Menara yang Terlambat Menyadari
Timer arena lantai empat berkedip merah: 03:11. Papan nilai publik di atas tribun bergetar, menampilkan teks neon yang menusuk mata: BURON TEKNIS TERDETEKSI. Kaelen mencengkeram tuas kendali, merasakan getaran kasar dari lengan kanan mech-nya yang ditambal pelat ilegal. Panas dari inti purwarupa merambat naik, membakar punggungnya, namun ia tidak punya ruang untuk mendinginkan sistem.
Di seberang arena, Vane berdiri dengan mech yang mengilap, armor-nya memantulkan cahaya lampu sorot Menara. "Statusmu adalah sampah, Kaelen," suara Vane menggema melalui pengeras suara, dingin dan penuh penghinaan. "Duel ini tidak sah. Begitu Pengawas mengunci arena, kau akan disita. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi."
Pengawas Menara, seorang pria dengan seragam kaku, mengetuk tabletnya. "Anomali energi pada unit Kaelen terkonfirmasi. Penguat ilegal terdeteksi. Sesuai protokol, arena akan ditutup untuk penyitaan aset."
Di ruang kontrol, Mira menatap layar dengan jemari yang gemetar di atas konsol. "Kaelen, jika pintu itu tertutup, kita tamat. Utang 18 koin itu akan disita bersama seluruh rangka mech-mu. Jangan tunggu wasit!"
Kaelen tidak menjawab. Ia menekan tombol bypass pada modul purwarupa. Layar kokpitnya berubah, menampilkan garis prediksi serangan Vane yang berpendar biru—sebuah log pertempuran kuno yang kini menjadi satu-satunya senjatanya. Saat Vane melesat maju dengan bilah plasma yang mengincar sambungan bahu, Kaelen tidak menghindar ke arah yang diharapkan. Ia justru melakukan manuver overclock yang mustahil.
Sinkronisasi: 92%.
Kaelen memotong ritme serangan Vane. Dengan presisi yang lahir dari data purwarupa, ia menghantam titik lemah pada sendi lutut mech Vane. Logam beradu, memercikkan bunga api yang menyilaukan penonton. Papan performa di atas arena berubah seketika: efisiensi lengan kanan Kaelen melonjak dari 61% ke 78%.
"Mustahil!" teriak Vane, mencoba memutar rekaman recall Kaelen di layar raksasa untuk memicu ejekan penonton. "Dia hanyalah rongsokan!"
"Rongsokan ini yang baru saja mematahkan langkahmu," balas Kaelen. Ia tidak lagi memedulikan harga pasar yang menilainya rendah. Ia mengunci target pada pusat daya Vane, melepaskan sisa tenaga dari bypass heat-limiter. Dalam satu hantaman telak, mech Vane tersungkur, sistemnya mati total di tengah arena.
Keheningan menyelimuti tribun sebelum papan nilai bergetar hebat. Nama Kaelen melesat naik, menggeser posisi Vane. Hadiah kemenangan langsung masuk ke akunnya: utang 18 koin lunas, denda dihapuskan, dan akses prioritas terbuka.
Namun, kemenangan ini bukan akhir. Begitu arena terbuka, lantai empat—arsip hidup Menara—mulai bergetar, membuka pintu menuju lantai lima yang selama ini dianggap mitos. Kaelen berdiri di ambang pintu, menatap kegelapan lantai berikutnya. Menara kini terpaksa mengakui keberadaannya, namun dengan pengakuan itu, perburuan yang lebih besar baru saja dimulai. Ia bukan lagi pendaki buangan; ia adalah anomali yang baru saja memaksa sistem untuk menulis ulang hierarkinya.