Rahasia Warisan Terungkap
Cahaya lampu meja di ruang kerja penthouse Arion berpendar dingin, menyorot tumpukan dokumen yang seharusnya menjadi kunci kemenangan Elena. Namun, di antara lembaran audit proyek Grand Landmark yang kini berada di bawah kendalinya, terselip sebuah catatan tangan dengan kop surat yang ia kenali dengan baik: segel keluarga Baskoro.
Elena menahan napas. Tangannya yang gemetar menyentuh kertas itu. Tahun 2018. Tahun di mana ayahnya dipaksa menandatangani surat likuidasi yang menghancurkan seluruh warisan keluarga mereka dalam semalam. Di sana, tertulis instruksi langsung dari Baskoro, ayah Arion, yang memerintahkan penghancuran sistematis aset tersebut. Arion tidak hanya tahu tentang persaingan bisnis itu; dia telah menjadi saksi bisu—atau mungkin pelaksana—dari kehancuran yang dialami Elena.
Keheningan di dalam penthouse itu terasa mencekik. Arion, pria yang selama beberapa hari terakhir telah melindunginya dengan mempertaruhkan nyawa dan reputasinya, kini berubah menjadi bayang-bayang dari pria yang menghancurkan masa depan ayahnya. Elena merasakan dingin menjalar ke ujung jemarinya, teringat kembali pada luka di lengan kiri Arion yang ia rawat dengan penuh ketulusan kemarin malam.
Suara langkah kaki yang tertatih di lantai marmer memutus lamunannya. Arion masuk ke bridal suite dengan lengan kiri yang masih terbalut perban tebal, kontras dengan setelan jas sutra mahalnya. Aroma antiseptik yang melekat pada tubuhnya mengikis sisa-sisa kemewahan kamar itu, menggantinya dengan realitas brutal yang selama ini mereka sembunyikan. Elena tidak menoleh. Ia tetap berdiri di depan meja konsol, jari-jarinya masih mencengkeram tepi dokumen yang baru saja ia keluarkan dari brankas.
"Kau seharusnya beristirahat, bukan berkeliaran," ujar Elena dingin, suaranya datar namun tajam seperti silet. Ia tidak memutar tubuh, membiarkan Arion melihat punggungnya yang tegang.
Arion mendekat, langkahnya berhenti tepat di belakang Elena. Ia bisa merasakan aura dingin yang memancar dari wanita itu. "Audit Grand Landmark sudah berjalan di bawah kendalimu. Itu cukup untuk membuat Adrian bertekuk lutut. Kita tidak perlu lagi menoleh ke masa lalu, Elena. Fokuslah pada apa yang ada di depan."
Elena akhirnya berbalik. Matanya menghujam Arion, mencari kejujuran di balik wajah pria itu yang selalu tampak tenang. "Apa yang ada di depan, Arion? Atau kau maksud, apa yang sengaja kau tutupi? Dokumen ini tidak berbicara tentang masa depan. Ini berbicara tentang siapa yang menghancurkan ayahku empat tahun lalu."
Arion terdiam. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya pengakuan pahit. Ia melirik ponsel Adrian yang tergeletak di meja, ponsel yang telah Elena gunakan untuk memverifikasi aliran dana ilegal yang menghubungkan Baskoro dengan kehancuran bisnis keluarganya.
"Kau sudah melihat semuanya," suara Arion rendah, hampir seperti bisikan yang sarat beban. "Aku tahu hari ini akan datang, Elena. Tapi aku berharap kau bisa menemukannya dengan cara yang tidak menghancurkan aliansi kita."
"Aliansi?" Elena tertawa sinis. "Kita menandatangani kontrak ini di atas fondasi kebohongan. Kau menggunakan reputasiku sebagai umpan, sementara ayahmu adalah dalang di balik kemiskinan keluargaku. Apakah kau pikir aku akan tetap menjadi pionmu setelah mengetahui bahwa kau adalah pewaris dari pria yang menghancurkan hidupku?"
Arion maju selangkah, mengabaikan nyeri di lengannya. "Aku menikahi dirimu bukan karena aku bangga dengan apa yang dilakukan ayahku. Aku melakukan ini justru untuk membongkar kerajaannya dari dalam. Jika kau membuka dokumen itu ke publik sekarang, bukan hanya ayahku yang akan jatuh. Seluruh aliansi korporat yang melindungimu dari Adrian akan ikut hancur. Kau akan kehilangan perisaimu sebelum musuh utamamu benar-benar tumbang."
Elena menatap map cokelat di atas meja marmer itu—sebuah bom waktu yang siap meledak. Ia menyadari bahwa kontrak pernikahan mereka sudah mati; kini yang tersisa hanyalah perang kepentingan. Arion menantangnya dengan tatapan kelabu yang intens, menunggu apakah Elena akan memilih dendam sesaat atau kemenangan yang lebih besar.
Elena memungut dokumen tersebut, memegangnya erat. Bukti terakhir sudah di tangan. Ia tidak akan lagi menjadi pion. Malam ini, ia tidak hanya akan menjatuhkan Adrian, tapi ia akan memastikan bahwa nama Baskoro akan ikut terseret ke dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.