Novel

Chapter 10: Pengkhianatan di Puncak

Raka terjebak di lantai tiga saat Bhaskara Awan meluncurkan unit elit untuk menghapusnya. Raka menggunakan bukti konspirasi untuk memicu reset sistem menara, memaksa audit publik yang mengguncang papan peringkat. Di tengah krisis, Sari Purnama memilih untuk tidak membantu, membiarkan Raka berjuang sendirian melawan unit elit yang tersisa.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pengkhianatan di Puncak

Alarm penarikan menjerit, membelah kesunyian ruang arsip lantai tiga. Di dinding, angka merah menyala: 03:37:12. Itu bukan sekadar waktu; itu adalah sisa napas frame-ku sebelum ditarik paksa oleh sekte.

Aku tersungkur di balik rak besi, napas memburu. Sambungan kanan frame-ku berderit, nyaris putus. Log prototipe yang menyatu dengan sarafku mengirimkan sengatan listrik—sebuah pengingat bahwa kekuatan ini memiliki harga yang dibayar dengan daging dan logam.

"Subjek Raka Wira," suara Bhaskara Awan menggema dari kanal audit, dingin dan tanpa emosi. "Frame tidak memenuhi kuota. Serahkan akses arsip. Jangan memperpanjang kerugian sekte."

Di koridor, tiga unit elit muncul. Helm mereka memancarkan cahaya merah yang mematikan. Mereka tidak datang untuk menangkap; mereka datang untuk menghapus bukti konspirasi yang kusimpan.

Aku tidak punya waktu untuk takut. Aku menempelkan modul bukti digital ke terminal arsip. Layar berkedip, menampilkan peta jalur servis yang disembunyikan sekte. Pintu di sisi timur terbuka dengan dentuman logam tua. Aku melompat masuk, memanfaatkan celah sempit di antara rak data yang menyimpan sejarah kelam menara.

Di sana, aku menemukan baris kalibrasi yang cocok persis dengan kerusakan frame-ku. Bukan keausan. Bukan kecelakaan. Itu adalah sabotase sistemik yang dirancang Bhaskara untuk menjatuhkan pilot berbakat.

"Kau menandatangani luka ini sendiri, Bhaskara," bisikku.

Unit elit pertama menerobos masuk. Aku tidak lagi bertarung seperti pilot biasa; aku bertarung seperti orang yang tidak punya hak untuk kalah. Setiap gerakan dihitung oleh rasa sakit. Latensi 31% lebih cepat memberiku celah untuk menghindari tebasan maut. Aku membanting musuh ke rak data, memicu hujan chip arsip yang membutakan sensor mereka.

Namun, Bhaskara tidak berhenti. "Penggunaan liar mempercepat degradasi. Penarikan tetap dijalankan."

Lantai bergetar. Pintu servis di belakangku turun, memutus jalur mundur. Bhaskara menutup lantai. Aku terjebak di tengah kuburan reputasi ini. Aku menoleh ke panel sejarah; deretan nama pilot yang ditarik paksa muncul di layar. Ini bukan sekadar data; ini senjata sosial yang bisa menghancurkan reputasi sekte.

Aku menekan file bukti ke sistem inti, memaksa audit Bhaskara bertabrakan dengan protokol menara yang lebih tua. Sistem tersedak. Lampu hijau berubah menjadi putih menyilaukan. Rak data bergetar hebat.

Di papan dinding, angka tenggat menahan satu detik lebih lama, lalu seluruh panel peringkat berkedip serempak. Menara dipaksa melakukan reset. Peringatan baru menyapu layar: Batas lantai terlampaui. Protokol rekalibrasi darurat aktif.

Di tengah kekacauan, aku melihat pantulan Sari Purnama di layar yang retak. Ia mengamati dari jauh, menghitung nilai dari kekacauanku, lalu menutup saluran bantuan. Ia tidak akan menolong. Ia menunggu untuk melihat apakah aku akan hancur atau bangkit.

Aku berdiri di tengah ruang arsip yang bergetar. Sambungan kanan frame-ku tinggal 17%. Gelombang musuh baru mulai bergerak serempak. Aku tidak punya jalan keluar, hanya jalan untuk menembus batas yang dianggap mustahil. Jika aku jatuh, data ini akan meledak ke papan publik. Jika aku hidup, menara akan dipaksa mengakui bahwa pilot rongsokan bisa melampaui standar elit mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced