Bangkai di Pasar Sekte
Bunga hari ini: 18 koin.
Kaelen menatap angka itu di papan tawar Pasar Sekte dan tahu ia sudah kalah sebelum mulutnya dibuka. Di bawah lampu minyak yang dicampur dupa, lorong penilaian aset dipenuhi meja timbang, cap meterai, dan wajah-wajah yang datang untuk satu tujuan: membeli kelemahan semurah mungkin.
Di ujung lorong, papan peringkat menara provinsi menjulang di atas gerbang besi. Nama-nama baru berganti segel merah, naik satu tier, naik dua. Nama Kaelen tidak ada. Bukan karena ia tak pernah masuk uji. Bukan karena frame-nya tak pernah berdiri. Tapi karena recall memalukan tiga bulan lalu menurunkannya dari calon pendaki menjadi catatan risiko.
Frame yang ia parkir di rel servis belakang kios tampak seperti mayat yang belum sempat dikubur. Satu lengan aktuator patah di siku. Pelat dada retak. Modul sensor gosong. Bau logam terbakar masih menempel di telapak tangannya. Kalau ia menjual semua komponen hari ini, mungkin cukup untuk bayar bunga. Mungkin.
Kalau gagal, serikat menarik frame itu sebelum malam habis.
“Kaelen.”
Suara penagih utang itu tak keras, tapi cukup untuk membuat beberapa pembeli pura-pura sibuk. Jubah serikatnya rapi, cap sita tergantung di pinggang. Di sampingnya, pedagang pasar sekte dengan gelang doa menilai pelat inti seperti menilai daging yang sudah mulai turun mutu.
“Bunga hari ini,” kata penagih itu sambil membuka catatan. “Belum termasuk denda telat dua jam.”
Kaelen menurunkan peti kain ke meja timbang. Di dalamnya ada modul servo, baterai cadangan setengah mati, dua pelat penyeimbang, dan potongan kabel inti. Semua itu dulu menjaga mech-nya tetap berdiri di lantai uji. Sekarang hanya terlihat seperti rongsok yang dipilih terlalu hati-hati agar masih bisa disebut aset.
Pedagang itu meliriknya dari atas ke bawah. “Ini bekas recall, kan? Yang bikin pilotnya turun tanpa lulus.”
Kaelen tidak menjawab.
“Nama yang jatuh itu memang paling enak diperas,” lanjut si pedagang dengan senyum tipis. “Murah dibeli, mahal dipulihkan.”
Beberapa orang di belakang meja timbang menahan senyum. Pasar Sekte memang punya cara sendiri mengajari orang miskin: bakat bukan janji. Bakat adalah barang yang dibeli saat lemah, dibesarkan di tangan orang lain, lalu reputasinya dipanen ketika sudah berguna.
Dan Kaelen sedang dijual sebagai barang murah.
“Berapa?” tanyanya.
Penagih utang mengetuk lembar catatan. “Untuk semua yang kau bawa? Tujuh koin. Delapan kalau pedagang ini sedang murah hati.”
Kaelen menahan rahangnya. “Bunga hari ini delapan belas.”
“Belum termasuk denda.” Penagih itu membalik halaman. “Kalau hitung ongkos sita dan penyimpanan sampai malam, kau masih kurang sebelas.”
Pedagang pasar sekte mengangkat bahu. “Kalau kau mau, aku bisa bantu lelang sisa frame-nya juga. Tapi bangkai recall cepat jatuh harga kalau semua orang sudah tahu namamu.”
Kaelen tahu permainan itu. Mereka tidak sedang menawar logam. Mereka sedang menunggu apakah ia akan memohon, supaya penghinaan bisa dicatat sebagai kesepakatan.
Ia tidak memohon.
Kaelen membuka peti kain itu lebih lebar dan mengeluarkan modul memori yang retak, dilapis pelindung setipis kulit telur. Sisi luarnya hitam terbakar. Satu sudutnya meleleh. Tapi inti penguncinya masih utuh.
“Beli ini juga,” katanya. “Kalau kalian berani menilai tanpa membukanya.”
Lorong itu mendadak diam.
Pedagang itu mengernyit. “Modul memori korup? Kau kira itu menambah harga?”
“Bisa jadi tidak korup,” kata Kaelen.
Penagih utang mendengus. “Kau punya sepuluh menit sebelum petugas meterai datang. Jangan jual dongeng.”
Kaelen meletakkan modul itu di atas meja timbang. Saat penutup belakangnya dibuka, bau ozon dan logam panas menyeruak. Lampu inspeksi memantul di kisi memori yang retak, lalu menangkap lapisan dalam yang tidak seharusnya ada: jalur transfer cadangan, output tersembunyi, dan segel produsen yang ditimpa ulang dengan kode bengkel yang tak tercantum di daftar publik.
Mira datang seperti orang yang sudah muak dipanggil hanya saat ada benda yang harus diselamatkan.
Ia menyelip di antara dua pembeli, rambut diikat asal, jas teknisi penuh noda oli, mata tajam yang membuat orang-orang refleks mundur setengah langkah. Di Pasar Sekte, reputasinya juga buruk—eks teknisi serikat yang terlalu sering membela mesin rongsokan dan terlalu sering melawan orang yang lebih suka angka daripada bukti. Tapi tangan terampil yang sudah dibakar reputasi masih lebih mahal daripada banyak orang yang masih bersih.
“Minggir,” kata Mira.
Penagih utang menatapnya. “Kau bukan penjamin.”
“Aku orang yang bisa membaca bekas las lebih cepat daripada kau membaca kuitansi.” Mira mengulurkan tangan. “Kalau mau frame itu hidup sampai malam, jangan ganggu.”
Kaelen mundur setengah langkah. Kalau Mira bicara setegas itu, berarti ia melihat sesuatu yang seharusnya tak ada.
Mira memutar modul memori dengan jari kotor oli, menyorot retakan paling dalam. Ia tak terburu-buru. Justru itu yang membuatnya berbahaya: tiap detik diam berarti ia sedang menemukan sesuatu yang makin mahal, atau makin buruk.
“Ada bekas pembatasan panas,” gumamnya. “Bukan dari produksi biasa.”
Pedagang pasar sekte mencibir. “Semua bangkai punya bekas panas.”
“Tidak seperti ini.” Mira menunjuk jalur tipis di balik retak. “Ini jalur output cadangan. Disembunyikan. Dibuat untuk mode yang tidak mau tercatat di log utama.”
Kaelen menegakkan badan. “Maksudnya?”
Mira meliriknya sebentar. “Maksudku, frame ini pernah dipakai untuk sesuatu yang tidak boleh diketahui pasar.”
Penagih utang langsung mengerutkan dahi. “Kau memancing alasan agar lelang ditunda?”
“Tidak.” Mira menggeser pelat korup dengan alat tipis. “Aku memancing alasan kenapa barang rongsokan ini mungkin punya nilai yang belum kalian hitung.”
Pintu belakang lorong terbuka. Dua petugas meterai masuk dengan seragam menara provinsi, stempel kuning di tangan. Kehadiran mereka saja cukup untuk menurunkan suhu ruang.
“Surat sita atas nama Kaelen Raka,” kata salah satu. “Aset diambil bila pelunasan tidak disahkan sebelum lonceng ketiga.”
Kaelen menatap catatan utangnya lagi. Semua komponen di meja, bahkan jika dijual dengan harga paling baik, masih jauh di bawah bunga hari ini. Belum denda. Belum sita. Belum biaya orang-orang rapi yang menghukum orang miskin karena terlalu lama miskin.
Tidak ada jalan aman.
Mira menahan napas lalu menekan satu titik di sisi modul.
Sesuatu di dalamnya menjawab. Bukan cahaya, melainkan respons. Lampu inspeksi berdenyut sekali. Jarum alat ukur daya di meja timbang bergerak naik sepersekian garis. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk membuat Mira membeku.
“Ulangi,” kata Kaelen.
Mira tak menjawab. Ia menelusuri jalur tersembunyi itu lebih hati-hati, membuka lapisan pelindung yang mengelupas seperti kerak terbakar. Lalu di balik retak yang seharusnya mematikan modul, muncul saluran data yang masih terkunci rapat: log pertempuran purwarupa, tertanam di inti memori yang rusak.
Bukan log bengkel.
Bukan catatan servis.
Data tempur.
Kaelen membaca layar kecil di tangan Mira dan merasa tenggorokannya mengetat. Ada waktu respons yang tak cocok dengan frame standar. Ada distribusi daya yang melampaui spesifikasi publik. Ada pola aktivasi yang menunjukkan unit ini pernah dipaksa melewati batas aman—dan berhasil.
Pedagang pasar sekte mundur setengah langkah. “Itu tidak mungkin.”
Mira menatap angka daya yang naik lagi. “Ternyata mungkin.”
Penagih utang mendekat, suaranya turun. “Kalau modul itu asli, nilainya bukan lagi sekadar rongsok. Tapi kalau data tersembunyinya sampai menarik perhatian menara…” Ia berhenti di sana.
Kaelen tahu kelanjutannya: anomali, audit, penyitaan cepat. Kata-kata bersih untuk malapetaka.
Salah satu petugas meterai sudah menempelkan scanner ke rangka frame Kaelen di rel servis belakang. Layar kecilnya berkedip merah.
“Ada pembacaan keluar dari ambang normal,” katanya.
Mira menutup setengah modul itu, tapi terlambat. Jarum alat ukur daya sempat melonjak lagi. Untuk sepersekian detik, layar penilaian di meja depan memantulkan angka yang seharusnya tidak lahir dari bangkai recall.
Output naik.
Belum cukup untuk menang. Belum cukup untuk aman. Tapi cukup untuk mengubah harga.
Cukup untuk membuat orang-orang di lorong itu berhenti memandang Kaelen sebagai korban yang bisa diperas seenaknya.
Dan cukup untuk membuat menara memperhatikannya.
Kaelen meraih modul itu sebelum pedagang sempat mengulur tangan.
“Jangan jual,” katanya.
Penagih utang menatapnya seperti orang yang baru saja memilih melompat ke air yang belum tentu punya dasar. “Kalau kau menahan aset yang sudah disita—”
“Aku tahu.”
“Kalau data itu palsu—”
“Aku tetap hancur.” Kaelen menutup jari di atas modul retak itu. Panas samar merembes dari permukaannya. “Tapi kalau ini asli, aku punya satu pendakian lagi.”
Mira memandangi dia beberapa detik. Lalu ia menggeser alatnya ke sisi meja. Tidak ada senyum. Tidak ada janji. Hanya keputusan yang cukup mahal untuk dipercaya.
Di belakang mereka, petugas meterai berbicara cepat ke radio. Seseorang menyebut kata anomali. Seseorang lagi menyebut penundaan pengesahan. Pasar yang tadi ingin menutup angka mendadak berubah menjadi tempat semua orang ingin melihat siapa yang akan membayar lebih dulu.
Kaelen menunduk ke modul memori purwarupa itu. Bangkai yang tadi dinilai lebih murah daripada bunga utang kini punya denyut data yang tak seharusnya hidup. Ia belum tahu lantai mana yang memaksa mesin ini melampaui batas. Belum tahu siapa yang menyembunyikan log tempur di dalamnya. Belum tahu berapa besar harga yang akan dipungut menara saat kecurigaan itu naik ke atas.
Tapi untuk pertama kalinya hari itu, defisitnya bukan cuma lubang.
Itu juga jalan masuk.