Novel

Chapter 7: Tarian di Atas Api

Elena dan Arion berhasil menyusup ke acara gala musuh dan mencuri data krusial dari ponsel Adrian. Meski Arion terluka parah akibat melindungi Elena dari massa, mereka berhasil melarikan diri. Di dalam mobil, Elena merawat luka Arion, menciptakan momen keintiman yang mengubah dinamika hubungan mereka dari sekadar aliansi strategis menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tarian di Atas Api

Lampu kristal di lobi Hotel Bintang Lima itu terasa seperti ribuan mata yang menelanjangi. Elena merapatkan jemarinya pada lengan Arion, merasakan tekstur jas pria itu yang kaku, namun sedikit lembap di bawah telapak tangannya. Arion berjalan dengan langkah tegap, namun Elena merasakan otot pria itu bergetar halus setiap kali mereka melangkah di atas karpet merah.

"Jangan menoleh," bisik Arion, suaranya sedingin es. "Kamera wartawan di sisi kiri sudah menunggu celah untuk menjatuhkan kita."

Elena melirik sekilas ke arah lengan kiri Arion yang tersembunyi di balik jas mahalnya. Noda gelap—lebih pekat dari warna kainnya—mulai merembes perlahan. Itu adalah harga dari perlindungan yang Arion berikan saat massa pendukung Adrian menyerbu mereka di luar gedung tadi. Arion tidak hanya mempertaruhkan nyawa, ia mempertaruhkan kursi direksinya; jika publik melihat pemimpin korporat berdarah karena skandal, saham keluarga mereka akan terjun bebas.

"Kau tidak bisa terus berjalan seperti ini," bisik Elena, matanya menyapu kerumunan elit yang menatap mereka dengan tatapan predator. "Jika kau pingsan di sini, semua aset yang kita perjuangkan akan jatuh kembali ke tangan Baskoro."

Arion menatapnya tajam. "Lalu apa rencanamu? Kita tidak punya waktu untuk drama medis. Kita harus masuk ke ballroom dan memastikan Adrian melihat kita sebagai pemenang, bukan korban."

Elena menarik napas panjang, menelan rasa cemasnya. Ia merangkul lengan Arion yang terluka dengan lebih erat, menggunakan gestur intim sebagai perisai untuk menyembunyikan kondisi pria itu dari sorotan media. "Kalau begitu, berdirilah tegak. Biarkan mereka melihat bahwa aku adalah pendamping yang tidak akan pernah goyah."

Di dalam ballroom, suasana berubah menjadi medan perang yang sunyi. Elena dan Arion meluncur ke lantai dansa saat irama musik orkestra mulai mengalun. Di depan mereka, Pak Baskoro berdiri bersama Adrian, wajah mereka mengeras saat melihat pasangan yang seharusnya sudah hancur itu justru tampil mendominasi.

"Adrian melihat ke sini," Elena berbisik, kepalanya sedikit condong ke bahu Arion. "Dia tidak tahu bahwa akses operasional ke Grand Landmark sudah kupindahkan ke audit internal."

Arion memimpin dengan gerakan tegas, tangan kanannya menekan punggung Elena dengan posesif yang cukup untuk membuat para sosialita berbisik, namun cukup lembut untuk tidak menyakiti Elena. "Bagus. Saat dia lengah, ambil ponselnya. Kita butuh bukti transaksinya malam ini."

Elena menari dengan presisi mematikan. Saat mereka berputar, ia memanfaatkan kedekatan fisik mereka untuk menjangkau saku jas Adrian yang sedang melintas di dekat mereka. Dalam satu gerakan halus, ponsel itu berpindah tangan. Elena merasakan detak jantungnya berpacu, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin balas dendam. Ia berhasil menyalin data tersebut tepat saat Arion berbisik, "Kita harus pergi. Keamanan mulai mencurigai kita."

"Belum," tolak Elena. "Aku butuh satu lagi—kode akses brankas digitalnya."

"Elena, cukup!" Arion menekan lengannya, wajahnya sepucat kertas. "Mereka sudah bergerak. Kita harus keluar dari sini sekarang."

Pelarian mereka melalui pintu belakang gedung gala terasa seperti adegan film yang kacau. Di lorong servis yang berbau pembersih lantai, Elena menarik napas pendek, jemarinya mencengkeram ponsel curian itu. Di sampingnya, Arion terhuyung. Pria itu menekan lengan kirinya, dan meski setelan jas mahalnya tampak sempurna, noda darah kini telah merembes membasahi kemeja putihnya.

"Kamu terluka parah," desis Elena saat mereka berhasil mencapai mobil sedan hitam yang menunggu di sudut gelap. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam kabin terasa sesak, terkunci rapat oleh hujan yang menghantam atap mobil.

Elena tidak membuang waktu. Ia meraih kotak P3K di kompartemen bawah, tangannya bergerak gesit membuka kancing kemeja pria itu. Saat kain itu tersingkap, Elena membeku. Luka sayatan di lengan Arion dalam dan kasar—bekas hantaman benda tajam saat mereka menerobos blokade.

Arion meringis saat Elena membersihkan lukanya dengan antiseptik. Pria itu menatap Elena dengan intensitas yang tak terduga, menembus pertahanan diri yang selama ini Elena bangun. "Mengapa kau melakukan ini?" tanya Elena lirih, jemarinya gemetar saat membalut luka itu. "Kau bisa saja membiarkanku tertangkap tadi."

Arion tidak menjawab, ia hanya menatap Elena dengan tatapan yang membakar, seolah-olah ia baru saja menyadari bahwa Elena bukan lagi sekadar alat dalam permainannya, melainkan seseorang yang ia butuhkan. Dalam keheningan mobil yang melaju membelah hujan, Elena menyadari bahwa pria di balik topeng dingin itu mulai runtuh, dan bahaya yang mereka hadapi kini jauh lebih besar daripada sekadar musuh di luar sana.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced