Menembus Batas
Lantai tiga bukan lagi ruang arsip; ia telah berubah menjadi tungku logam yang bergetar hebat. Sensor frame milik Raka Wira menjerit, menampilkan angka integritas yang merosot tajam ke angka 17%. Di luar, sistem menara sedang melakukan rekalibrasi darurat, memicu kilatan cahaya biru yang menyilaukan dan membuat unit-unit elit Bhaskara Awan kehilangan koordinasi.
"Target terkunci. Eksekusi segera," suara mekanis dari unit elit bergema, namun gerakan mereka tersendat. Efek reset sistem membuat sistem bidik musuh berkedip liar. Raka tidak membuang waktu. Ia menarik tuas kendali, merasakan getaran kasar dari log prototipe yang tertanam di sambungan kanan framenya. Data terlarang itu bukan sekadar instruksi; itu adalah peta retakan pada armor musuh yang tak terlihat oleh pilot biasa. Dengan satu dorongan paksa, ia meluncur, mengabaikan peringatan sistem tentang beban berlebih pada sambungan yang hampir putus. Brak! Frame rongsokan Raka menghantam unit elit terdepan tepat di bagian sendi lutut yang terpapar. Unit itu tumbang, sensornya padam dengan suara statis yang memekakkan telinga.
Di ruang kontrol, Sari Purnama berdiri mematung. Lampu merah berkedip seperti denyut luka di layar utamanya. Angka peringkat Bhaskara Awan turun satu baris demi satu baris, bukan karena serangan fisik, melainkan karena data konspirasi yang kini menyatu ke protokol audit menara.
"Putus aliran itu," desis Bhaskara, menampar meja kontrol hingga segel log berderit. "Hapus log sebelum auditor publik masuk. Sekarang!"
Sari tidak bergerak. Ia menatap papan peringkat yang baru saja memunculkan lonjakan keterbacaan publik: nama Bhaskara diberi tanda merah, lalu ikon pengawasan. Di sisi lain layar, nama Raka Wira—yang tadi dianggap komoditas gagal—naik satu tingkat karena sistem menandai kontribusi data audit aktif. Sari hanya menyentuh satu pengaturan: ia membiarkan broadcast audit itu tetap terbuka. Ia tidak mengirim jalur aman, tidak membuka kanal cadangan. Ia membiarkan Raka menjadi anomali yang membakar otoritas Bhaskara dari dalam.
Di lantai tiga, Raka merasakan napasnya memburu di balik helm yang retak. "Sari, kau benar-benar membiarkanku mati di sini?" gumamnya parau, sementara sisa latensi 31 persen pada antarmuka mulai membakar sirkuit sarafnya. Ia tidak punya waktu untuk negosiasi. Raka memaksa sambungan kanan frame-nya yang sudah retak untuk melakukan overclock paksa. Log prototipe mengalir, membakar sirkuit sarafnya dengan data mentah yang terlalu besar untuk ditampung. Ini adalah pertaruhan terakhir: mengorbankan fungsi motorik lengan kanannya demi menyuntikkan kode akses ke inti menara.
"Buka pintu itu!" teriak Raka.
Suara dentuman logam yang mengguncang seluruh menara terdengar saat pintu lantai empat terbuka. Pintu itu bukan sekadar akses, melainkan gerbang menuju tantangan yang jauh lebih besar. Raka melangkah masuk, meninggalkan lantai tiga yang hancur. Di bawah, papan peringkat menara kini terpampang nyata: Raka Wira bukan lagi pilot gagal, melainkan anomali yang mengubah standar menara selamanya. Ia tahu, saat kakinya menjejak lantai empat, dunia di bawah tidak akan pernah sama lagi. Ia tidak bisa kembali, dan ia tidak akan berhenti.