Novel

Chapter 2: Sandiwara di Depan Kamera

Klara menghadapi sorotan publik dan konfrontasi keluarga di ballroom, di mana Adrian memberikan perlindungan tak terduga untuk menjaga reputasi mereka. Klara menegaskan posisinya sebagai mitra strategis, bukan pion, melalui negosiasi kontrak yang tajam di tengah tekanan media.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sandiwara di Depan Kamera

Lantai marmer Ballroom Hotel Grand Nusantara terasa dingin, menembus sol stiletto Klara. Di sampingnya, Adrian melangkah dengan presisi seorang eksekutor. Ia tidak menggandeng Klara; ia mengunci lengannya, menciptakan jarak yang cukup untuk menunjukkan kepemilikan, namun cukup rapat untuk menekan Klara agar tetap dalam orbitnya.

"Ingat, Klara," bisik Adrian. Suaranya rendah, sebuah perintah yang dibungkus formalitas. "Dunia tidak peduli siapa yang berdiri di altar, selama mereka melihat apa yang mereka harapkan. Tersenyumlah. Kau sedang memerankan peran paling berharga dalam hidupmu."

Klara tidak menoleh. Ia menatap lurus ke arah kerumunan elit yang haus skandal. Di barisan depan, Dion membeku. Wajah pria itu yang biasanya angkuh kini pucat pasi, matanya terpaku pada gaun putih yang seharusnya dikenakan Maya. Di sampingnya, Maya tampak gemetar, cengkeramannya pada lengan Dion mengencang hingga buku jarinya memutih. Klara merasakan kepuasan dingin merayap di dadanya. Kalian pikir aku akan hancur? Aku justru sedang membangun panggung di atas reruntuhan kalian.

"Klara?" Suara melengking memecah lamunannya. Tante Siska, wanita dengan perhiasan yang terlalu berat untuk lehernya, mencegat mereka. Ia memindai Klara dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang menghina. "Kami mendengar kabar burung tentang Maya. Sungguh memalukan. Tapi, kurasa kau memang selalu menjadi cadangan yang tepat untuk situasi darurat, bukan?"

Klara merasakan otot rahangnya menegang, namun sebelum ia sempat membalas, tangan Adrian mendarat di pinggangnya. Bukan sentuhan lembut, melainkan cengkeraman posesif yang menarik Klara hingga bahunya menempel pada dada bidang pria itu. Suhu di sekitar meja VIP seolah anjlok.

"Cadangan?" Adrian mengulang kata itu, nadanya datar namun mematikan. Ia menoleh, menatap Tante Siska dengan tatapan predator yang membuat wanita itu mundur selangkah. "Klara bukan cadangan. Dia adalah satu-satunya wanita yang cukup berani untuk berdiri di sisiku hari ini. Jika Anda merasa reputasi keluarga lebih penting daripada martabat istri saya, mungkin Anda bisa meninggalkan ballroom ini sebelum saya memastikan perusahaan Anda tidak lagi memiliki tempat dalam portofolio investasi saya."

Siska terperangah, wajahnya memerah padam sebelum ia bergegas pergi. Klara menatap Adrian, bingung sekaligus waspada. Perlindungan ini bukan kasih sayang; ini adalah pemeliharaan aset.

Di ruang tunggu VIP, Adrian berdiri di dekat jendela, bayangannya memanjang di lantai marmer. "Kau tampil meyakinkan tadi," ucapnya tanpa berbalik. "Hampir saja aku percaya kau benar-benar pengantin yang kuinginkan."

Klara merapikan gaunnya, menegakkan punggung. "Sandiwara ini akan berjalan lebih baik jika kau berhenti bersikap seolah aku adalah pion. Aku sudah menyisipkan klausul kompensasi aset dalam kontrak kita. Kau belum menandatanganinya secara resmi."

Adrian berbalik, matanya mengunci tatapan Klara dengan kilatan gelap. "Kau cukup berani menuntut kompensasi saat keluargamu sendiri sedang berada di ujung tanduk. Apa kau pikir aku sebodoh itu?"

"Aku bukan barang yang kau pungut," Klara melangkah maju, memperpendek jarak. Ia harus menegaskan batas kekuasaannya. "Aku adalah mitra yang memastikan reputasimu selamat dari skandal. Bayar harganya, atau aku berhenti menjadi pengantinmu detik ini juga."

Adrian menatapnya dengan ketertarikan baru yang berbahaya, namun sebelum perdebatan itu mencapai titik didih, pintu terbuka. Media massa telah menunggu di luar. Mereka dikerumuni kilatan lampu kamera yang menyilaukan.

"Mereka menunggu pertunjukan yang lebih panas," bisik Adrian. Sebelum Klara sempat merespons, Adrian menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel rapat. Pria itu menangkup wajah Klara dan mendaratkan ciuman yang terlihat sangat intim di mata publik. Klara memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang berpacu di bawah tekanan. Lensa kamera berkedip, menangkap ciuman paksa yang akan mengubah hidup Klara selamanya. Di sela ciuman itu, Klara berbisik lirih namun tegas, "Ini baru awal, Adrian. Aku tidak akan menjadi pionmu tanpa bayaran yang setimpal."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced