Harga Sebuah Kemenangan
Tiga menit setelah papan lantai dua mengeluarkan nama Raka Wira dari baris merah, ia sudah berdiri di pasar sekte tepi pelabuhan dengan tenggorokan kering dan sambungan kanan yang tinggal 18 persen.
Hitung mundur di pergelangan tangannya tidak ramah. 03:37:12. Jika ia terlambat memperbaiki frame sebelum tenggat penarikan aset bergerak lagi, alat itu akan ditandai sebagai bangkai bergerak—dan Bhaskara Awan, dengan auditnya yang rakus, tidak akan melihatnya sebagai kerugian. Hanya barang sitaan yang belum sempat ditarik.
Pasar sekte selalu tahu cara menilai kelemahan lebih cepat daripada bakat. Di antara kios jimat teknis, rak baut bekas kapal patroli, dan meja lelang komponen yang basah oleh uap laut, orang-orang menimbang Raka seperti menimbang ikan yang mulai lunak: masih ada dagingnya, tapi tak banyak waktu sebelum harganya jatuh. Mereka menatap frame-nya, lalu menatap wajahnya, lalu kembali ke frame-nya, seolah tubuh pilot cuma bungkus dari aset yang hampir gagal.
Sari Purnama menunggunya di meja kaca sempit di bawah lampu kuning. Di depannya ada tablet harga, tiga kartu kontrak, dan cangkir teh yang tak disentuh. Wajahnya tenang, tetapi matanya bergerak cepat seperti orang yang sudah menghitung margin sebelum lawan sempat membuka mulut.
“Jadi ini pilot yang bikin papan bergerak,” katanya. “Naik satu strip, lalu lari ke pasar. Cepat juga paniknya.”
Raka tidak duduk. Ia menahan nyeri di bahu kiri dan meletakkan chip data di atas meja. “Aku perlu sambungan kanan diperbaiki. Sekarang.”
Sari melirik chip itu tanpa menyentuhnya. “Kau datang ke pasar sekte dengan satu chip dan satu frame yang hampir ditarik. Itu bukan tawar-menawar. Itu minta tolong.”
“Kalau kau mau dengar ceramah, cari pendeta.”
Sari tersenyum tipis, bukan karena lucu, tapi karena ia tahu Raka kehabisan pilihan. “Kau membawa data lantai dua. Itu lebih mahal daripada suaramu.”
Di belakangnya, dua pedagang bengkel pura-pura sibuk memeriksa baut. Mereka jelas mendengar setiap kata. Di pasar seperti ini, tidak ada transaksi yang benar-benar privat; yang ada hanya orang yang belum sadar dirinya sedang ditonton.
Raka menekan chip itu sedikit lebih dekat ke kaca. “Aku butuh rel servo, konektor heat-sink, dan injektor daya yang masih hidup.”
“Dan aku butuh alasan kenapa aku harus membayar aset yang sebentar lagi rusak total.” Sari akhirnya menyilangkan tangan. “Lantai dua? Semua orang sudah tahu lantai dua tidak ramah. Itu bukan data.”
Raka menatap lurus ke matanya. “Lantai dua membaca komposisi tim. Pilot yang dianggap lemah membuat ancaman naik. Saat aku masuk formasi, zona pertama menggeser pola serangan ke sisi kananku. Kalau aku ditarik, timmu—kalau kau masih mau menyebutnya tim—akan masuk dengan lubang yang lebih besar daripada yang kamu kira.”
Ada jeda singkat. Sari tidak bergerak, tetapi fokusnya berubah. Ia bukan lagi menimbang komponen; ia menimbang efeknya pada pasar. Data semacam itu bukan cuma cerita arena. Itu bisa mengubah harga frame, nilai pilot, dan daftar orang yang tiba-tiba dianggap layak diinvestasikan.
“Buktikan,” katanya.
Raka menggeser chip kedua, yang berisi potongan log pengamatan dari zona pertama. Bukan keseluruhan file—ia terlalu cerdas untuk menyerahkan semua makanan sekaligus—hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ancaman tidak naik acak. Ada pola. Ada penyesuaian.
Sari membaca dua baris, lalu satu sudut bibirnya turun. Itu satu-satunya tanda bahwa ia terkejut.
“Lantai itu memilih kelemahan secara sadar,” gumamnya.
“Dan aku yang paling mudah dipukul,” kata Raka.
“Bukan mudah. Hanya paling murah.” Sari menutup tablet. “Kau memang pandai mengubah penghinaan jadi komoditas.”
“Jawab saja.”
Sari berdiri perlahan. “Aku bisa kasih cukup untuk menyelamatkan sambungan kanan. Rel servo, konektor, injektor daya. Tapi ada syarat.”
Raka sudah tahu jawabannya sebelum mendengarnya. “Data berikutnya.”
“Bukan berikutnya.” Sari mencondongkan badan sedikit. “Hak pertama atas semua data prototipe yang kau bawa keluar dari lantai dua. Kalau ada peningkatan, pola, kelemahan lantai, aku yang pegang dulu. Baru kau.”
Di belakang kaca, salah satu pedagang bengkel berhenti pura-pura menghitung baut. Raka bisa merasakan tatapan itu berdesir ke arah mereka. Kontrak Sari bukan cuma kertas; itu bendera. Begitu tanda tangan, pasar sekte akan tahu siapa yang memegang lehernya.
“Kalau aku setuju, kau akan menutup jejak digitalku dari audit Bhaskara?”
Sari tidak menjawab langsung. Itu jawaban paling jujur yang pernah ia beri. “Kalau kau bernilai. Dan sekarang kau mulai bernilai.”
Raka merasakan ketegangan di rahangnya. Ia tidak suka dikatakan bernilai oleh orang yang menilai orang seperti barang lelang. Tapi ia juga tidak punya luxury untuk membenci Sari.
“Setengah dulu,” katanya.
“Tidak ada setengah dalam pasar sekte.”
“Ada. Kalau kau masih ingin melihat aku naik lagi.”
Sari menatapnya lama. Lalu ia menarik satu kartu kontrak ke tengah meja, menahannya dengan ujung jari. “Rel, konektor, injektor. Aku kirim ke bengkel Manto dalam lima menit. Sebagai gantinya, hak pertama data prototipe. Dan kalau audit turun sebelum kau kembali ke arena, aku bersih-bersih namamu dari daftar merah. Itu tawaran terbaik yang akan kau lihat hari ini.”
Raka menatap kartu itu. Di luar kaca, suara palu dari kios sebelah berdenting keras, seperti penandatanganan yang dibungkus bunyi.
Ia tidak suka bagian “hak pertama”. Itu berarti setiap kemajuan berikutnya akan punya harga lebih dulu, baru kemenangan. Tapi tanpa komponen itu, frame-nya takkan melewati malam. Dan tanpa frame, tidak ada lantai berikutnya. Tidak ada papan ranking. Tidak ada jalan naik.
Raka mengambil kartu kontrak, tetapi belum menekan sidik jari.
“Kalau aku tanda tangan,” katanya, “kau jangan pura-pura mengira ini karena aku percaya padamu.”
Sari memberi senyum yang nyaris ramah. “Aku justru akan tersinggung kalau kau percaya.”
Raka akhirnya menempelkan sidik jari. Kartu itu menyala singkat. Di papan kecil di sisi meja, status pesanan berubah dari tertahan menjadi aktif.
Sari melipat tangannya lagi. “Jangan mati sebelum komponen sampai. Aku belum selesai menilai apa yang kau bawa.”
“Dan aku belum selesai menawar.”
“Bagus.”
Raka berbalik sebelum tatapan pasar menjadi terlalu berat di punggungnya. Di belakangnya, ia mendengar Sari memerintahkan seseorang lewat interkom pendek dan dingin. Kata-kata yang paling penting hanya satu: tutup.
Bengkel Manto lebih panas daripada pasar, dan lebih jujur.
Lampu kuning menggantung rendah di atas meja log yang penuh goresan. Bau las dan oli menempel di dinding, bercampur garam laut yang selalu ikut masuk dari celah pintu. Di ruang sebelah, palu menumbuk plat baja dengan ritme keras dan datar, seperti detak jantung orang yang tidak pernah panik karena ia sudah terlalu sering melihat kerusakan.
Raka membawa frame-nya masuk dengan langkah pendek. Panel status di dada frame berkedip merah pucat, lalu kuning, lalu kembali merah setiap kali ia memindahkan beban. Sambungan kanan tetap 18 persen. Tidak membaik hanya karena dipaksa tenang.
Manto Renggana mengangkat kepala dari meja kerja. Matanya yang keriput menyapu kondisi frame, lalu kondisi Raka, lalu kembali ke frame seperti seorang dokter tua yang tak suka membuang kata.
“Kau datang membawa nyawa atau sisa kemenangan?”
“Kalau aku tunggu jawabanmu, aku keburu ditarik,” jawab Raka.
Manto mendengus, lalu mengambil kotak komponen yang baru masuk dari kurir Sari. Ia membuka satu per satu: rel servo bekas kapal patroli, tiga konektor heat-sink, injektor daya yang masih layak. Benda-benda kecil, tetapi cukup untuk membuat sambungan kanan tidak ambruk saat dipakai.
“Kau menjual data lantai dua demi ini,” katanya.
“Dan masih kurang.”
“Ya.” Manto tidak terdengar mengejek. Hanya menilai. “Karena yang rusak bukan cuma mekanik.”
Raka diam.
Manto menggeser kursi. “Duduk.”
“Aku masih bisa berdiri.”
“Kau juga masih bisa patah.”
Itu cukup untuk membuat Raka menuruti perintah. Ia menurunkan frame ke dudukan servis. Manto tidak membuka panel dengan lembut. Ia membuka seperti orang yang tahu tiap detik terlambat bisa merobek lebih banyak.
“Kalau dipasang mentah, sambungan kanan patah saat kau bernapas terlalu keras,” kata Manto sambil memasang rel servo.
“Pilihannya apa?”
“Pilihannya? Kau berhenti memaksakan tubuhmu seolah ia mesin.”
Raka tertawa pendek, tanpa humor. “Di menara, tubuh atau mesin sama-sama habis kalau lambat.”
Manto memandangnya dengan mata yang lelah sekaligus keras. “Itulah sebabnya pilot sebelumnya gagal. Mereka percaya frame bisa menahan segalanya. Lalu mereka sadar terlambat bahwa yang paling cepat aus justru manusia di dalamnya.”
Kata-kata itu jatuh berat, bukan sebagai nasihat, tapi peringatan yang datang dari kesalahan lama. Raka teringat potongan cerita yang pernah didengarnya: pilot-pilot yang masuk terlalu percaya diri, lalu pulang dengan sendi robek dan saraf mati. Manto tidak pernah menceritakan semuanya. Tapi cukup banyak untuk tahu bahwa rasa bersalahnya bukan hiasan.
Saat injektor daya dipasang, Manto menyuruh Raka menyentuh penghubung manual. “Sekarang. Sinkronisasi tangan.”
Raka menekan panel di bawah tulang rusuk frame. Ada jeda sepersekian detik, lalu sesuatu di dalam log prototipe menjawab.
Panel status melonjak.
Latensi turun.
Keseimbangan naik.
Angka yang muncul di monitor bengkel membuat udara terasa lebih sempit: +31% pada kecepatan respon, +44% pada stabilitas langkah. Bukan angka besar di papan teori. Tapi di lapangan, itu perbedaan antara terpeleset dan selamat.
Manto mengamati grafik tanpa berkedip. “Masih hidup.”
“Berapa lama?”
“Pertanyaan yang salah.” Manto menyimpan alatnya. “Pertanyaan yang benar: berapa lama tubuhmu bisa mengikutinya.”
Raka ingin mengatakan bahwa ia sudah merasakannya—itu sebabnya ia datang ke pasar, itu sebabnya ia menjual data, itu sebabnya ia tidak punya pilihan. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, sensasi asing menjalar dari sambungan kanan ke lengan, seperti arus yang tidak sepenuhnya lewat kabel.
Ia mengerutkan kening.
Manto memperhatikan perubahan kecil itu. “Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau kau bilang tidak apa-apa, biasanya itu berarti ada yang buruk.”
Raka mencoba menggerakkan pergelangan kanan. Gerakannya lebih halus dari sebelumnya. Terlalu halus. Seolah tubuhnya membaca perintah sebelum ia sepenuhnya memutuskan.
