Tantangan Terbuka Nadira
Tenggat waktu penarikan aset: 03:37:12.
Nama Raka Wira berkedip di papan arena—naik sebelas posisi setelah zona pertama lantai dua. Di bawah sorot siaran publik, itu bukan kemenangan. Itu umpan. Bhaskara Awan, sang auditor, berdiri di podium dengan mata yang tidak pernah lepas dari layar tabletnya, menunggu satu kesalahan teknis untuk menarik frame Raka secara permanen.
Di pintu servis arena, Raka merasakan nyeri yang menjalar dari tengkuk ke dada. Sambungan kanan frame-nya, yang baru saja diperbaiki Manto dengan suku cadang selundupan, terasa seperti luka terbuka yang dipaksa bergerak.
“Nadira Sela menuntut duel uji publik,” suara pengumuman arena menggelegar. Riuh penonton berubah menjadi pasar taruhan. Gelang digital menyala, angka-angka loncat seperti ikan di ember. Mereka tidak peduli pada kebenaran; mereka hanya ingin melihat apakah pilot rongsokan ini bisa dipermalukan.
Nadira muncul di platform elit. Frame-nya berlapis putih-perak, bergerak sehalus alat bedah. “Pilot itu curang,” suaranya membelah arena melalui speaker. “Data lantai dua dimanipulasi. Sambungan kanan frame-nya menyimpan komponen ilegal. Saya menuntut duel sekarang.”
Di kanal privat, suara Sari Purnama masuk, dingin dan tajam. “Kalau kau diam, asetmu ditarik. Kalau kau menang, nilai pasarmu naik. Pilih cepat.”
Raka melangkah maju. “Saya terima. Tapi jika saya menang, tuduhan itu dicatat sebagai fitnah terbuka.”
Nadira tersenyum, yakin kemenangan adalah hak garis keturunannya. Mereka masuk ke lantai pertempuran. Lampu sorot menyambar, menyoroti bekas las kasar di frame Raka—jejak perbaikan yang memalukan bagi kaum elit, namun bagi Raka, itu adalah bukti bertahan hidup.
Saat hitung mundur dimulai, log prototipe di dalam sistem saraf Raka berdenyut. Bukan lagi sekadar data; ia menyatu. Latensi turun 31%, keseimbangan naik 44%. Setiap gerakan terasa tajam, namun setiap detik membakar sarafnya.
Nadira menyerang. Frame elit itu melesat, pedang mekanisnya mengiris udara. Raka tidak menangkis; ia membiarkan serangan mengenai pelat luar sambungan kanannya. Percikan biru menyambar. Penonton bersorak, mengira Raka goyah.
Di balik helm, Raka tersenyum. Ia menangkap pola Nadira—terlalu presisi, terlalu bergantung pada sistem pabrik. Raka mematikan satu motor stabilizer, membiarkan frame-nya jatuh setengah langkah ke samping. Nadira maju untuk menghabisi, namun Raka memutar pinggul, menancapkan kaki, dan menghantamkan bahu mekanis ke siku lawan.
Dentuman keras mengguncang tribun. Nadira mundur, wajahnya berubah pucat. Raka tidak memberi jeda. Ia terus menekan, menggunakan gerakan-gerakan 'jelek' yang tidak diajarkan di sekolah pilot—memanfaatkan gesekan lantai, membiarkan pelat rusuknya retak demi memutus ritme lawan.
“Dia sengaja merusak dirinya sendiri!” teriak penonton.
Nadira menaikkan intensitas, menghantam bahu Raka hingga ia berlutut. Satu pukulan lagi, dan sambungan itu akan hancur. Raka membuka panel sisi kanan secara paksa—sebuah langkah gila—lalu melepaskan lonjakan daya ke kaki belakang. Ia menabrakkan Nadira ke dinding arena dengan momentum lawan sendiri.
Sambungan bahu kiri Nadira pecah. Frame putih-perak itu terhuyung, lumpuh. Arena meledak dalam sorak-sorai.
Raka turun dari kokpit dengan kaki gemetar. Ia menatap tribun. “Bukan mustahil,” ucapnya ke mikrofon. “Hanya mahal.”
Di balkon VIP, Sari Purnama menyipit, melihat angka latensi Raka yang kini terekam publik. Namun, Bhaskara Awan tidak bertepuk tangan. Ia menggeser tabletnya, memberikan perintah kepada asistennya. Audit tidak berhenti; ia berubah menjadi eksekusi hukum.
Di lorong keluar, Sari menunggu. “Kau menang, tapi kau lebih berbahaya sekarang. Bhaskara sudah bergerak. Dia akan mengubah hasil ini menjadi alasan hukum untuk memusnahkanmu.”
Sebelum Raka menjawab, notifikasi masuk dari Manto: Jangan balik ke jalur utama. Bhaskara adalah arsitek di balik penarikan paksa frame-frame pilot berbakat.
Raka terpaku. Kemenangan ini bukan akhir; ini adalah tanda bahwa ia telah menjadi target utama sistem.