Sinyal yang Terlarang
Kaelen baru sempat menelan napas ketika pintu besi bengkel bawah tanah Mira menutup rapat. Di luar, lorong servis Pasar Sekte masih riuh oleh roda troli dan doa para pedagang yang takut barangnya turun harga. Di dalam, udara terasa lebih berat: bau oli tengik, panas sisa mesin, dan papan utang yang tergantung di dekat meja uji seperti vonis mati.
Angka di papan itu tetap 18 koin. Bunga hari ini, denda telat, dan ongkos sita jika lonceng ketiga berdentang. Nilai jual seluruh rangka mech-nya bahkan tak cukup menutupi bunga tersebut. Pasar Sekte tidak melihat Kaelen sebagai pilot; mereka melihatnya sebagai bekas recall memalukan yang harganya terus tergerus setiap jam.
Mira berdiri di sisi meja kerja, lengan bajunya digulung hingga siku. Matanya terkunci pada meterai merah yang menyala redup di rangka recall Kaelen. Itu tanda bahwa unit tersebut bukan sekadar rusak; ia sudah masuk daftar sita.
"Kau membawa perhatian menara kemari," desis Mira.
"Kalau aku tidak membawanya, mereka akan menyitanya sebelum fajar," jawab Kaelen. Bahunya nyeri setelah menarik rangka itu melewati dua gang sempit.
Mira mengusap scanner kecil ke modul yang mereka buka kemarin. Jarum di layarnya melonjak tajam. "Ini bukan data servis. Ini log tempur purwarupa."
Kaelen menatapnya. "Aku sudah bilang."
"Kau tidak paham," Mira menatap balik, ada kemarahan yang tertahan. "Log ini punya jalur bypass untuk heat-limiter. Ini bukan kerusakan, Kaelen. Ini fitur yang sengaja disembunyikan. Seseorang ingin frame ini bisa menekan lebih jauh daripada standar menara."
Kaelen menegakkan badan. "Bisa dipakai untuk menang?"
"Bisa, tapi tidak gratis. Panas akan naik dua kali lipat. Konektor bisa gosong. Kita hanya punya satu kesempatan sebelum sirkuitnya meledak."
"Kalau tidak dicoba, kita dapat nol," tegas Kaelen.
Mira menghubungkan modul ke meja uji. Layar berkedip, menampilkan tiga lapis data: output dasar, batas limiter, dan satu jalur gelap di bawahnya. Kaelen menempelkan telapak tangan ke panel kendali. Permukaan logamnya dingin, namun ada getar kecil seperti mesin yang menahan napas.
"Begitu aku beri arus, jangan hentikan," instruksi Mira. "Sinkronisasi penuh atau sirkuitnya hancur."
Mira menekan saklar.
Satu garis biru melintas di layar. Angka output melonjak. Stabilizer kanan yang biasanya mati-hidup kini berdengung stabil. Lengan kiri frame—yang sejak pagi tersendat—bergerak halus, seolah beban yang menekan sendi-sendinya lenyap. Respons frame menjadi instingtif.
"Naik lagi," perintah Mira.
Kaelen menekan tuas. Jarum panas merayap ke zona merah. Bau ozon menguat. Di layar, output menyalip standar rongsokan dengan selisih yang mustahil diabaikan. Ini bukan sekadar data; ini bukti bahwa frame murah ini bisa memaksa menara merevisi nilainya.
Namun, layar bengkel tiba-tiba berkedip merah. Suara tanpa emosi keluar dari speaker: "Anomali energi terverifikasi. Unit terdaftar: recall Kaelen. Status: ditandai untuk penyitaan sebelum fajar."
Mira mematikan panel, tapi notifikasi sudah terkirim. Langkah kaki teratur terdengar di luar—petugas meterai.
"Sudah terlambat untuk berpura-pura ini servis biasa," kata Mira. Ia menatap Kaelen, kilatan masa lalunya sebagai teknisi elit yang dibuang karena melanggar aturan kini terlihat jelas. "Kalau kita diam, mereka sita. Kalau kita bawa ke Proving Ground sekarang, kita paksa mereka melihat hasilnya di depan publik. Jika output ini nyata, mereka tidak bisa menyita aset yang sedang mencetak rekor di arena."
Kaelen mengangkat frame-nya. Beratnya tetap sama, tapi sekarang berat itu punya arti baru: bukti bahwa ia bukan lagi sekadar statistik kecil.
"Dan kalau mereka menolak pendaftaran?" tanya Kaelen.
"Berarti mereka takut," jawab Mira dingin.
Mereka melangkah ke pintu belakang saat alarm sistem menara berbunyi lagi, menghitung mundur waktu penyitaan. Papan keadaan telah berubah: Kaelen bukan lagi anak utang, melainkan pemilik anomali yang sedang diburu. Dan di depan sana, Proving Ground sudah menunggu dengan lantai pertama yang akan menguji apakah angka-angka ini bisa bertahan di bawah tatapan Vane dan para pengawas menara.