Novel

Chapter 1: Gaun yang Terlalu Sempit

Klara memergoki tunangannya berselingkuh dengan adiknya, namun ia dipaksa menggantikan adiknya dalam pertunangan dengan Adrian untuk menyelamatkan keuangan keluarga. Klara mengubah situasi dengan menegosiasikan klausul kontrak yang menguntungkan posisinya, memicu ketegangan yang lebih dalam dengan Adrian saat mereka melangkah menuju publik.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gaun yang Terlalu Sempit

Suara denting gelas kristal dari ballroom hotel bintang lima itu terdengar seperti lonceng eksekusi bagi Klara. Di balik pintu kayu ek ruang ganti yang sedikit terbuka, ia tidak menemukan Dion—tunangannya—sedang bersiap untuk janji suci mereka. Ia justru menemukan pemandangan yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya: Dion sedang mencumbu adiknya, Maya, dengan intensitas yang tak pernah ditunjukkan pria itu padanya selama tiga tahun hubungan mereka.

"Keluarga tidak akan tahu selama aku memegang kontrak ini," bisik Dion, suaranya rendah dan penuh ambisi. "Klara hanyalah pion untuk mengamankan aset ayahmu. Begitu kita menikah dan aku menguasai perusahaan, kita bisa menyingkirkannya dengan mudah."

Klara mematung di balik tirai sutra. Rasa sakit yang tajam menghujam dadanya, namun ia menolak untuk terisak. Ia justru merasakan sesuatu yang dingin dan keras tumbuh di dalam dirinya. Ini bukan sekadar pengkhianatan; ini adalah skenario yang sudah direncanakan untuk membuangnya ke jalanan. Sebelum ia sempat melangkah maju untuk membalas, pintu ruang ganti terbuka lebar. Ibu Klara berdiri di sana, wajahnya pucat pasi, matanya berkilat penuh kepanikan yang egois. Ia menarik lengan Klara dengan kasar ke sudut koridor yang sepi.

"Maya kabur," desis sang ibu, tanpa basa-basi. "Dia tidak mau menikah dengan Adrian. Jika pertunangan ini batal, keluarga kita bangkrut dalam semalam. Utang medis ayahmu yang tersisa di rumah sakit itu akan ditagih hari ini juga jika kau tidak menggantikannya."

Klara menatap ibunya dengan tatapan datar yang membuat wanita itu mundur selangkah. "Jadi, aku harus menjadi tumbal untuk kesalahan kalian?"

"Kau harus menjadi penyelamat keluarga ini, Klara!" Ibunya menyodorkan gaun pengantin putih yang seharusnya dikenakan Maya. "Kenakan ini sekarang, atau lihat rumah kita disita sebelum matahari terbenam."

Klara menatap gaun itu. Ia tidak memiliki pilihan, namun ia memiliki harga. Ia mengganti pakaiannya dengan gerakan mekanis, menekan rasa hancurnya menjadi ketajaman mental. Saat ia melangkah masuk ke ruang tunggu VIP, Adrian sudah menunggunya. Pria itu tampak seperti patung es yang dibentuk dari setelan jas desainer kelas atas; dingin, tak tersentuh, dan mematikan. Ia tidak menatap Klara dengan simpati, melainkan dengan kalkulasi seorang pebisnis yang sedang memeriksa barang rusak.

"Tanda tangani, Klara. Jangan membuat kami malu lebih lama lagi," suara ayahnya terdengar dari balik pintu.

Adrian meletakkan dokumen kontrak di atas meja marmer. "Kau tahu apa yang terjadi jika kau menolak? Keluargamu akan hancur dalam hitungan jam. Dan kau? Kau akan menjadi pion tanpa pelindung di kota yang tidak mengenal belas kasihan."

Klara mengambil pena. Ia tidak lagi melihat ini sebagai pernikahan, melainkan sebuah transaksi yang harus ia menangkan. "Aku akan menandatanganinya, Adrian. Namun, aku menambahkan satu klausul: setiap aset yang menjadi hak Maya dalam kontrak ini akan dialihkan kepadaku sebagai kompensasi atas kerugian reputasi yang kalian timpakan padaku hari ini. Jika tidak, aku akan berjalan keluar dari pintu ini dan membiarkan pertunangan ini batal secara publik sekarang juga."

Adrian tertegun. Matanya menyipit, menatap Klara dengan intensitas yang baru. Ia tidak menduga pion yang ia anggap rusak ini memiliki taring. Setelah jeda yang terasa seperti selamanya, Adrian mengangguk tipis. "Kesepakatan yang menarik. Kau punya nyali, Klara."

Saat mereka berjalan menuju altar, lampu kristal ballroom memantul tajam di lantai marmer, menciptakan silau yang menyakitkan. Ratusan pasang mata dari kalangan elit menunggu di sana. Adrian melangkah mendekat, aroma kayu cendana yang tajam menyeruak. Ia tidak menawarkan lengan untuk dirangkul, melainkan menatap Klara dengan sorot mata yang mengukur.

"Kau tampak gemetar, Klara," ucap Adrian rendah. Suaranya datar, namun ada nada intimidasi yang sengaja ditekankan. "Jika kau berniat untuk pingsan dan merusak pertunjukan ini, lakukan sekarang sebelum kita melangkah ke depan kamera."

Klara mengangkat dagunya, menatap lurus ke depan tanpa gentar. Ia merasakan detak jantungnya yang kencang, namun ia menguasainya. Adrian menatap Klara dengan dingin dan berbisik, "Jika kau ingin bertahan di sini, jangan pernah tunjukkan rasa takutmu."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced