Novel

Chapter 6: Harga Sebuah Kemenangan

Setelah kemenangan brutal di lantai dua yang membuat peringkat Raka melampaui Damar, MSK-7A mengalami kerusakan kritis pada lengan kiri. Ibu Sari mendesak Raka berhenti demi keluarga, tapi Naya menawarkan suku cadang ilegal dari pasar gelap. Raka dan Naya menyusup ke zona netral, menghadapi penjaga, dan berhasil mendapatkan suku cadang. Saat pemasangan di hanggar, Raka menemukan sensor pelacak tersembunyi yang mengirim koordinat mereka ke klan Damar, mengubah perbaikan darurat menjadi jebakan mematikan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kemenangan

Lengan kiri MSK-7A masih berkedip merah di layar HUD ketika Raka melepas helm di hanggar rahasia distrik bawah Kota Menara Langit-Paku. Bau oli panas bercampur asap terbakar menusuk hidungnya, aroma yang sama seperti saat ia membalikkan jebakan angin ribut dan suhu ekstrem di lantai dua tadi. Upgrade mobilitas +18% dan ketahanan lengan +27% memang menyelamatkan nyawanya, tapi sekarang rangka mech itu nyaris ambruk. Sambungan hidraulik retak, motorik sensor nyaris putus, dan setiap gerakan kecil mengeluarkan percikan api.

"Ini sudah di ujung tanduk, Nak." Suara Ibu Sari pecah dari ambang pintu yang setengah terbuka. Matanya merah, tangannya mencengkeram ujung kain kebaya lusuh. "Peringkatmu memang naik melewati Damar di segmen bawah, tapi apa gunanya kalau mech-mu roboh besok? Keluarga ini butuh kau hidup, bukan jadi legenda mati di layar publik."

Raka mengepalkan tangan di sisi tubuh. Defisit itu nyata: tanpa perbaikan mendadak, ia tak bisa masuk Proving Ground lagi sebelum ditutup dalam waktu kurang dari dua jam. Status Anomali di papan peringkat membuat setiap detik terasa seperti pinjaman yang jatuh tempo. "Bu, kalau aku berhenti sekarang, semua yang sudah kami bayar dengan darah Sari dan Lia akan sia-sia. Koordinat rahasia dari log tempur itu... masih ada lantai lebih tinggi yang bisa kami capai."

Ibu Sari melangkah masuk, suaranya bergetar tapi tegas. "Kau pikir aku tidak tahu? Setiap kali kau naik, aku hitung detik sampai berita kau jatuh. Hentikan, Raka. Jual mech ini sebelum Damar Veylan menghabisi kau di depan seluruh kota."

Ketegangan menggantung berat. Raka tahu ibunya benar—kerusakan bukan sekadar statistik, tapi ancaman nyata yang bisa menghapus namanya dari papan peringkat selamanya. Tapi diam berarti menyerah pada sistem yang sudah mematok harga lantai lebih mahal daripada nyawa.

Langkah ringan Naya Wiratama memecah keheningan. Teknisi itu masuk membawa kotak logam kecil, wajahnya pucat tapi matanya tajam. "Ibu Sari, izinkan saya bicara sebentar dengan Raka." Setelah ibu Raka keluar dengan langkah berat, Naya langsung membuka kotak itu. "Suku cadang dari mech klan Serigala Hitam yang sudah ditarik. Ilegal, tapi bisa mengganti lengan kiri dan stabilkan kerangka. Mobilitas bisa naik lagi, ketahanan mungkin +15% tambahan. Tapi harganya... kita harus ambil di zona netral pasar gelap."

Raka menatap suku cadang berkilat itu. "Kau tahu risikonya, Naya. Kalau ketahuan, bukan cuma recall, kita bisa kena blacklist permanen. Dan waktu tinggal delapan belas menit sebelum tim audit menyusul ke distrik bawah."

Naya mendekat, suaranya rendah dan mendesak. "Tanpa ini, MSK-7A mati. Kau sudah Sync-Active ilegal, modul prototipe sudah terintegrasi ke sarafmu. Ini bukan pilihan lagi, Raka. Ini taruhan terakhir sebelum Proving Ground tutup dan frame-mu direcall selamanya."

Raka menghela napas panjang. Bau oli panas yang bercampur terbakar kembali menyergap. Ia melihat papan peringkat di HUD: namanya masih di atas Damar, tapi garis merah audit sudah mendekat. "Baiklah. Kita lakukan. Tapi cepat."

Mereka menyusup ke pasar gelap zona netral lewat lorong-lorong bekas stasiun bawah tanah. Suara tawar-menawar dan bau logam karat memenuhi udara. Naya memimpin, Raka mengikuti dengan tangan siap di gagang pisau lipat. Di ujung rak lapuk, seorang pedagang bertato menyerahkan kotak suku cadang tanpa banyak kata. Uang tunai berpindah tangan dalam hitungan detik.

Tiba-tiba sorot lampu senter menyapu. "Hei! Kalian dari mana?" teriak penjaga pasar. Raka dan Naya langsung bergerak. Mereka meluncur di antara tumpukan peti, jantung berdegup kencang. Seorang sosok tinggi dengan pisau berkilat muncul dari bayangan. Raka menarik Naya ke gang sempit, napas mereka berdesir. Dua penjaga lain mendekat. Dengan upgrade mobilitas yang masih tersisa, Raka mendorong Naya ke depan dan menghadang. Tinju dan tendangan singkat—ia menghindari satu serangan, membalas dengan siku ke rahang. Naya melempar kotak suku cadang ke tasnya sambil berlari.

Mereka berhasil keluar melalui pintu darurat berkarat, napas terengah, tapi kotak itu sudah di tangan. "Kita dapat," bisik Naya sambil tersenyum tipis penuh keringat.

Kembali ke hanggar rahasia, aroma oli panas kembali menyambut. Naya langsung membuka panel MSK-7A dan mulai memasang suku cadang baru. Percikan las menyala terang. "Mobilitas akan stabil di +18%, ketahanan lengan bisa balik ke +27% atau lebih. Ini akan memberi kita opsi baru di lantai berikutnya."

Raka berdiri di samping, mengawasi setiap gerakan. Tangan Naya cekatan, tapi saat ia memeriksa konektor dalam, jari Raka menyentuh sesuatu yang kecil dan dingin tersembunyi di balik pelat. Sensor. Kecil, berkedip pelan, mengirim sinyal.

"Naya, hentikan." Suara Raka dingin. Ia mencabut sensor itu dengan tangan gemetar. Layar kecil di ujungnya menunjukkan koordinat hanggar mereka yang sedang dikirim ke jaringan eksternal. "Ini pelacak. Klan Damar. Suku cadang ini umpan. Mereka sudah tahu kita di sini."

Naya membeku, tangannya berhenti di atas alat las. Wajahnya memucat. "Tapi... aku sudah cek pasar itu. Kalau ini jebakan..."

Raka menatap sensor di telapak tangannya. Sinyal terus berdenyut. Di luar hanggar, suara langkah berat mulai terdengar samar dari lorong distrik bawah. Krisis sumber daya langsung berubah menjadi ancaman fisik nyata. Mech masih setengah diperbaiki, waktu audit tinggal hitungan menit, dan sekarang Damar Veylan tahu persis posisi mereka.

"Kita terlalu jauh untuk mundur," gumam Raka, suaranya tegang tapi mata menyala dengan tekad baru. Naya mengangguk pelan, tangannya sudah bergerak ke panel kontrol data. "Kalau begitu... kita unggah log tempur sekarang juga. Biar seluruh kota lihat apa yang kita temukan."

Jarinya mendekati tombol unggah, siap mempertaruhkan segalanya di depan publik.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced