Harga Sebuah Peringkat
Begitu Kaelen melangkah keluar dari gerbang Proving Ground, udara Kota Vertikal terasa lebih tajam, lebih menekan. Lonceng ketiga belum berdentang, namun papan harga di Pasar Sekte sudah bergerak liar, merespons data performa yang baru saja ia catatkan.
Di lorong penilaian, angka hijau pada sel baterai cadangan merosot, lalu digantikan garis merah tebal. Komponen pendingin melambung dua kali lipat. Selang daya yang tadi pagi masih bisa ia cicil kini diberi segel emas—tanda barang itu dikunci untuk akun prioritas. Jalur beli murah yang menjadi napas hidupnya mendadak tertutup cap abu-abu: Akun Prioritas Saja.
Kaelen berhenti. Sepatu botnya berderit di atas lantai batu yang lembap. Di sampingnya, Mira menatap papan itu dengan mata menyipit, jemarinya bergerak cepat di atas tablet servis, melacak setiap perubahan harga yang sengaja dirancang untuk mematikan langkahnya.
"Mereka tidak menunggu kita gagal," bisik Mira. "Mereka menunggu kita menang agar bisa menaikkan harga oksigen kita."
Kaelen tidak menjawab. Ia tahu permainan ini. Di Pasar Sekte, bakat bukan janji; itu adalah aset yang harus dibeli murah, diperas, lalu dipanen reputasinya. Sebelum ia sempat bergerak, seorang broker dengan pakaian licin—tanpa noda oli sedikit pun—melangkah keluar dari kerumunan.
"Kaelen," panggil broker itu, suaranya sengaja dikeraskan. "Nama yang naik cepat di lantai pertama selalu menarik minat pihak yang tepat."
Broker itu menyodorkan kartu penawaran tipis. "Log purwarupamu. Serahkan salinan mentahnya. Kami akan menenangkan daftar harga suku cadangmu. Jalur kelas rendah akan dibuka kembali. Bahkan, bunga utangmu bisa dibicarakan ulang."
Angka 18 koin bunga utang hari ini adalah jerat yang nyata. Jika ia menolak, penyitaan akan datang sebelum fajar. Jika ia setuju, ia kehilangan satu-satunya keunggulan yang ia miliki.
Kaelen menatap kartu itu, lalu menatap papan harga yang kini menutup semua celah baginya. Ia mengambil kartu tersebut, merobeknya tepat di tengah, dan membiarkan serpihannya jatuh di depan sepatu sang broker.
"Kalau pasar cuma mau membeli kemajuan saya dengan harga murah," ucap Kaelen lantang, "maka saya lebih baik tetap miskin."
Keheningan menyergap lorong itu. Wajah broker mengeras, topeng ramahnya retak. "Kau tidak mengerti apa yang kau tolak, Kaelen. Kau baru saja membuat dirimu menjadi target."
Broker itu berbalik, dan seketika itu juga, papan harga di belakangnya berubah lagi. Semua jalur pembelian komponen kelas rendah ditutup total. Itu bukan lagi sekadar kenaikan harga; itu adalah hukuman.
*
Bengkel mereka, yang menempel di rel servis Pasar Sekte, terasa lebih pengap saat mereka kembali. Frame mech Kaelen berdiri di atas penyangga, panel sampingnya terbuka seperti tulang yang dibedah. Modul purwarupa di dalam dadanya berdenyut, memancarkan panas yang tidak stabil.
Mira menempelkan alat baca ke port inti. "Kalau kamu memaksa output penuh lagi tanpa suplai yang stabil, lutut kanan dan jalur pendingin belakang akan terbakar. Dalam dua dorongan, kamu akan meninggalkan jejak energi yang bisa dibaca sensor menara dengan mudah."
"Jejak yang bisa dipakai untuk penyitaan?"
"Jejak yang bisa dipakai siapa pun yang punya meterai dan niat jahat," jawab Mira. Ia mengeluarkan baut tua dari kantong kain—baut kanibal dari bangkai rival.
Kaelen menatap baut itu. "Kalau dipasang, jejaknya?"
"Lebih kotor, tapi lebih stabil. Ini satu-satunya cara agar kamu bisa naik ke lantai dua tanpa meledak di tengah jalan."
Kaelen mengangguk. "Pasang."
Mira bekerja dengan presisi dingin. Saat baut itu terpasang, kestabilan suplai di layar naik beberapa poin. Namun, saat ia membuka lapisan data tersembunyi pada modul purwarupa, sebuah baris kode muncul: Mode Output Cadangan: Bypass Heat-Limiter.
"Ini bukan kerusakan," gumam Mira. "Ini disembunyikan dengan sengaja."
Sebelum Kaelen sempat bertanya, tablet Mira berbunyi pendek. Sebuah peringatan dingin muncul di layar: Anomali Terdeteksi. Pola energi teridentifikasi.
Mira menutup tablet dengan sentakan halus. "Detektor keamanan baru saja membaca pola energi kita. Bengkel ini bukan lagi tempat aman. Mereka akan datang sebelum fajar."
Kaelen menatap frame-nya. Ia baru saja membuktikan nilainya, dan sebagai balasan, dunia di bawahnya menagih lebih cepat. Ia tidak punya waktu untuk takut. Ia hanya punya waktu untuk mendaki.
"Kita jalan ke rel timur sekarang," kata Kaelen, meraih helmnya. "Kita butuh bahan bakar itu, dan kita butuh lantai dua sebelum mereka sempat menyegel bengkel ini."
Di luar, lonceng fajar mulai menghitung mundur. Kaelen melangkah keluar, menyadari bahwa setiap langkah naik kini bukan lagi tentang ambisi, melainkan tentang bertahan hidup di bawah tatapan menara yang mulai menyadari keberadaannya.