Novel

Chapter 6: Skandal yang Mengikat

Elena memutarbalikkan skandal foto masa lalu yang disebarkan musuhnya dengan bantuan Arion, mengubah narasi publik menjadi bukti otoritasnya. Arion terluka saat melindunginya dari massa, memicu pergeseran dinamika dari aliansi strategis menuju keterikatan emosional yang lebih dalam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Skandal yang Mengikat

Layar ponsel Elena berkedip di atas meja mahoni ruang kerja Arion, menampilkan notifikasi yang merobek ketenangan sore. Sebuah situs gosip elit baru saja mengunggah foto masa lalunya—potongan gambar buram dari pesta amal lima tahun lalu yang dimanipulasi agar terlihat seolah-olah ia sedang melakukan transaksi ilegal dengan seorang bandar judi.

"Mereka berusaha membunuh kredibilitasmu sebelum rapat dewan besok, Nona Elena," ujar asisten Arion, suaranya datar namun sarat peringatan. "Foto itu disebarkan melalui server internal perusahaan. Seseorang di dalam tim Arion sengaja membocorkannya."

Elena menatap dokumen aset yang baru saja ia sita dari Adrian. Kertas-kertas itu adalah bukti nyata bahwa ia bukan lagi pion yang bisa dimainkan, melainkan pemegang kendali atas operasional proyek yang selama ini menghidupi musuh-musuhnya. Jika ia membiarkan skandal ini berkembang, legitimasi atas aset tersebut akan dipertanyakan oleh dewan direksi. Namun, jika ia panik, ia akan terlihat bersalah.

"Siapa yang memiliki akses ke server internal ini selain Arion?" tanya Elena, suaranya sedingin es. Ia tidak menoleh, matanya terpaku pada angka-angka kerugian yang kini ia kendalikan.

"Hanya lingkaran dalam keluarga Baskoro dan beberapa orang kepercayaan Arion. Ini adalah jebakan, Nona."

Elena menarik napas panjang, merapikan letak blazer-nya. "Bagus. Jika mereka ingin bermain kotor di dalam rumah ini, aku akan memastikan mereka yang tersapu oleh debu yang mereka buat sendiri."

*

Lampu sorot kamera menyambar di lobi utama kantor pusat Arion. Di layar besar di belakang podium, foto manipulasi Elena terpampang nyata. Namun, ketika Arion melangkah maju, ia tidak membiarkan Elena tenggelam dalam kebisingan. Pria itu meraih tangan Elena dengan genggaman yang tegas dan posesif, sebuah pernyataan kepemilikan strategis.

"Foto ini tidak lebih dari sekadar editan amatir yang disebarkan oleh seseorang yang takut kehilangan akses pendanaan," suara Arion bergema, tenang namun mematikan. Ia menatap tajam ke arah kamera, lalu menoleh pada Elena. "Istri saya tidak sedang diselidiki. Justru sebaliknya, dia adalah orang yang kini memegang otoritas penuh atas audit proyek Grand Landmark. Jika ada pihak yang merasa terancam dengan integritasnya, silakan ajukan keberatan secara hukum, bukan melalui situs gosip murahan."

Elena mengambil alih mikrofon. Ia tidak tampak gemetar. "Saya mengerti mengapa foto ini muncul sekarang. Ketika akses finansial diputus, kepanikan adalah reaksi yang wajar. Namun, bagi para investor, saya menyarankan untuk melihat laporan audit yang akan saya rilis besok pagi. Itu akan jauh lebih menarik daripada cerita fiksi ini."

Sorak-sorai wartawan berubah menjadi gumaman kekaguman. Arion tidak hanya membela, ia memberikan otoritas. Dinamika kekuasaan telah bergeser; Elena bukan lagi wanita yang bisa difitnah.

*

Di Grand Ballroom Hotel Adiwangsa, gaun sutra Elena tampak seperti baju zirah. Arion berdiri di sampingnya dengan postur kaku yang intimidatif, tangannya menggenggam pinggang Elena—sebuah barikade fisik di hadapan para tamu elit.

"Lihat siapa yang datang," gumam Adrian, suaranya tajam dengan sisa-sisa arogansi yang retak. Ia melangkah mendekat bersama Pak Baskoro. "Elena, kau terlalu percaya diri setelah memblokir akses dana proyek. Kau lupa bahwa di dunia ini, status lebih berharga daripada bukti palsu."

Elena menyesap sampanye, matanya menatap Adrian dengan ketenangan yang menghancurkan. "Status yang kau banggakan itu dibangun di atas dana yang kini berada di bawah otoritas auditku, Adrian. Kau sedang berhadapan dengan orang yang memegang kunci brankas tempatmu menyimpan sisa-sisa harga dirimu."

Pak Baskoro mendengus. "Arion, kau membiarkan pionmu bertindak terlalu jauh. Ini bisa menghancurkan reputasi perusahaan keluarga."

Arion tertawa dingin. "Pion? Dia adalah mitra yang memegang kendali atas masa depan keuangan kalian. Jika kalian tidak bisa bersikap sopan, pintu keluar ada di sana."

*

Saat mereka meninggalkan gala, kerumunan pendukung Adrian yang marah mencoba memblokir jalan. Arion menarik Elena ke dalam limusin, namun sebuah pecahan kaca dari botol yang dilempar massa mengenai lengan Arion.

Di dalam mobil, Elena segera meraih kotak P3K. Tangannya gemetar saat membuka kemeja Arion yang bersimbah darah. "Kau tidak seharusnya melakukan itu," bisik Elena, suaranya serak.

Arion menatapnya lekat, matanya yang dingin kini menyimpan sesuatu yang lebih dalam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh aset yang paling berharga bagiku, Elena."

Elena terdiam. Ia menyadari bahwa perlindungan ini melampaui kontrak bisnis. Saat ia membalut luka di lengan Arion, ia merasakan tarikan emosional yang jauh lebih berbahaya daripada skandal mana pun yang pernah ia hadapi.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced