Novel

Chapter 5: Logika Besi Tua

Mira menyusup ke tempat pembuangan elit menggunakan akses teknisi tingkat tinggi untuk mencuri modul pendingin ilegal dari bangkai frame rival. Kembali ke bengkel, ia dan Kaelen berdebat soal mesin sebagai alat bertahan, lalu Mira memasang pendingin ke frame yang sudah memakai komponen kanibal dan mode output cadangan. Penemuan kode purwarupa terlarang mengisyaratkan sejarah tersembunyi Menara. Saat pengawasan menara mendeteksi pola energi anomali, bengkel mereka resmi menjadi target inspeksi sebelum fajar, memaksa Kaelen memilih bertahan atau disita.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Logika Besi Tua

Meterai inspeksi di pintu bengkel berkedip merah lagi—tiga pendek, satu panjang. Tanda itu sudah cukup untuk membuat dada Kaelen mengencang, karena artinya bukan sekadar pengawasan; itu hitungan mundur menuju sita. Dua lonceng sebelum petugas menelusuri jejak energi sampai ke pintu mereka.

Di dalam bengkel sempit di bawah jalur servis Menara Proving Ground, rangka mech Kaelen berdiri setengah terbuka seperti tubuh yang dipaksa tetap hidup. Panel dada terangkat, kabel kanibal menggantung, dan suhu inti masih naik-turun keras meski Mira baru saja menstabilkannya semalam. Di meja penilaian kecil, angka-angka itu tidak bisa bohong: stabilitas naik dari 38 menjadi 61, output puncak mentok di 87, tapi jejak panas aneh melonjak ke zona yang membuat sistem menara mulai membaca mereka sebagai ancaman.

Kaelen menatap angka itu seperti menatap utang yang diberi wajah.

“Kalau kita diam saja, mereka datang,” katanya.

Mira mengencangkan ikat rambutnya sambil meraih mantel kerja yang penuh noda minyak. “Kalau kita bergerak salah, mereka datang lebih cepat.”

Kaelen melirik layar meterai, lalu ke lorong servis di luar bengkel. “Masih sempat cari modul pendingin?”

Mira mengangkat dagu. “Bukan cari. Ambil.”

Itu satu-satunya jawaban yang layak. Pasar Sekte sudah memblokir akses mereka ke suku cadang murah setelah penolakan suap kemarin. Di papan penilaian pasar, nama Kaelen sudah turun bukan karena kalah, tapi karena dianggap tidak patuh. Di tempat seperti itu, bakat memang bukan janji; bakat adalah aset yang harus dibeli murah, dibesarkan mahal, lalu dipanen reputasinya. Kalau mereka ingin bertahan sampai fajar, mereka harus mencuri dari tempat yang bahkan menganggap rongsok sebagai barang ritual.

Mira menepis debu dari kunci akses tipis yang tergantung di lehernya. Benda itu bukan akses biasa. Itu kode teknisi tingkat tinggi—jenis yang seharusnya sudah lama hilang bersama karier elitnya. Kaelen sudah pernah bertanya dari mana asalnya, dan Mira selalu menjawab dengan satu kalimat yang cukup tajam untuk menghentikan pertanyaan: “Pernah jadi orang yang dipercaya, itu juga bisa jadi kutukan.”

Sekarang, kutukan itu yang menyelamatkan mereka.

---

Tempat pembuangan sampah elit berada di tepi Menara Proving Ground, di bawah kanopi baja yang memantulkan cahaya pagi yang belum benar-benar lahir. Dari luar, ia tampak seperti gudang rongsok. Dari dekat, itu lebih mirip altar tempat benda-benda mahal dikubur dengan tata cara yang terlalu rapi. Komponen dari frame yang gugur disusun menurut kelas, sponsor, dan status reputasi pemiliknya. Semua dicatat. Semua dipindai. Bahkan bangkai mesin pun punya martabat di sana.

Mira melangkah masuk di sela shift petugas pasar sekte yang sedang berganti jaga. Jubah mereka berwarna abu tua dengan garis emas tipis—cantik, bersih, dan memandang rendah apa pun yang tidak menghasilkan reputasi. Dua drone keamanan melayang di bawah atap kanopi, lensa mereka menyapu tumpukan scrap seperti mata ikan besi.

Kaelen menunggu di mulut lorong, siap jika Mira gagal dan harus menariknya keluar sebelum orang-orang itu sempat mengunci area.

Mira tidak menoleh. Ia sudah berjalan seperti orang yang punya hak atas tempat itu.

Akses teknisi tingkat tinggi membuka panel samping tempat pembuangan yang terkunci. Bunyi pengaitnya kecil, tapi di ruang seperti ini, bunyi kecil bisa jadi masalah besar. Ia menyelinap di antara rangka-rangka rusak, melewati lengan mech yang dipotong bersih, tumpukan pelat dada yang masih mengilap, dan sebuah kepala frame yang matanya retak seperti kaca doa.

Ia tidak mencari barang bagus. Ia mencari barang berguna.

Pada tumpukan ketiga, ia menemukannya: modul pendingin ilegal yang masih terpasang di rangka rival kelas atas, dibungkus casing hitam dengan segel yang sudah digores. Pendingin itu tidak legal karena terlalu efisien; model seperti ini biasa dipakai unit eksperimen yang tidak ingin panasnya tercatat saat memaksa output melebihi batas resmi. Menara sendiri pernah membuat teknologi seperti itu, lalu menghapusnya dari daftar publik seolah sejarah bisa disapu bersih begitu saja.

Mira menahan sebentar, tangannya berhenti di udara.

Di balik modul itu, ia melihat pola sambungan yang tidak cocok dengan desain legal mana pun. Bukan sekadar rakitan cerdik. Ini jejak purwarupa. Teknologi yang seharusnya sudah dimuseumkan, lalu dikubur, lalu dilupakan. Bukan karena jelek. Karena terlalu berbahaya untuk sistem yang ingin semua mesin tetap bisa diprediksi.

Suara petugas pasar sekte terdengar dekat.

“Jangan sentuh baris itu,” kata salah satu dari mereka ke seorang pengangkut scrap. “Yang merah sudah masuk inventaris ritual.”

Mira bergerak lebih cepat. Ia menyelipkan modul ke tas kerja, lalu memutar tubuh untuk pergi—dan di saat itulah drone keamanan berputar sedikit terlalu tajam, lensa birunya berhenti di garis punggungnya.

Satu detik. Dua.

Lalu drone itu kembali melayang, seolah belum yakin.

Mira tetap berjalan, napasnya tidak berubah. Namun di telapak tangannya, ia merasakan getaran kecil dari scan yang menempel di jalur pulang mereka. Bayangan anomali.

Bukan alarm penuh. Belum.

Tapi cukup untuk mengikat rute mereka ke daftar yang tidak seharusnya ada.

---

Kembali di bengkel, Kaelen baru sempat menarik napas ketika Mira melempar modul itu ke meja kerja.

“Dapat.”

Kaelen menatap casing hitamnya. “Dari unit apa?”

“Yang sudah terlalu mahal untuk disebut rongsok dan terlalu panas untuk dipajang.” Mira membuka kunci segel dengan alat tipis. “Kalau kita beli resmi, Pasar Sekte tahu kita masih hidup. Kalau kita ambil dari tumpukan buangan, setidaknya mereka harus menebak dulu.”

Kaelen menyentuh casing itu dengan hati-hati. Dingin. Terlalu dingin. Itu justru membuatnya waspada.

“Masih ada sesuatu di dalamnya,” katanya.

Mira mengangguk. “Jalur bypass heat-limiter. Disembunyikan sengaja.”

Kaelen mengerutkan kening. “Jalur seperti itu cuma dipakai untuk…”

“Untuk membuat mesin terus hidup saat seharusnya sudah menyerah,” sela Mira. “Atau untuk memaksa output melewati batas legal. Artinya sama saja: seseorang pernah ingin mesin ini bertarung lebih lama dari yang diizinkan.”

Kaelen memandangi rangka mech-nya sendiri. Tulang logam tua itu masih menyimpan bekas recall yang menghancurkan kariernya—stempel memalukan yang membuat banyak orang di Pasar Sekte menilai dirinya seperti barang gagal lelang. Ingatannya bergerak ke hari itu: petugas memotong segel, papan nama dicabut, dan semua orang belajar bahwa ada harga yang lebih kejam daripada kalah, yaitu dipulangkan sebagai kerugian.

“Mesin yang rusak dibuang,” katanya pelan.

Mira tidak langsung menjawab. Ia membuka panel samping rangka Kaelen, mengintip ruang sempit tempat kabel kanibal dan modul purwarupa bernafas dalam panas yang tak sehat.

“Di pasar,” katanya akhirnya, “yang dibuang bukan mesin. Yang dibuang reputasinya. Kalau mesinnya masih bisa dipaksa bekerja, mereka jual ulang sebagai kesempatan.”

Kaelen tertawa pendek, tanpa humor. “Jadi aku ini kesempatan?”

“Kau ini risiko.” Mira menyandarkan modul pendingin di meja. “Kalau berhasil, mereka semua berebut bilang pernah melihatnya dulu.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.

Bukan pujian. Bukan pelipur.

Tapi di dunia mereka, pengakuan paling jujur justru datang seperti itu: dingin, utilitarian, dan terlalu nyata untuk dibantah.

Mira mulai menyusun konektor. “Kalau kita masukkan pendingin ini, frame-mu bisa menahan beban data purwarupa lebih lama. Mode output cadangan tak akan langsung memasak inti.”

“Dan jejak energinya?”

“Masih ada.”

Kaelen menatapnya.

Mira mengangkat bahu, tak menutupi kenyataan. “Komponen kanibal yang kita pasang kemarin menambah stabilitas, tapi juga membuat pola panasnya lebih liar. Pendingin ini mengimbangi. Bukan menghapus.”

“Berarti menara tetap bisa mencium kita.”

“Ya.”

“Bagus sekali.”

“Bagus,” kata Mira tajam, “karena sekarang kita tidak sedang mencari aman. Kita sedang mencari cukup lama untuk lolos inspeksi.”

Kaelen terdiam. Itu memang lebih jujur daripada kata “selamat”.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh sisi rangka yang terbuka. Logika besi tua memang begini: tidak ada yang indah tanpa paksa; tidak ada yang tahan lama tanpa pengorbanan. Mesin ini tidak dibeli. Mesin ini dipertahankan.

---

Saat Mira memasang modul pendingin, ia menemukan lapisan pelindung tambahan di balik casing. Bukan korosi. Bukan kerusakan biasa. Ada tanda pabrikan yang sengaja dikikis, lalu ditimpa kode yang hampir tak terbaca.

Ia membeku sepersekian detik.

Kaelen menangkap itu. “Ada apa?”

Mira menahan panel dengan satu tangan dan membersihkan permukaannya dengan kain tipis. Di bawah lapisan lama muncul deretan kode servis yang hanya bisa dibaca oleh teknisi senior atau seseorang yang pernah memegang hak akses penuh. Kode itu bukan milik pasar. Bukan milik bengkel murah. Bukan pula milik unit legal yang dijual ke pendaki kelas bawah.

Itu kode masa lalu.

Kode dari sejarah yang sengaja disembunyikan Menara.

“Ini bukan buatan sembarang tim,” kata Mira pelan.

Kaelen mendekat. “Purwarupa?”

“Lebih tua.” Mira menatap huruf-huruf kecil itu. “Dan lebih dekat ke sesuatu yang pernah dianggap berbahaya untuk diketahui publik.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh, karena penjelasan di bengkel seperti ini harus langsung mengubah keputusan. Dan sekarang itu memang mengubah keputusan: pendingin ini bukan sekadar alat bantu. Ini potongan sejarah terlarang yang bisa mengungkap kenapa mode output cadangan itu ada, siapa yang menaruhnya ke dalam log tempur, dan mengapa sistem menara begitu cepat menandai Kaelen sebagai anomali.

Kaelen ikut menatap kode itu, lalu ke rangka yang membuka dada seperti luka.

“Jadi semua ini… bukan cuma rongsok yang dipoles?”

Mira menggerakkan rahangnya. “Tidak. Ini sisa dari sesuatu yang dulu cukup bagus untuk disembunyikan.”

Kaelen menyeringai tipis. “Menara membuang sejarahnya sendiri. Pantas saja mereka takut kalau kita memakainya.”

Mira tidak membantah.

Ia mulai menyambungkan modul ke jalur bypass yang tersembunyi di balik tulang rangka. Tangan kanannya stabil, tangan kirinya menahan kabel agar tidak menyentuh pelat panas. Setiap klik pengunci terdengar lebih keras dari seharusnya, karena semua orang di ruangan ini tahu satu kesalahan kecil bisa memaksa frame meledak saat fajar.

Lalu ia menekan konektor terakhir.

Lampu indikator di meja penilaian melonjak.

Stabilitas: 61 naik ke 74. Output puncak aman: tetap di 87, tapi waktu tahan panas melompat hampir dua kali lipat. Jejak energi: turun sedikit, lalu kembali naik ke warna ambar yang membuat Mona—bukan, sistem menara—masih bisa mengendus mereka.