Manto meraih terminal kecil dan membuka log internal yang dulu ia sembunyikan. Beberapa baris data prototipe bergerak di layar, lalu membeku. Ada pola sinkronisasi yang bukan lagi murni mekanik. Bukan sekadar optimasi. Ada respons yang menaut ke saraf pilot.
Manto mengerutkan dahi. “Sial.”
Raka menoleh cepat. “Apa?”
“Log itu mulai menyusup ke sistemmu lebih dalam dari yang kukira.”
“Lebih dalam bagaimana?”
Manto memandangnya lama sebelum menjawab. “Bukan hanya ke frame. Ke tubuhmu.”
Bengkel mendadak terasa terlalu sunyi, meski palu di ruang sebelah masih berdentang. Raka menatap tangannya sendiri, lalu panel di dada frame. Angka stabilitas masih bagus. Bahkan lebih bagus dari tadi. Tapi ada denyut kecil di sepanjang lengan, seperti jalinan halus yang belajar mengenali jalannya sendiri.
Manto menutup terminal. Suaranya turun satu tingkat. “Kau harus paham. Begitu data itu menempel ke saraf, ia bukan lagi cuma peningkatan. Ia jadi kebiasaan tubuh. Dan kebiasaan tubuh suka menagih balasan.”
Raka menghela napas perlahan. Ia memaksa dirinya berdiri, merasakan frame ikut berdiri bersama geraknya. Untuk pertama kalinya malam itu, berat di kanan tidak terasa seperti beban mati. Ia terasa seperti kekuatan yang bisa dipanggil.
Itu yang paling berbahaya.
Sebab setiap lantai sebelum ini selalu mengajari hal yang sama: apa pun yang membuatmu lebih cepat, lebih seimbang, lebih kuat—akan mengambil sesuatu sebagai gantinya. Uang, reputasi, sambungan, nama baik. Sekarang rupanya tubuhnya sendiri pun sedang masuk daftar.
Di pergelangan, hitung mundur masih bergerak. Tapi kini angka itu terasa bukan satu-satunya timer. Ada timer lain, yang jauh lebih dekat.
Manto mengambil kain dan mengusap tangan berminyak. “Kalau kau masih mau hidup, jangan paksa peningkatan itu terus-menerus. Pakai hanya saat perlu.”
Raka tertawa pelan. “Di lantai dua, kapan bukan saat perlu?”
Manto tak menjawab. Karena itu memang jawabannya.
Mereka sempat diam beberapa detik. Lalu suara interkom di bengkel berbunyi pendek. Sari Purnama. Pesan masuk ke terminal meja: audit pengawas tertahan, tapi tidak dibatalkan. Ada gerakan di ruang siaran arena. Bhaskara Awan mencari alasan untuk memperketat daftar unit yang akan ditarik.
Raka membaca itu dan merasakan tekanan baru mengendap di dada. Satu kemenangan kecil telah memanggil satu pengetatan besar. Pasar sekte sudah menutup pintunya di belakangnya; arena sedang membuka pintu lain di depan dengan gigi yang lebih tajam.
Manto mematikan pesan itu. “Kau tidak punya waktu untuk lama-lama di sini.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau Sari menagih kontrak?”
Raka menatap kartu di sakunya. Hak pertama atas semua data prototipe. Perlindungan digital dari audit. Bantuan yang tidak gratis. “Dia sudah setengah memegang leherku.”
“Setengah?”
“Cukup untuk berbahaya.”
Manto mengangguk kecil, seolah itu jawaban yang ia harapkan. “Kalau begitu jangan beri dia alasan tambahan.”
Raka menatap monitor sekali lagi. Angka-angka peningkatan masih ada di sana, nyata dan menggoda. 31 persen latensi. 44 persen keseimbangan. Kemenangan itu tidak terasa abstrak; ia bisa merasakan hasilnya di lengan kanan, di kaki, di cara frame berdiri lebih tegak di bawah beban.
Tapi bersama itu datang rasa nyeri baru, tipis seperti jarum panas di dalam urat.
Ia mengepalkan tangan.
Nyeri itu ikut mengepalkan balik.
Dan saat itu juga, Raka sadar: log prototipe tidak lagi sekadar disimpan di frame yang retak. Ia mulai menyatu dengan sistem sarafnya, memberikan kekuatan yang dibayar dengan rasa sakit yang nyata.