Bayang-bayang Bhaskara
Bau oli bekas dan amis garam laut di bengkel Manto terasa menyesakkan. Raka menatap sambungan kanan frame-nya di bawah lampu sorot. Itu bukan keausan akibat gesekan lantai dua. Itu adalah potongan mikro yang presisi, dibuat dengan alat kalibrasi resmi arena.
"Ini sabotase, Raka," bisik Manto, suaranya parau. "Bhaskara Awan tidak hanya mengawasi. Dia memotong jalur saraf frame-mu agar saat kau naik ke lantai tiga, sistemmu akan lumpuh total."
Jantung Raka berdegup kencang, sinkron dengan detak log prototipe yang kini terasa seperti denyut nadinya sendiri. Jika dia tidak segera memperbaiki ini, frame-nya akan hancur di bawah gravitasi lantai tiga. Namun, perbaikan akan memicu log audit otomatis. Di luar jendela, siluet petugas audit sekte sedang memeriksa unit-unit lain. Tenggat waktu penarikan aset: 03:37:12. Angka merah itu berkedip di papan peringkat digital, pengingat bahwa nyawanya sebagai pilot sedang dihitung mundur.
*
Hitung mundur di papan siaran bergeser ke 03:37:12 saat Raka menyeret frame-nya ke mulut koridor utama. Sambungan kanan yang ia segel darurat berbunyi tiap langkah—logam tipis yang memekik. Bhaskara Awan berdiri di platform siaran, seragamnya rapi tanpa noda.
"Pilot yang menang karena keberuntungan sering menutupi kerusakan dengan tuduhan," ujar Bhaskara melalui pengeras suara. "Sistem mencatat sambungan rusak saat duel. Itu cukup untuk audit penarikan."
Raka tidak mundur. Ia menekan panel samping ke kamera arena. Suara klik tajam memotong kerumunan. "Kalau ini kelalaian saya, kenapa ada potongan mikro di dalam soket?" Ia menyelipkan satu keping chip hitam ke bawah lampu sorot. "Ini bukan aus. Ini sabotase dengan alat kalibrasi tingkat tinggi. Siapa yang punya akses ke sana, Bhaskara?"
Keheningan menyelimuti koridor. Kamera arena berputar, menyorot chip tersebut. Bhaskara tersenyum tipis. "Tuduhan serius, Wira. Tapi prosedur tetap prosedur. Kamu punya waktu sampai penarikan aset berakhir untuk membuktikan frame-mu layak, atau kau akan kehilangan segalanya."
*
Kembali ke bengkel, Raka terhuyung masuk. Tangan kanan frame-nya mengeluarkan percikan statis biru—log prototipe mulai menyatu dengan sistem sarafnya. Sari Purnama muncul dari bayang-bayang, melemparkan tablet holografik ke meja.
"Kontrak eksklusivitas, Raka. Tandatangani, dan aku akan menghapus jejak digital audit Bhaskara. Kamu akan menjadi pilot utama sekte, dengan sumber daya tak terbatas. Tapi, semua data log prototipe itu menjadi milikku."
Raka menatap kontrak itu. Jika ia menandatangani, ia selamat dari Bhaskara, tapi ia kehilangan kendali atas kekuatan yang ia bangun dengan darahnya sendiri. Ia menolak dengan gelengan kepala. Manto mendekat dan mengunci pintu besi bengkel.
"Dia tidak akan berhenti," kata Manto, tangannya membuka lapisan pelindung terminal prototipe. Ia menempelkan chip tipis ke layar, memuntahkan deretan kode terlarang. "Bhaskara adalah arsitek di balik penarikan paksa frame-frame pilot berbakat. Dia tidak ingin pilot yang lebih kuat darinya; dia ingin mereka lenyap."
Di layar, Raka melihat potongan pertempuran lama: sambungan frame dilemahkan, izin lantai diputus, lalu aset ditarik atas nama stabilitas sekte. Raka menyimpan data itu langsung ke sarafnya—bukti yang bisa menghancurkan Bhaskara. Ia menatap daftar lantai di dinding. Lantai tiga bukan sekadar jebakan; itu adalah pintu menuju sejarah menara yang disembunyikan sekte. Dan ia memegang kuncinya.