Kaelen menatap angka-angka itu, matanya menyipit. Perubahan itu nyata. Bukan janji. Bukan teori.

“Sekarang aku bisa bertahan lebih lama,” katanya.

“Lebih lama di lantai dua,” jawab Mira.

“Dan setelah itu?”

Mira mengencangkan baut terakhir. “Setelah itu lantai dua akan belajar bahwa kamu belum habis.”

Kaelen menghela napas yang entah lega atau takut.

“Masih terasa seperti bangkai,” gumamnya.

“Semua yang naik dari bawah selalu begitu dulu.” Mira menutup panel setengah jalan, lalu menahan tatapan Kaelen. “Kau mau mesin yang cantik atau mesin yang selamat?”

Kaelen menatap lantai bengkel yang penuh serpih logam, segel palsu, dan noda oli lama. Di luar sana, Pasar Sekte menghitung harga kehormatan dengan cara paling kejam: yang lemah dijual murah, yang keras kepala diberi denda, yang menang pun diperas sampai reputasinya cocok untuk dipanen.

“Selamat dulu,” katanya.

Itu keputusan yang terasa seperti kehilangan sebagian impian—dan sekaligus kelahiran sesuatu yang lebih keras.

---

Alarm di atas lorong servis berbunyi satu kali.

Bukan alarm penuh. Bukan sirene.

Hanya satu denyut singkat dari sensor luar.

Mira dan Kaelen saling pandang.

Mira sudah lebih dulu bergerak, menutup sebagian panel, menggeser kain penutup, dan mematikan lampu kerja yang paling terang. Kaelen mengaitkan helmnya sambil menahan sakit di bahu kiri—bekas manuver terakhir masih belum sembuh benar. Jejak panas pada rangka terasa seperti napas yang tidak mau turun.

Di layar kecil dekat pintu, angka scan bergerak sendiri.

Seseorang di jaringan menara baru saja lewat di atas mereka.

Mungkin petugas meterai. Mungkin drone audit. Mungkin pengawas yang belum mengumumkan diri. Tapi apa pun itu, mereka berhenti terlalu lama di titik yang sama.

Mira menatap data di layar, lalu kode aksesnya yang masih aktif. “Mereka sudah menangkap bayangan anomalinya.”

Kaelen mengencangkan rahang. “Secepat ini?”

“Status anomali-mu membuat mereka lapar.” Mira mematikan satu sensor, lalu satu lagi. “Begitu menara mencium pola yang tidak cocok, mereka biasanya tidak menunggu sampai pagi.”

Kaelen menggeser posisi kakinya, menghitung jarak ke pintu, ke lorong servis, ke tempat mungkin mereka bisa kabur jika perlu. Namun inspektur tak perlu melihat semua ini untuk menganggap mereka salah. Begitu frame-nya tercatat, semua gerak menjadi bukti. Bahkan diam pun bisa dibaca.

Dari luar, bunyi mekanik berat terdengar sekali lagi. Bukan di bengkel. Di jalur atas. Seperti sesuatu yang sedang melakukan pencatatan ulang.

Mira menatap rangka Kaelen yang baru saja ia paksa menerima tubuh baru dari bangkai rival. Koneksi pendingin ilegal masih berdenyut di dalamnya. Komponen kanibal membuat mesin itu lebih kokoh, tapi juga lebih mencolok. Jika menara menemukan pola itu, mereka tidak akan melihat perbaikan. Mereka akan melihat pelanggaran.

Atau sesuatu yang lebih menarik: aset langka yang pantas disita sebelum orang lain memanfaatkannya.

Kaelen menyentuh dada rangka, merasakan getaran halus dari modul purwarupa di dalam sana. Log tempur yang tersembunyi di balik sistem servis itu seolah ikut mendengung, menunggu kesempatan berikutnya untuk memaksa limiter panas menyerah.

Dan saat Mira memaksa rangka tua itu menelan bahan kanibal dari bangkai rival, detektor keamanan menemukan pola energi yang membuat bengkel mereka jadi target inspeksi.

Mira memandang Kaelen sekali, singkat dan keras. “Kita tidak punya waktu untuk rapi.”

Kaelen mengangguk.

Di atas mereka, suara drone berubah arah.

Sebelum fajar, penyitaan sudah berjalan.

Lantai dua bukan soal cepat, melainkan bertahan—dan kalau Kaelen berhasil keluar hidup-hidup dari malam ini, peringkatnya akan naik cukup tinggi untuk membuat Vane berhenti tersenyum.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced