Pertarungan di Lantai Tiga
Meterai fajar menyala di koridor keluar Mech Proving Ground. Papan penyitaan di atas kepala Kaelen berkedip merah.
Sisa waktu: 1 jam 58 menit.
Angka itu bukan sekadar hitung mundur; itu adalah vonis. Menara tidak hanya memeriksa; mereka sudah menyiapkan tangan untuk merampas frame-nya sebelum fajar. Kaelen merasakan sisa panas kokpit di tengkuknya—78 derajat. Stabilitas frame tertahan di 76. Lengan kanan? 12% rusak permanen. Setiap gerakan ke kanan adalah taruhan nyawa.
Di meja penilaian, Pengawas Menara menatap Kaelen seperti menatap serangga yang harus segera dibasmi. “Frame itu ditahan. Anomali energi melewati batas operasional. Lepaskan modul dan serahkan unit.”
Pasar sekte di balkon atas tertawa. Tawa orang-orang yang mencium diskon rongsokan. Kaelen memutar frame-nya, membiarkan layar dada yang masih berpendar menampilkan log pertempuran: stabilitas 76, sinkronisasi di luar batas, output cadangan yang melonjak. Angka-angka itu punya ritme yang tidak bisa dibantah oleh naskah sita mana pun.
“Baca ulang,” tantang Kaelen.
Pengawas Menara terdiam. Di ujung balkon, Vane berdiri kaku, wajahnya pucat. Senyum angkuhnya hilang, digantikan oleh ketakutan yang nyata. Kaelen tidak perlu terlihat utuh. Ia hanya perlu terlihat lebih bernilai daripada versi yang ingin mereka sita.
“Frame ini belum kalah,” Kaelen berkata, suaranya bergema di arena yang sunyi. “Kalau Menara mau menahan unit setelah kemenangan resmi, kalian perlu alasan yang lebih bagus daripada kata ‘anomali’.”
Pengawas Menara mengangkat tangan, menunda eksekusi. “Verifikasi tingkat atas. Sekarang.”
Mira muncul dari bengkel darurat, tangannya lincah menyodorkan probe ke slot memori. Layar menyala, menampilkan bukan riwayat servis, melainkan jalur tempur purwarupa yang disembunyikan di bawah cat baru. Ada jalur bypass heat-limiter yang terlalu rapi untuk bengkel biasa.
“Ini bukan log servis,” bisik Mira. “Ini sinkronisasi purwarupa. Frame ini pernah dipakai di medan tempur sungguhan.”
Seorang pedagang pasar sekte mendekat, matanya membelalak melihat data di layar. Ia segera menaikkan tawaran untuk modul Kaelen di tabletnya. Angka itu melonjak. Bukan karena belas kasihan, tapi karena sekarang mereka tahu barang ini punya sejarah yang mahal.
Kaelen melihat papan peringkat bergeser. Namanya naik. Sponsor mulai memiringkan tablet mereka, menghitung potensi. Menara tidak bisa lagi memanennya sebagai rongsokan; ia telah menjadi aset yang terlalu mencolok untuk disita secara diam-diam.
“Kaelen,” Mira memanggil, suaranya lirih. Ia menunjuk retakan struktural di rangka utama yang baru saja terbuka akibat tekanan sinkronisasi. “Rangka ini mulai lelah. Kita sudah mendorongnya melewati batas. Kita butuh bahan terlarang untuk memperkuatnya, atau biarkan dia hancur sekarang.”
Kaelen menatap retakan itu. Kemenangan lantai tiga adalah standar baru, tapi standar itu kini menuntut harga yang lebih tinggi dari sekadar darah. Menara menutup tangan, fajar semakin dekat, dan pilihan di depannya hanya satu: memperkuat diri dengan cara terlarang atau turun dari menara selamanya.