Uji Coba di Depan Publik
Sirene audit melengking, memekakkan telinga di sepanjang koridor logam menuju Arena Proving Ground. Lampu merah berkedip ritmis, menandai status 'Sync-Active' ilegal yang kini melekat pada profil Raka. Di balik kemudi MSK-7A, Raka merasakan setiap getaran rangka mech tua itu. Lengan kanannya mengeluarkan percikan listrik biru yang tidak wajar, sisa dari sinkronisasi paksa yang baru saja ia lakukan bersama Naya.
"Jangan berhenti, Raka! Jika pintu itu tertutup sebelum kau masuk, sistem akan melakukan recall paksa dan meremukkanmu di dalam hanggar," teriak Naya melalui saluran komunikasi terenkripsi. Sisa waktu di layar retak mech menunjukkan 85 detik. Raka memacu MSK-7A, meninggalkan bekas goresan dalam pada lantai baja. Saat pintu hidrolik raksasa mulai melambat, Raka memacu thruster cadangan. Ledakan energi biru meletup, mendorong MSK-7A meluncur masuk tepat saat celah pintu menyempit. Logam pintu beradu dengan bahu mech, mengeluarkan jeritan gesekan yang memilukan, namun Raka berhasil menembus masuk ke dalam arena.
Lampu sorot arena menyapu kokpit, menelanjangi karat pada pelat pelindung. Di luar sana, ribuan mata penonton virtual dan fisik tertuju pada layar peringkat yang berkedip liar. Raka tidak peduli pada sorakan ejekan yang bergema di tribun; ia hanya fokus pada pendaran biru tidak wajar yang merayap di sepanjang kabel saraf mech-nya—tanda bahwa modul prototipe yang ia curi mulai berintegrasi secara paksa.
"Kandidat cadangan, Raka Adisar. Rangka Anda tidak memenuhi standar audit. Keluar atau sistem akan melakukan penghapusan paksa," suara mekanis pengawas menggema. Di balkon VIP, Damar Veylan berdiri dengan tangan bersedekap, menatap dengan kebosanan seorang penguasa. "Buang saja sampah itu, Pengawas. Jangan biarkan dia menodai lantai ini lebih lama," ucap Damar, memancing tawa dari penonton elit.
Raka mengabaikan perintah tersebut. Ia menarik tuas sinkronisasi hingga batas maksimal. Rasa sakit menyengat di sepanjang tulang belakangnya—biaya dari sinkronisasi ilegal yang memaksa sistem sarafnya beradaptasi dengan kecepatan prosesor prototipe tersebut. Tiga drone tempur tipe-V melesat dari langit-langit, menembakkan proyektil tajam. MSK-7A bergerak dengan kelincahan yang mustahil bagi rangka rongsokan. Raka memutar poros mech, menghindar tipis dari tembakan laser, lalu menghantam drone pertama dengan tinju hidrolik yang diperkuat energi prototipe. Ledakan menyambar, mengubah drone menjadi bongkahan besi.
Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Asap hitam mengepul dari sendi bahu MSK-7A. Lengan kiri mech itu terkunci mati—kaku, tak merespons perintah. OVERLOAD PROTOTYPE: CRITICAL FAILURE. Raka tidak punya waktu untuk memperbaiki sistem. Ia merobek penutup panel di bawah kursi pilot, mencabut kabel utama penggerak, dan menyambungkannya langsung ke soket antarmuka saraf di lehernya. Rasa sakit seperti ribuan jarum menghujam otak Raka—arus listrik murni kini mengalir langsung ke tulang belakangnya. MSK-7A tersentak, bangkit kembali dengan pendaran biru yang lebih terang.
Gelombang terakhir diselesaikan dengan brutal. Raka keluar dari kokpit dengan tangan berdarah, napasnya memburu. Layar holografik besar berkedip hebat; nama Raka Adisar muncul sebagai anomali tak terdaftar dengan skor yang melonjak tajam. Di sudut layar, peringatan System Audit menyala merah, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Damar Veylan turun dari balkon VIP, berhenti di tepi arena. Ia menatap Raka dengan tatapan dingin yang menjanjikan kehancuran, sementara papan peringkat terus berkedip, menandai awal dari ancaman yang jauh lebih besar.