Perlindungan yang Berharga
Lampu jalanan Jakarta melesat di balik kaca jendela sedan, menciptakan bayangan yang menari di wajah Arion. Lengan kirinya, yang terbalut jas hitam kini kaku oleh bercak darah pekat, bersandar kaku di atas pangkuan. Elena tidak membuang waktu; ia menarik kotak P3K dari bawah kursi, jemarinya bergerak cekatan, menekan rasa gentar demi memastikan pria itu tetap terjaga.
“Jangan mencoba menahanku dengan protokol rumah sakit, Arion,” potong Elena saat pria itu hendak membuka mulut. “Luka ini butuh dijahit, dan aku tidak akan membiarkanmu kehilangan fungsi lengan hanya karena kau ingin menjaga kerahasiaan kunjungan ke klinik.”
Arion menatapnya lekat, matanya yang biasanya dingin kini tampak redup, menahan nyeri yang nyata. “Kau seharusnya fokus pada ponsel itu, Elena. Data di dalamnya adalah tiketmu untuk menghancurkan Adrian, bukan merawatku.”
“Ponsel itu tidak akan lari ke mana pun,” sahut Elena, menarik kain kasa dengan presisi. Ia menekan luka itu, merasakan otot Arion menegang di bawah jemarinya. “Tapi jika kau tumbang sekarang, seluruh rencana audit Grand Landmark yang sudah kubangun akan berantakan. Aku tidak sedang berbaik hati; aku sedang mengamankan asetku.”
Sesampainya di apartemen, suasana berubah menjadi medan pertempuran strategis. Arion duduk di balik meja mahoni, wajahnya pucat namun tatapannya tetap tajam saat menatap layar laptop yang menampilkan pergerakan saham Grand Landmark yang terjun bebas. Dewan direksi telah mengirimkan ultimatum: Arion harus mundur atau mereka akan membekukan aset pribadinya.
Elena meletakkan ponsel Adrian tepat di tengah meja, di atas tumpukan dokumen audit. “Mereka pikir bisa melengserkanmu karena skandal gala itu,” suaranya tenang, penuh dengan ketajaman yang mematikan. “Mereka lupa bahwa aku memegang kunci audit internal yang mereka manipulasi selama tiga tahun terakhir.”
Arion menatap Elena, lalu beralih pada ponsel tersebut. “Kau sadar apa risikonya jika kau mempublikasikan ini? Dewan direksi akan menyerangmu secara pribadi.”
“Biarkan mereka mencoba,” balas Elena, mendekat hingga ia bisa mencium aroma kayu cendana dan obat antiseptik dari tubuh Arion. “Aku sudah tidak memiliki reputasi untuk dipertaruhkan, Arion. Tapi mereka? Mereka punya segalanya untuk kehilangan.”
Di tengah malam yang sunyi, saat Arion memulihkan diri, topeng pragmatis pria itu perlahan retak. “Ayahku selalu mengatakan bahwa kelemahan adalah komoditas yang harus dijual dengan harga mahal,” Arion berbisik, suaranya serak. “Dia tidak pernah membiarkan siapa pun melihatnya terluka. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa jika seseorang melihat sisi manusiamu, mereka akan menghancurkanmu.”
Elena terdiam, menyadari bahwa di balik kontrak dingin mereka, terdapat dua jiwa yang saling terkunci dalam trauma. Namun, saat ia melangkah menuju brankas pribadi Arion untuk mencari data tambahan, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya. Di dalam map biru tua yang tersembunyi, ia menemukan dokumen Proyek Likuidasi Aset Keluarga Utama 2018. Tanda tangan di sana bukan milik Adrian, melainkan milik Baskoro—ayah Arion.
Dunia Elena seakan runtuh. Ia menatap Arion yang berdiri di ambang pintu, pria yang baru saja ia selamatkan, pria yang ternyata adalah pewaris dari kehancuran keluarganya sendiri. Kontrak mereka kini bukan lagi sekadar alat balas dendam, melainkan sebuah bom waktu yang siap meledak di tangan mereka berdua.