Novel

Chapter 11: Lantai Keempat: Ambang Batas

Kaelen dan Mira melarikan diri dari inspeksi fajar Menara dengan melakukan pendakian darurat ke lantai empat. Di sana, Kaelen berhasil menstabilkan sinkronisasi purwarupanya di tengah tekanan sistem yang ekstrem, sekaligus mempermalukan Vane di depan publik, membuka akses menuju rahasia sejarah Menara.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Lantai Keempat: Ambang Batas

Sirene inspeksi fajar meraung di koridor servis, bukan lagi sebagai peringatan, melainkan vonis mati. Di dinding stasiun, papan status berkedip merah: ANCAMAN PERINGKAT 47, BURONAN TEKNIS. Nilai jual frame-ku merosot ke titik terendah—bukan karena kerusakan, melainkan karena Menara mendeteksi anomali energi dari penguat ilegal yang Mira pasang semalam.

"Jangan berhenti, Kaelen!" suara Mira memecah statis di kanal pendek. "Jika mereka mengunci koridor, kita bukan lagi pendaki, kita hanya rongsokan yang menunggu disita."

Aku menekan pedal. Rangka mech-ku, dengan lengan kanan yang berderak menahan beban, menyeret diri ke depan. Kabel servis bergoyang saat unit keamanan muncul dari dua sisi, seragam putih-abu mereka kontras dengan kegelapan koridor. Mereka adalah eksekutor. Aku menggeser tuas daya, memaksa penguat ilegal bekerja hingga batas 81 persen stabilitas. Mech-ku melolong—dengungan elektrik yang menandakan aku telah melampaui ambang batas operasional.

Kami menerobos blokade pertama dengan kecepatan yang memaksa sensor Menara tertinggal. Namun, di mulut gerbang lantai empat, masalah baru menanti: lotere salvage darurat. Petugas Menara dengan tatapan dingin menuntut biaya masuk yang tidak masuk akal. Aku tidak punya koin, hanya log pertempuran purwarupa yang tersimpan di memori mech-ku. Aku tahu itu adalah kunci.

Dengan jemari Mira yang lincah memanipulasi audit, aku mensimulasikan pola lotere tersebut. Saat gerbang terbuka, petugas itu tertegun—data mereka menunjukkan akses sah, meski mereka tahu ada sesuatu yang salah. Kami masuk tepat saat Vane muncul di belakang, langkahnya berat dan penuh ancaman. "Kau tidak akan sampai ke inti, Kaelen," teriaknya. "Lantai empat tidak menerima sampah."

Begitu melewati ambang gerbang, dunia seolah terbalik. Gelombang kejut saraf menghantam sinkronisasi purwarupaku. Ini bukan arena biasa; lantai empat adalah arsip hidup Menara. Rasa sakit di tengkorak menusuk tajam, seolah ribuan jarum mencoba membedah memoriku.

"Kaelen! Sinkronisasimu melonjak ke 92 persen! Heat-limiter akan meleleh!" teriak Mira.

Aku mencengkeram kendali. Aku tidak bisa mundur. Aku mengaktifkan mode output cadangan selama tiga napas panjang, membakar sisa pendingin ilegal untuk membaca ulang gelombang kejut tersebut. Aku beradaptasi, memaksa sistem lantai empat menerima keberadaanku. Aku selamat, tetapi lantai empat kini telah memetakan ritmeku—tantangan berikutnya akan datang lebih cepat.

Di jembatan servis menuju inti, Vane memotong jalan. Ia berdiri dengan angkuh, jas tempurnya bersih, didukung oleh papan legitimasi Menara. "Dengan statusmu, melangkah satu meter lagi adalah bunuh diri," ujarnya, suaranya disiarkan ke seluruh pengawas Menara.

Aku tidak menjawab. Aku melihat celah pada beban kaki kanan Vane—kelemahan kecil yang hanya terlihat oleh pilot dengan sinkronisasi purwarupa. Aku menghentakkan mech-ku, memicu lonjakan daya yang mengejutkan Vane hingga pendaki elit itu mundur setengah langkah. Itu cukup. Aku mendorong mech-ku melewati jembatan, meninggalkan Vane yang terperangah, sementara pintu menuju inti lantai empat mulai terbuka, menyingkap sejarah asli Menara yang selama ini disembunyikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced