Kontrak dengan Duri
Pintu mahoni ruang kerja VVIP di Hotel Grand Nusantara tertutup dengan dentuman yang memutus kebisingan ballroom. Di luar, desas-desus tentang pengantin yang tertukar masih mengambang di udara, namun di sini, atmosfernya jauh lebih pekat. Adrian berdiri membelakangi pintu, menatap cakrawala Jakarta yang berkilauan.
Langkah kaki terburu-buru Dion dan Maya terdengar di balik pintu, disusul ketukan kasar. "Ini lelucon, Adrian!" suara Dion memekik dari balik kayu tebal. "Klara bukan mitra yang sepadan. Dia hanya alat yang digunakan keluarganya karena Maya tidak bisa hadir!"
Klara berdiri tegak di tengah ruangan, merapikan gaun sutra putihnya yang kini terasa seperti zirah. Ia tidak menoleh pada pintu. Tatapannya terkunci pada punggung Adrian. Ia tahu, di ruangan ini, satu-satunya orang yang memegang kendali adalah pria yang baru saja ia nikahi secara kontrak. Maya melangkah maju, wajahnya pucat pasi, matanya menatap Klara dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan. "Klara, jangan gila. Adrian hanya akan membuangmu begitu skandal ini reda."
Adrian akhirnya berbalik. Tatapannya dingin, seperti kaca yang tidak memantulkan apa pun. Ia berjalan melewati mereka seolah-olah mereka hanyalah perabot yang tidak relevan, lalu mengunci pintu ruang kerja itu, meninggalkan pasangan itu dalam kebingungan di sisi lain pintu. Keheningan yang tercipta di dalam ruangan terasa menekan.
"Kau berani mengabaikan mereka seperti itu?" tanya Klara, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.
"Mereka tidak penting," jawab Adrian singkat. Ia duduk di balik meja mahoni, menatap Klara dengan pandangan yang sulit dibaca. "Sekarang, katakan padaku, apa yang membuatmu begitu yakin bisa menuntut lebih dari sekadar perlindungan reputasi?"
Klara tidak membuang waktu. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja. "Keluargaku mungkin butuh uangmu untuk menambal kebangkrutan yang disebabkan oleh ulah adikku dan Dion. Tapi aku bukan pion yang bisa kau gunakan secara gratis. Aku butuh akses penuh ke audit keuangan perusahaan ayahku yang terhubung dengan investasi keluargamu. Sekarang."
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, bibirnya membentuk garis tipis. "Kau meminta akses ke dokumen yang bisa menghancurkan reputasi keluarga besarmu sendiri. Apa kau sadar konsekuensinya? Sekali kau memegang data itu, kau tidak hanya menjadi istriku, kau menjadi ancaman bagi semua orang yang kau kenal."
"Itulah gunanya kontrak ini, Adrian," balas Klara. "Aku tahu tentang ancaman pihak ketiga yang mengincar warisanmu. Aku tahu kau membutuhkan seseorang yang bisa menavigasi skandal ini tanpa terlihat panik. Tapi aku tidak akan menjadi pion yang kau korbankan saat musuhmu mulai menyerang."
Adrian terdiam, matanya menyipit saat menatap Klara. Tatapan itu bukan lagi tatapan meremehkan yang ia berikan pada pengantin pengganti, melainkan pengakuan akan ancaman yang memikat. Dengan gerakan lambat, ia meraih tablet di atas meja dan mengetikkan serangkaian kode akses, lalu menyodorkannya ke arah Klara. "Ini akses terbatas. Bukti pertama tentang kebusukan finansial yang kau cari. Tapi ingat, Klara, setiap langkah yang kau ambil adalah langkah yang akan menyeretmu lebih dalam ke dalam permainanku."
Klara menatap layar tablet itu—deretan angka dan transaksi mencurigakan yang membuktikan pengkhianatan keluarganya—dan merasakan kemenangan pahit di tenggorokannya. Ia tahu posisinya telah berubah. Ia bukan lagi tawanan keadaan, melainkan pemain yang memegang senjata.
Saat ia keluar dari ruang kerja, ia berpapasan kembali dengan Dion dan Maya di koridor marmer. Dion segera mencegatnya dengan tatapan merendahkan. "Jangan bermimpi, Klara. Adrian tidak akan pernah melihatmu lebih dari sekadar pengisi posisi kosong. Begitu skandal ini mereda, dia akan mencampakkanmu seperti sampah."
Klara berhenti. Ia tidak menunduk. Ia menatap mereka berdua dengan senyum yang paling mematikan. Ia menyodorkan dokumen kontrak baru yang telah ia revisi di hadapan mereka, suaranya dingin dan penuh otoritas. "Aku tidak akan menjadi pionmu tanpa bayaran yang setimpal. Dan percayalah, Dion, setelah hari ini, kalianlah yang akan menjadi sampah yang segera dibuang dari papan catur ini."