Sinkronisasi Sempurna
Layar kokpit berkedip merah: 78 derajat Celcius. Angka itu bukan sekadar data; itu adalah vonis mati bagi sistem pendingin yang baru saja Mira pasang dengan susah payah. Di luar, suara dentang logam bengkel bergema, namun di dalam, Kaelen hanya mendengar jeritan servo lengan kanannya yang terkunci di angka 12% kerusakan.
"Kaelen, berhenti," suara Mira memecah statis komunikasi, tajam dan mendesak. "Jika kau paksa bypass itu lagi, Menara akan punya alasan teknis untuk menyita bangkai ini sebelum fajar. Lenganmu tidak akan bertahan di lantai tiga."
Kaelen mencengkeram tuas kontrol. Ia tidak menjawab. Ia memejamkan mata, membiarkan detak jantungnya yang berpacu menyatu dengan dengung rendah modul purwarupa di balik dadanya. Ia tidak lagi mencoba mengendalikan mesin; ia membiarkan mesin itu mengendalikan persepsinya. Saat ia menarik napas dalam, angka stabilitas di layar merangkak naik dari 74 ke 76. Sinkronisasi itu bukan lagi sekadar koneksi teknis—itu adalah simbiosis.
Arena lantai tiga menyambutnya dengan jebakan yang dirancang khusus oleh Vane. Koridor sempit itu dipenuhi node sensor yang memancarkan paku energi, dirancang untuk memaksa pilot melakukan manuver yang akan membakar sirkuit mereka sendiri. Di tribun, Pengawas Menara berdiri tegak, wajahnya sedatar batu, menunggu Kaelen melakukan kesalahan fatal.
"Jalur tengah itu jebakan," bisik Mira. "Node kedua memiliki pemotong energi. Jika kau ambil rute itu, lengan kananmu akan hancur total."
Kaelen tidak berbelok. Ia merasakan denyut di balik dadanya—sebuah kesadaran purwarupa yang mulai memetakan pola serangan sebelum lawan melepaskannya. Saat ia melangkah masuk, Vane tersenyum di sisi lain tribun, yakin bahwa jebakan ini akan mengakhiri karier Kaelen. Namun, saat paku energi pertama menyembur, Kaelen tidak menghindar. Ia justru memicu bypass panas, mengabaikan peringatan sistem, dan melakukan lompatan silang yang memutus garis serang lawan.
Ledakan energi dari bypass panasnya terekam jelas di monitor pusat. Kerusakan lengan kanannya bertambah, namun formasi jebakan Vane hancur berantakan. Kaelen bergerak dengan presisi yang bukan milik pendaki rongsokan, seolah ia membaca kode arena itu sepuluh detik sebelumnya. Ketika ia mencapai inti lantai tiga, ia tidak mengejar pukulan terbesar. Ia menunggu. Modul purwarupa itu bergetar, mengeluarkan respons yang terasa seperti ingatan akan perang lama yang tak pernah ia alami.
Saat lantai tiga jatuh, namanya meroket di papan peringkat. Tribun penonton terdiam. Di tribun, para sponsor dan Pengawas Menara mulai berbisik, mata mereka beralih dari Vane ke sosok yang baru saja membuktikan bahwa standar Menara bisa dipatahkan. Kaelen tahu ini baru permulaan. Inspeksi fajar sudah menunggu, dan ia baru saja memberikan mereka alasan yang lebih besar untuk memburunya.