Novel

Chapter 7: Bayangan di Puncak

Vane memanipulasi rute lantai tiga untuk menjebak Kaelen, namun tindakan tersebut justru memicu sinkronisasi purwarupa yang tidak terduga, memaksa Menara mengakui potensi ancaman Kaelen.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayangan di Puncak

Bau oli terbakar dan ozon menyengat hidung Vane di ruang pengawas lantai tiga. Di atas meja taksir, ia menekan telapak tangannya pada lembar izin rute. Kertas itu berderit di bawah cincin sponsornya yang berkilau—sebuah simbol status yang kini terasa seperti belenggu. Di dinding, papan keadaan menampilkan data Kaelen: peringkat yang melonjak, stabilitas frame di angka 74, dan lengan manipulasi yang retak 12 persen.

"Rute ini terlalu bersih untuk seseorang yang terbiasa mencuri jalan belakang," suara Vane tenang, nyaris sopan, namun matanya menatap tajam pada Pengawas Menara. "Jika Kaelen memang sepadat data yang dia tunjukkan, dia tidak akan keberatan diuji pada jalur yang lebih jujur. Sponsor mulai bertanya-tanya, Pengawas. Jejak energi dari frame itu bocor seperti luka terbuka. Jika inspeksi fajar menemukan anomali itu melenggang bebas, bukan hanya Kaelen yang akan diseret ke ruang penyitaan."

Pengawas menara terdiam, jemarinya mengetuk meja. Dia bukan sekadar birokrat; dia adalah penjaga hierarki. Vane tahu dia telah menyentuh titik saraf: ketakutan akan sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Dengan satu tanda tangan, rute lantai tiga diubah menjadi jebakan resmi. Vane meninggalkan ruangan itu dengan senyum tipis, sementara di kanal enkripsi tersembunyi, Mira mengirimkan peringatan kepada Kaelen: Sabotase digital terkonfirmasi. Mereka memaksamu masuk ke node pemicu panas yang akan membakar lengan kananmu dalam hitungan menit.

Kaelen tiba di ambang lantai tiga tepat saat gerbang arena terbuka. Papan rute resmi telah berubah. Jalur yang kemarin lurus kini diganti dengan lintasan sempit yang memaksa frame masuk miring ke ruang tembak silang, lalu berputar tajam di celah yang terlalu rapat untuk lengan kanan yang masih sakit. Penonton di tribun atas mulai berbisik, suara mereka terdengar seperti gesekan amplas di logam. Mereka tidak menanti kemenangan; mereka menanti kehancuran yang bisa mereka beli dengan harga murah.

"Ini bukan rute, Mira. Ini eksekusi," gumam Kaelen, suaranya dingin di dalam kokpit.

"Jika kau mundur sekarang, peringkatmu akan disita sebelum fajar," jawab Mira, suaranya pecah oleh statik dari bengkel. "Tapi jika kau masuk, kau harus memacu modul purwarupa itu melampaui limit pendingin yang baru kupasang. Kau punya waktu 04:11 sebelum panas membakar sirkuitmu."

Kaelen mengunci rahang. Ia memilih maju. Begitu kakinya menginjak lantai arena, panel samping menutup jalur mundur dengan dentuman logam yang final. Suhu di dalam kokpit melonjak dari 61 ke 78 derajat dalam tiga detik. Alarm meraung, namun Kaelen tidak lagi mendengar suara luar. Tiga drone penjaga turun dari rel atas, membentuk formasi segitiga yang mengunci lengan kanannya.

Saat ia memutar tuas kontrol, lengan mech-nya tersendat, servo mengerang seperti logam yang dipaksa membengkok. Kaelen memaksakan bahu frame-nya menabrak dinding termal untuk menghindari tembakan langsung. Percikan api menghujani lantai. Namun, di tengah panas yang menyengat, sesuatu yang aneh terjadi. Modul purwarupa di dadanya bergetar, memberikan sinkronisasi yang melampaui batas normal.

Pandangan Kaelen berubah. Ia tidak lagi melihat drone sebagai target, melainkan sebagai pola yang terbaca. Ia melihat celah pada rotasi drone sebelum mereka bergerak. Sinkronisasi itu melonjak—sebuah anomali yang membuat meja penilaian di ruang pengawas bergetar hebat. Kaelen tidak hanya bertahan; ia mulai menari di antara tembakan, membiarkan frame-nya mengeluarkan respons mekanis yang terasa seperti memori perang yang sudah lama terkubur. Vane, yang menyaksikan dari ruang VIP, memucat saat melihat data Kaelen di layar tidak lagi menunjukkan kerusakan, melainkan lonjakan performa yang mustahil. Menara baru saja menyadari bahwa mereka tidak sedang memburu rongsokan, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced