi. Di sampingnya, Adrian, mantan tunangannya, tampak pucat dan gelisah memainkan jemarinya di atas tumpukan dokumen audit.
"Elena, kau membuang waktu kita dengan teater ini," suara Baskoro dingin. "Jika kau pikir dokumen curian itu bisa menggoyahkan posisiku di dewan direksi, kau lebih naif daripada yang kubayangkan."
Elena tidak berkedip. Ia membuka map kulit di hadapannya, membiarkan keheningan menggantung cukup lama untuk membuat Adrian berkeringat dingin. Arion duduk di sisi kanan Elena, menopang dagu dengan tangan yang sehat, matanya mengawasi setiap pergerakan Baskoro dengan kewaspadaan predator. Arion tidak membantunya secara fisik, namun kehadirannya adalah dinding beton yang membatasi ruang gerak Baskoro.
"Teater?" Elena tersenyum tipis. "Baskoro, aku tidak datang untuk berakting. Aku datang untuk melakukan audit atas warisan yang kau curi dari keluargaku pada 2018." Ia melempar salinan dokumen dari brankas ke atas meja. Adrian tersentak, wajahnya memucat saat melihat tanda tangannya sendiri tertera di sana. "Adrian, kau mungkin bisa memalsukan laporan keuangan, tapi kau tidak bisa memalsukan jejak digital dari ponsel yang kau tinggalkan di acara gala itu. Pihak berwenang sudah memiliki semuanya."
Suasana ruang rapat berubah drastis. Suara pintu terbuka dengan kasar saat petugas kepolisian memasuki ruangan. Baskoro terpojok, matanya melebar saat menyadari bahwa bukan hanya posisinya yang hilang, tapi kebebasannya. Adrian mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Elena berdiri, menatap mereka dengan ketenangan yang dingin. Bukti terakhir telah ada di tangannya. Ia telah menjatuhkan mereka semua dalam satu malam.
*
Lampu-lampu metropolis di bawah balkon Grand Landmark berpendar seperti hamparan berlian yang dingin. Elena berdiri di sana, membiarkan angin malam menyapu sisa aroma parfum mahal dan debu dokumen yang baru saja ia pelajari. Di tangannya, sebuah flashdisk perak—kunci untuk mengubur dinasti Baskoro—terasa lebih berat dari emas mana pun.
Suara pintu kaca bergeser memecah keheningan. Arion melangkah keluar, lengan kirinya masih terbalut perban. Ia tidak mendekat, menjaga jarak yang seolah dirancang untuk menghormati garis pertahanan yang Elena bangun. "Adrian sudah ditahan. Pengacaranya mencoba mengajukan penangguhan, tapi bukti transaksi ilegal yang kau susun terlalu telak. Dia tidak akan keluar dalam waktu dekat."
Elena menoleh, matanya tajam. "Ini bukan sekadar tentang Adrian, Arion. Ini tentang kebenaran 2018. Ayahmu tidak hanya menghancurkan keluargaku; dia membangun kekaisarannya di atas reruntuhan hidup orang lain."
Arion terdiam, menatap cakrawala. "Aku tahu. Aku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk merencanakan hari di mana aku bisa menarik fondasi itu dari bawah kakinya. Tapi aku tidak menyangka akan melakukannya bersamamu."
"Kita tidak melakukan ini bersama," koreksi Elena dingin. "Aku menggunakanmu untuk mendapatkan akses, dan sekarang kau tidak lagi memiliki kendali atas diriku." Arion melangkah maju, mengabaikan jarak yang Elena buat. "Kontrak kita mungkin sudah berakhir, Elena. Tapi aku tidak pernah berniat melepaskanmu. Aku menawarkan sesuatu yang lebih permanen daripada sekadar kertas kontrak bisnis. Kita adalah predator yang sama sekarang."