Novel

Chapter 3: Lantai Pertama: Panggung Kebohongan

Kaelen berhasil mendaftarkan mech-nya yang berstatus anomali ke Proving Ground melalui pertaruhan jaminan teknisi Mira. Di arena, ia menggunakan log tempur purwarupa untuk memecahkan rekor waktu Lantai Pertama melalui manuver yang memaksa output daya ke level mustahil. Kemenangan ini memicu perhatian Pengawas Menara dan mengubah statusnya di pasar sekte, sekaligus menutup akses murah yang ia butuhkan untuk perbaikan, memaksa Kaelen menghadapi tekanan yang lebih besar tepat saat ia baru saja membuktikan nilainya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Lantai Pertama: Panggung Kebohongan

Kaelen mendorong frame-nya melewati ambang Proving Ground dengan sisa waktu yang terasa seperti belati di tengkuk. Kurang dari dua jam sebelum lonceng ketiga, batas pelunasan dan pengesahan sita hari ini akan jatuh. Jika ia tidak mencatatkan performa yang cukup untuk membatalkan status 'anomali' yang ditempelkan petugas meterai pada lambung mech-nya, fajar nanti hanya akan membawa penyitaan paksa.

"Unit recall dengan deteksi otomatis?" Petugas pendaftaran di lobi bahkan tidak mendongak saat menempelkan strip kuning pada lambung mech Kaelen. "Daftar ditahan sampai pemeriksaan manual."

Di belakangnya, tawa pendek Vane memotong udara. Rivalnya itu berdiri santai di bawah layar papan peringkat, seragamnya bersih tanpa noda oli. "Masih nekat? Menara belum selesai menganggapmu sampah, Kaelen? Atau kau memang ingin dipungut lagi oleh pasar sebelum fajar?"

Kaelen mencengkeram rel kontrol, merasakan getaran panas dari modul purwarupa di balik pelat dada. Output itu nyata—terbaca di panel, terasa di respons servo—tetapi begitu juga risikonya. Ia menatap Mira yang berdiri di balik garis pembatas, memberikan anggukan tegas. Mira menaruh jaminan teknisi terakhirnya sebagai biaya pendaftaran tambahan, sebuah pertaruhan yang memaksa sistem menara menerima unit anomali tersebut ke dalam daftar tempur malam itu.

Saat gerbang arena terbuka, hawa dingin menara disapu oleh panas menyengat dari lintasan uji. Tiga drone penjaga turun dari celah langit-langit, formasi mereka rapat, dirancang untuk mematahkan frame murah dengan memaksa panas naik melampaui batas. Kaelen menekan tuas. Frame-nya melompat, sendi lutut mengeluarkan derit logam serak, namun kecepatannya melampaui statistik standar untuk kelas rongsokan. Ia tidak melawan arus drone; ia justru membiarkan mereka mendekat, lalu melakukan manuver slingshot yang mustahil, memanfaatkan jalur bypass heat-limiter yang sengaja disembunyikan di log purwarupa.

"Dia gila," gumam seseorang di tribun. Kaelen tidak mendengar. Di kepalanya, angka panas berdenyut: 71, 76, 80 persen. Jika menyentuh 82, limiter akan memotong dorongan secara total.

Gelombang kedua datang: drone pemotong dengan pola acak. Kaelen tidak membuang energi untuk menghindar secara konvensional. Ia membaca pola log tempur yang tersembunyi—sebuah algoritma yang tidak hanya menyerang, tapi memprediksi titik buta sensor drone. Dengan satu entakan, ia merobek formasi drone, membuat mereka bertabrakan dalam tarian kehancuran yang presisi.

Di tribun VIP, Vane berhenti tersenyum. Angka efisiensi Kaelen di papan peringkat melonjak tajam, menyalip para pendaki kelas rendah yang sombong. Pengawas Menara yang tadinya acuh tak acuh, kini mencondongkan tubuh, matanya terkunci pada layar evaluasi yang menunjukkan output 143 persen—angka yang seharusnya mustahil bagi rangka yang sudah diputuskan untuk ditarik.

"Sekali sprint. Jangan ulang," suara Mira masuk ke kanal servis, tegang. "Sendi kiri tidak akan tahan jika kamu paksa belok lagi."

Kaelen menatap jalur lurus terakhir. Tiga drone penjaga berdiri sebagai gerbang finis. Ia menarik tuas hingga batas maksimal, mengabaikan peringatan panas yang kini berubah menjadi warna merah pekat di visor. Frame-nya meraung, sebuah jeritan logam yang dipaksa melampaui takdirnya. Ia menembus garis finis tepat saat sistem menara mengunci waktu tempuhnya.

Detik berikutnya, papan peringkat berkedip. Nama Kaelen naik satu tingkat. Namun, bersamaan dengan itu, alarm pengawas menyalak—bukan karena kegagalan, melainkan karena sistem menara baru saja menyadari bahwa unit yang baru saja memecahkan rekor ini adalah unit yang seharusnya disita sebagai anomali. Di saat yang sama, layar pasar sekte di luar arena memperbarui harga suku cadang, menutup jalur beli murah yang tadi masih terbuka, dan menggantinya dengan harga premium yang mencekik. Kaelen tidak hanya memenangkan lantai pertama; ia baru saja membuat dirinya terlalu berharga untuk dibiarkan bebas, dan terlalu berbahaya untuk dibiarkan mendaki lebih jauh tanpa pengawasan ketat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced