Naik ke Lantai Terlarang
Energi MSK-7A tersisa empat persen. Lampu merah HUD berkedip ganas, lengan kiri mech retak hingga rangka besi telanjang, kabel hitam mengepul asap oli panas. Raka menggertakkan gigi di kokpit sempit, telapak tangan kanannya licin keringat di tuas kendali. Di luar hanggar rahasia, derap sepatu bot pasukan klan Damar semakin dekat, disusul deru senjata otomatis.
"Naya, unggahan sudah berapa?" bentak Raka sambil menendang pedal. MSK-7A melompat maju, bahu kirinya menghantam dinding baja hingga berderak. Dua prajurit Damar terpental, senjata mereka beterbangan.
"Delapan puluh tujuh persen!" jawab Naya dari konsol darurat, jari-jarinya menari di layar. Wajahnya pucat, tapi suaranya tegas. "Data log tempur sudah masuk jaringan publik. Dewan kota akan..."
Peluru menghantam pelindung dada. Raka memutar mech, lengan kanan yang masih utuh menyabet keras. Dua prajurit lagi terhempas. Setiap ayunan membuat lengan kiri bergetar hebat—upgrade ketahanan +27% yang menyelamatkan di lantai dua kini nyaris runtuh.
"Selesai!" teriak Naya. Layar unggahan hijau terang. Saat itu juga, papan peringkat publik di seluruh Menara Langit-Paku berkedip. Nama Raka Adisar melesat naik, melewati ratusan climber, masuk segmen atas sebagai 'Anomali'. Label buronan resmi menyala merah di sampingnya.
"Keluar sekarang!" perintah Raka. Ia hantam tombol pelepas darurat. Pintu samping hanggar meledak. MSK-7A melesat ke udara malam distrik bawah. Sirene audit meraung—delapan belas menit hampir habis.
Tanpa berhenti, Raka memacu mech menaiki struktur luar Menara. Kaki logam mencengkeram balok-balok baja raksasa yang biasanya hanya dilalui drone. Mobilitas +18% bekerja keras, tapi suhu inti langsung melonjak ke zona merah. Angin asam menyabet seperti pisau.
Layar belakang menyala. Enam drone pengintai klan Damar meluncur dari kegelapan, lampu merah berkedip seperti mata serigala. Peluru plasma menyambar sisi kanan MSK-7A, meninggalkan jejak meleleh.
Raka menukik tajam ke celah antar tiang penyangga. Drone pertama terlambat belok dan meledak menghantam balok. Dua lainnya mengikuti, tembakan semakin rapat. Overheat warning berdering. Pendingin cairan mendidih.
"Tidak sekarang," desis Raka. Ia paksa tuas gas lebih dalam. MSK-7A melompat ke jembatan udara sempit. Lengan kiri yang rusak terayun lemas, tapi Raka gunakan momentum itu untuk berputar di udara, menghindari rentetan. Satu drone ia tabrak dengan bahu hingga hancur berkeping.
Baterai turun ke dua persen. Servo kiri berderak nyaring. Getaran itu merambat ke tulang punggung Raka melalui sync ilegal. Setiap detik adalah utang darah.
Tiga drone tersisa berpencar, mencoba mengapit. Raka arahkan mech ke dinding vertikal curam, memanjat seperti laba-laba baja yang terluka. Di depan, samar-samar muncul gerbang tak berlabel—tak pernah tercantum di peta resmi climber mana pun.
"Itu dia." Raka memaksa lompatan terakhir. Kaki mech mendarat di platform kecil. Sensor keamanan langsung aktif. Jaring lampu merah menyala. Gerbang mulai mengunci.
Energi satu persen. Raka sentuh panel kecil di dada kokpit, mengaktifkan modul prototipe. Gelombang energi biru pucat menyebar, merambat ke sensor gerbang. Denyut elektromagnetik mengganggu sistem. Lampu merah berkedip gila lalu padam.
Gerbang bergetar. Dengan derit logam tua, daunnya terbuka cukup lebar. Raka dorong MSK-7A masuk tepat sebelum penghalang energi pulih. Tiga drone tersisa menabrak dan meledak berturut-turut di belakang.
Di dalam lorong gelap, aroma besi tua dan oli tajam menyambut. Lampu darurat redup memperlihatkan dinding penuh kabel tebal. Layar peringkat di kokpit mati total. Tidak ada sinyal. Tidak ada ranking. Seolah Menara kehilangan jejak Raka sepenuhnya.
Raka parkir MSK-7A di ruang terbuka luas. Di depannya terbentang pusat kendali logistik raksasa: layar-layar raksasa menampilkan alur energi vertikal dari dasar hingga puncak Menara, angka-angka yang tak pernah dilihat climber biasa.
Ia turun dari kokpit, kaki gemetar karena sync lama. Jari menyentuh panel utama. Data mengalir masuk ke sistem sarafnya melalui modul prototipe.
Menara bukan sekadar bangunan untuk didaki. Ia mesin raksasa. Lantai-lantai hanyalah selubung. Inti membutuhkan 'bahan bakar'—bukan listrik biasa, melainkan esensi dari climber yang gagal, mech yang hancur, reputasi yang dihancurkan.
Dan MSK-7A... modul prototipe itu bukan sekadar upgrade. Ia kunci akses. Kunci untuk mematikan inti.
Raka mundur selangkah, jantung berdegup kencang. Status Anomali, kejaran Damar, audit yang mendekat—semua terasa kecil sekarang. Ia telah memasuki zona di mana seluruh aturan Menara bisa runtuh.
Di kejauhan, suara mekanik berderak pelan, seolah Menara sendiri mulai bernapas lebih cepat, merespons penyusup yang membawa kunci terlarang.
Gerbang di belakang bergetar lagi. Tapi di depan, sebuah lorong baru terbuka, mengarah lebih tinggi—ke jantung yang selama ini tersembunyi.
Raka mengepalkan tangan. Setiap lantai yang dinaikinya bukan lagi sekadar mengubah reputasi. Ia sedang mendaki mesin yang bisa ia matikan.
Dan Menara baru mulai memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.