Krisis Identitas Mech
Lampu neon di bengkel bawah tanah Mira berkedip ritmis, menciptakan bayangan tajam di atas rangka mech Kaelen yang kini tampak seperti bangkai yang dipaksa berdiri. Angka stabilitas di monitor utama bergetar di angka 69, merosot satu poin setiap kali sistem pendingin mengeluarkan desis uap beracun. Lengan kanan mech itu, yang mengalami kerusakan permanen 12%, terkulai lemas, engselnya mengeluarkan bunyi gesekan logam yang menyakitkan telinga.
"Ini bukan sekadar aus, Kaelen," Mira memecah keheningan, suaranya dingin dan tajam. Ia menunjuk retakan halus yang menjalar dari inti ke rusuk kanan. "Sinkronisasi purwarupa itu memakan rangka dari dalam. Jika kita memaksanya naik ke lantai empat dengan kondisi ini, mech ini akan hancur berkeping-keping sebelum mencapai gerbang utama."
Kaelen menyeka keringat dari dahinya, menatap pantulan dirinya di kaca kokpit yang retak. "Kita tidak punya waktu untuk perbaikan standar. Inspeksi fajar Menara akan menyapu blok ini dalam hitungan menit. Mereka sudah mencatat anomali energi kita di lantai tiga. Kalau mereka menemukan kita dalam kondisi ini, mereka tidak akan menyita mech ini—mereka akan menghancurkannya, dan kita bersama dengannya."
Mira menatap tumpukan komponen ilegal di sudut bengkel: pelat penguat berlapis serbuk perak, sisa-sisa teknologi elit yang seharusnya sudah dimusnahkan. Menggunakannya berarti melanggar protokol serikat teknisi—sebuah pelanggaran yang bisa membuatnya dibuang selamanya dari daftar profesional. Namun, pilihannya hanyalah kehancuran total atau menjadi buronan teknis.
"Ambil penguat itu," perintah Kaelen, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Jika kita tidak naik, kita akan mati di sini sebagai rongsokan yang terlupakan."
Mira tidak lagi ragu. Ia mengambil penguat tersebut, merasakan dingin logam terlarang di tangannya. Saat ia mulai memasang komponen tersebut, suara derap langkah berat tim inspeksi Menara mengguncang pintu besi bengkel. Mereka sudah tiba.
Mira bekerja dengan kecepatan yang melampaui logika. Ia menyambungkan sirkuit bypass panas, memicu percikan api yang menyambar di seluruh ruangan. Angka stabilitas di monitor melonjak dari 76 ke 81. Rangka Kaelen bergetar hebat, namun retakan itu perlahan tertutup oleh material ilegal yang kini menyatu dengan intinya. Mech itu bukan lagi rongsokan; ia telah berubah menjadi mesin yang memancarkan resonansi data purwarupa yang membuat sensor inspeksi di luar pintu berkedip liar.
Pintu bengkel didobrak. Petugas meterai Menara masuk dengan senjata terarah, namun mereka tertegun. Di depan mereka, mech Kaelen berdiri tegak, memancarkan aura kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh unit kelas bawah. Data anomali yang kini justru menjadi pelindung mereka membuat para petugas ragu.
"Penyitaan ditunda," gumam pemimpin tim inspeksi, matanya terpaku pada pembacaan sensor yang tidak stabil. Mereka tidak berani mengambil risiko menyita aset yang menunjukkan tanda-tanda teknologi purwarupa yang tidak terdaftar.
Namun, Mira tahu ini hanya penundaan sementara. Bukti kriminal itu kini menempel permanen di rangka Kaelen. Kaelen menoleh ke arah Mira, matanya menyiratkan satu hal: mereka tidak punya jalan kembali. Pintu menuju lantai empat terbuka lebar, dan mereka harus segera mendaki sebelum Menara menyadari bahwa mereka telah memanipulasi sistem.
"Siap?" tanya Kaelen.
Mira mengangguk, meski tangannya gemetar. "Naik sekarang, atau kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi."