Novel

Chapter 10: Kembalinya Sang Anomali

Raka berhasil turun dari lantai terlarang dengan mech MSK-7A yang kritis, membawa data rahasia yang mengungkap korupsi klan elit dan rahasia inti Menara. Di tengah kerumunan climber lantai utama, dia menghadapi pengejaran pasukan Damar Veylan. Dengan modul prototipe, Raka menonaktifkan sensor pelacak dan berhasil mencapai pusat keramaian, di mana status 'Anomali' miliknya menarik perhatian publik. Damar turun ke arena untuk menghadapi Raka secara terbuka, mencoba mendiskreditkan dengan bukti palsu, namun Raka membalas dengan data asli yang menurunkan peringkat Damar dan menaikkan reputasinya. Dewan kota terpaksa mengakui Raka sebagai climber resmi, namun di balik pengakuan itu, ancaman tim eksekusi rahasia mulai mengintai. Raka mengirim pesan rahasia kepada Naya, menyiapkan langkah selanjutnya. Bab ini berakhir dengan Raka menjadi simbol perlawanan dan ancaman baru dari Damar yang menyiapkan senjata rahasia, membuka babak baru pertarungan di Menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kembalinya Sang Anomali

Raka menekan tuas kemudi mech MSK-7A yang bergetar hebat, asap hitam membumbung dari sela-sela pelat luar. “Sensor pelacak aktif! Damar menghitung waktu,” desahnya, suara mech bergemuruh parah. Di layar kecil konsol, angka detik mundur berwarna merah menyala. Dia menarik napas dalam—modul prototipe harus bekerja sekarang, atau semuanya akan berakhir.

Tangan Raka menari cepat di panel kontrol, menyalakan fitur kamuflase elektromagnetik. Seketika, layar radar menunjukkan garis merah bergerak mundur, lalu... hilang. “Sensor mereka buta hitam untuk lima menit,” bisiknya penuh harap. Tapi getaran mech makin tak terkendali, tanda kerusakan makin parah. Dari kejauhan, suara sirene dan derap langkah pasukan Damar makin dekat.

“Jangan sampai aku tertangkap,” pikir Raka, matanya terpaku pada lorong terbuka yang mengarah ke lantai utama. Mech yang hampir mati itu bergetar keras saat dia memacu mesin kecepatan maksimum. Detik demi detik terasa seperti detik terakhir. Ketika dia menjejakkan kaki di pusat keramaian lantai utama, layar peringkat tiba-tiba menyala. Nama "Anomali" dengan status merah menyala memancarkan aura berbeda. Mata warga dan kamera media langsung tertuju padanya, sorotan tajam yang menandai awal badai baru yang akan datang.

Getaran mech semakin parah, sementara layar monitor di dalam kokpit berkedip-kedip menampilkan peringatan sistem kritis. Raka mengenggam tuas kendali dengan tangan gemetar, berusaha menyeimbangkan antara bertahan dan melangkah maju. Kerumunan climber yang tadinya acuh mulai menatap dengan penuh tanda tanya dan kekaguman. Status 'Anomali' bukan lagi sekadar label—itu adalah simbol perlawanan yang mulai menyala di tengah hiruk-pikuk Menara.

Tak lama kemudian, langkah berat menghantam lantai. Damar Veylan muncul di depan arena bersama pasukan lengkap klannya, wajahnya keras dan mata menyala penuh amarah. “Raka, kau pikir bisa terus menipu kita di depan semua orang?” suaranya menggema ke seluruh lapangan, membuat kerumunan yang tadinya riuh langsung hening.

Di belakang Damar, layar besar menampilkan fragmen video lama yang disunting—usaha cepat tim Damar menanamkan keraguan tentang integritas Raka. Namun Raka berdiri tegap di panggung kecil, tangan kanannya memegang tablet yang terus memancarkan data log tempur dan rekaman audio asli dari pertarungan sebelumnya.

"Ini bukan ilusi, Damar. Semua ini terekam jelas. Korupsi dan manipulasi klanmu sudah terekam di jaringan internal kalian sendiri," katanya, suaranya tegas walau tubuhnya sedikit gemetar karena tekanan. Kerumunan mulai berbisik, beberapa mengarahkan ponsel ke layar, menyiarkan ulang bukti itu secara langsung.

Damar menggedor meja, wajahnya merah padam. “Kalian percaya pada pembual ini?!” serunya, tapi keraguan mulai merayapi sorot mata penonton. Layar peringkat di sudut atas berubah cepat—angka Damar anjlok drastis, sementara nama Raka melonjak ke posisi teratas. Media kota langsung mengambil alih siaran, mengulang bukti-bukti itu berulang kali.

Tekanan di arena meningkat, dan Damar menatap layar dengan mata membara, napasnya terengah-engah. "Ini fitnah! Kalian semua akan menyesal!" Namun sorak sorai mulai menggantikan keraguan, dan dukungan publik berbalik ke pihak Raka. Status 'Anomali' yang dulu dianggap cacat kini menjadi lambang pemberontakan yang menggetarkan setiap sudut Menara.

Kemenangan publik ini membawa Raka ke ruang rapat dewan kota. Di sana, wajah-wajah skeptis berubah menjadi bisik-bisik cemas saat bukti korupsi klan Damar terbentang di layar holografik, tak terbantahkan.

“Ini bukan hanya soal klaim kosong,” suara ketua dewan bergetar, “data ini memaksa kami mengakui Raka sebagai climber resmi.” Tepuk tangan gemuruh menggema, tapi di balik itu, tatapan dingin dan bisik-bisik ancaman mengintai.

Raka tahu kemenangan ini hanyalah pintu yang baru dibuka. Saat dia duduk, jari-jarinya meraba modul prototipe tersembunyi di saku jubahnya. Sekilas, kode rahasia meluncur ke layar kecil, mengirim pesan kilat ke Naya. “Mereka mengakui aku, tapi malam ini tim eksekusi akan bergerak. Siapkan langkah selanjutnya,” pikirnya tegas.

Suara-suara riuh di ruangan mulai tenggelam oleh bisik-bisik ancaman yang tak terlihat, menuntut Raka bersiap menghadapi perburuan yang jauh lebih berbahaya. Lampu ruangan redup sesaat saat ketua dewan berdiri, suaranya berat tapi tak bisa disangkal. “Raka, dengan bukti korupsi klan Damar yang telah terungkap, kami secara resmi mengakui kamu sebagai climber berhak menaiki menara. Namun, ingatlah—keberadaanmu adalah ujian bagi keseimbangan kekuasaan kami.” Tepuk tangan terpecah antara dukungan dan keraguan.

Raka menunduk sebentar, lalu melangkah keluar dari gedung dewan, dikelilingi oleh tatapan campur aduk dari penduduk dan media. Di balik pengakuan resmi, bayang-bayang tim eksekusi rahasia mulai bergerak, membayangi langkahnya ke depan.

Di layar besar Menara, wajah Raka yang dulu dipandang sebelah mata kini terpampang sebagai simbol perlawanan. Ibu Sari, dari kejauhan, memandang dengan mata berkaca-kaca, tak lagi melihat anaknya sebagai cadangan yang terlupakan, melainkan sebagai pahlawan yang mulai menantang sistem.

Namun udara kemenangan itu segera berubah tegang. Di balik tirai kekuasaan, Damar menyiapkan balasannya—senjata yang belum pernah dilihat publik, yang akan membuka babak baru pertarungan mematikan di puncak Menara.

Raka mengangkat kepala, menatap langit kelabu di atas Menara. Jalan ke puncak masih panjang, dan taruhannya kini lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan mech MSK-7A yang hampir mati dan ancaman yang mengelilingi, ia tahu satu hal pasti: pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced