Novel

Chapter 5: Lantai Dua: Aturan Baru

Raka dipaksa masuk ke formasi tim lantai dua dengan sambungan kanan frame 18% dan hitung mundur penarikan aset yang masih aktif. Lantai dua mengubah aturan secara dinamis berdasarkan komposisi pilot, membuat ancaman naik karena Raka dianggap variabel lemah. Dalam pertarungan survival tim, Raka mengorbankan sebagian perlindungan frame untuk menyelamatkan pilot lain, lalu memanfaatkan log prototipe dengan gain terukur 31% latensi dan 44% keseimbangan. Tim meraih kemenangan publik yang pahit, papan ranking bergerak, tetapi kemenangan itu langsung memicu pembukaan zona kematian berikutnya lebih cepat dari jadwal. Di akhir, Raka merasakan log prototipe mulai menyatu dengan sistem sarafnya, memberi kekuatan dengan rasa sakit yang nyata.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Lantai Dua: Aturan Baru

"Raka Wira, unit dengan anomali performa. Masuk ke antrean formasi. Sekarang."

Suara sistem memukul lorong transisi seperti palu ke plat baja. Di atas ambang pintu lantai dua, hitung mundur penarikan aset menyala merah terang: 03:37:12.

Raka tidak punya waktu untuk marah. Yang ia punya hanya satu masalah yang terasa langsung di tulang: sambungan kanan frame-nya berkedip di 18%, dan setiap detik pintu itu tetap terbuka berarti audit, label lemah, lalu tarikan paksa.

Di depannya, enam pilot sudah disusun dalam formasi tim survival. Lampu status mereka hijau. Kaki-kaki frame mereka terkunci di rel masuk. Semua tampak siap. Semua kecuali dirinya—panelnya masih kuning retak, seperti luka yang sengaja dipamerkan agar semua orang tahu siapa yang paling murah untuk dibuang.

Nadira Sela berdiri di baris depan tim. Frame unggulannya putih-perak, bersih, terlalu rapi untuk arena yang selalu kotor oleh oli dan debu serat logam. Ia menoleh sekilas ke arah Raka, lalu mendengus.

"Siapa yang loloskan itu?" suaranya cukup keras untuk memancing beberapa kepala menoleh. "Lantai dua butuh formasi tim, bukan limbah bengkel."

Beberapa pilot lain menahan senyum. Ada yang menatap sambungan kanan Raka seolah itu lelucon mahal yang sudah telanjur rusak.

Di sisi lorong, Bhaskara Awan berdiri dengan mantel pengawasnya yang lurus dan kaku. Matanya tidak pernah benar-benar berhenti di wajah Raka; selalu turun ke papan peringkat digital di dinding. Nama Raka memang naik sedikit setelah lantai pertama—cukup untuk terlihat, belum cukup untuk aman. Di bawahnya, status asetnya tetap memalukan: frame rusak, risiko tarik tinggi, nilai kolateral rendah.

Sari Purnama bersandar tidak jauh dari Bhaskara, wajahnya tenang seperti pedagang di pasar sekte yang sedang menawar beras, bukan nyawa. Ia melirik Raka dari ujung mata, lalu berkata ringan, "Pasar menganggap kelemahan itu beban. Menara tampaknya sepakat."

Raka menggertakkan rahang. Ia baru saja keluar dari jebakan kontrak yang mulai mencekik, dan sekarang pintu lantai dua memaksa dia berdiri dalam antrean tim bersama orang-orang yang paling senang melihatnya gagal.

Di atas ambang, papan aturan berubah. Tulisan merah menyala, lalu menggulung sendiri seperti ditulis ulang oleh tangan yang tak terlihat:

KOORDINASI TIM WAJIB. ANCAMAN DISUSUN BERDASARKAN KOMPOSISI PILOT. UNIT YANG TIDAK MENUTUPI KELEMAHAN TIM AKAN MENARIK LANTAI LEBIH CEPAT.

Suara di lorong mendadak redup. Bahkan Nadira mengernyit satu kali.

Bhaskara mengangkat kepala. "Apa maksudnya itu?"

Jawaban datang bukan dari manusia, melainkan dari menara itu sendiri.

"Lantai dua menyesuaikan tingkat ancaman berdasarkan komposisi pilot. Pilot dengan performa tidak seimbang akan memicu pola uji yang lebih agresif." Suara sistem tenang, seolah ini aturan pasar biasa. "Komposisi tim Anda telah mengubah ambang risiko."

Ada gumam singkat di antara para pengawas. Seorang pilot dari tim sebelah mengucapkan sumpah serapah pelan.

Raka memandang papan itu sekali lagi. Jadi bukan hanya orang lemah yang dihukum. Menara sedang membaca mereka sebagai paket. Jika satu unit busuk, seluruh tim dipaksa menanggung kenaikan ancaman.

Itu bukan sekadar ujian kekuatan. Itu ujian aset.

Siapa yang punya frame terbaik. Siapa yang bisa menutup celah. Siapa yang paling mahal untuk dipertahankan.

Dan siapa yang paling murah untuk dikorbankan.

Nadira menyilangkan tangan. "Kau dengar sendiri. Jangan bikin kami terlambat."

"Kalau kau tidak mau terlambat," balas Raka datar, "jangan mulai dengan satu orang yang kau sebut limbah."

Ia melangkah maju sebelum Nadira sempat menukas. Kaki frame-nya terasa berat, lengan kanan nyaris seperti digantung oleh kawat tipis. Namun ia sudah belajar satu hal di pasar sekte dan bengkel Manto: orang tidak selalu menyerang yang paling kuat. Mereka menyerang yang terlihat siap runtuh.

Raka tidak boleh terlihat runtuh.

Pintu lantai dua menutup di belakang mereka dengan dentuman yang menahan udara di dada. Begitu segel terkunci, lantai di bawah kaki frame mereka bergetar. Koridor industri basah membentang ke depan: panel baja berlumut uap, lantai magnetik yang licin oleh embun pendingin, saluran pipa yang mendesis di sela dinding, dan gerbang sekat yang terbuka-tutup seperti kelopak mesin lapar.

Di langit-langit holografik, papan status publik menyalakan teks baru:

UNIT TERPUTUS AKAN DIANGGAP BEBAN.

Raka merasakan itu lebih dari sekadar ancaman. Itu peringatan bahwa menara tidak akan memelihara orang yang gagal menyatu dengan tim.

"Formasi depan, sekarang," kata suara Bhaskara lewat kanal tim. "Pilot stabil ambil sisi kanan. Pilot utilitas perbaiki jalur. Jangan ada yang sendiri."

"Jangan kasih perintah ke aku," Nadira membalas dingin. Tapi ia tetap bergerak, memimpin tanpa mengaku memimpin.

Tiga unit lain menyebar. Satu frame pengintai ringan mengambil jalur tinggi. Satu frame utilitas yang penuh jaring reparasi memeriksa panel samping. Nadira di depan, tajam dan cepat. Raka di belakang setengah langkah, karena tak ada yang mau menempatkan frame retak di posisi yang bisa mereka banggakan.

Lalu lantai dua membuktikan kenapa namanya lantai kematian.

Dari celah koridor, empat kerangka penjaga merayap keluar. Bentuknya seperti sisa mesin industri yang dijahit jadi predator: lengan bor, sendi pendek, kepala tanpa mata dengan sensor merah tipis. Mereka tidak menyerang serentak. Mereka memisahkan.

Yang satu menyapu jalur pengintai.

Yang satu memaksa utilitas mundur.

Dua lainnya bergerak lurus ke tengah, mengarah ke Nadira dan Raka sekaligus.

"Pisah kiri!" teriak pilot utilitas.

"Jangan pecah formasi!" bentak Bhaskara.

Terlambat. Gerbang sekat di belakang mereka turun setengah meter, lalu berhenti—bukan menutup penuh, tapi cukup untuk memutus ruang. Menara memang memberi mereka jalan. Jalan yang sudah disempitkan.

Raka melihat board-state itu dalam satu kedipan: kalau ia ikut dorong keras, sambungan kanan bisa putus. Kalau ia bertahan terlalu jauh, tim terbelah dan satu orang mati lebih dulu.

Nadira menoleh ke arahnya, dan untuk pertama kalinya di lantai ini, ia tidak cuma mengejek. Ia menilai.

"Kau bisa bergerak atau tidak?"

Pertanyaan itu setengah hinaan, setengah taruhan.

Raka tidak menjawab. Ia memindahkan berat tubuh ke kaki kiri, menekan stabilizer pinggul, lalu mengunci napas. Bukan dorongan penuh. Cukup untuk memaksa frame menyalakan respons yang masih bisa ditahan.

Di HUD, peringatan melompat: beban sambungan kanan meningkat.

31% latency gain. 44% balance gain.

Angka-angka itu muncul seperti kilatan yang pernah ia lihat sebelumnya, tapi sekarang terasa punya harga tubuh. Log prototipe bangun di dalam slot tersembunyi, bukan sebagai data mati, melainkan sebagai sesuatu yang menunggu dipakai.

Raka memakainya.

Frame-nya menyamping setengah langkah terlalu cepat untuk kerangka penjaga pertama. Lengan bor itu menghantam lantai kosong. Raka memotong masuk, menahan tebasan berikutnya dengan bahu kiri, lalu menggunakan tumpuan itu untuk menggeser unit pengintai yang hampir ditabrak belakang. Gerakannya lebih halus dari seharusnya, lebih cepat dari izin mekanis mana pun yang tercatat di papan arena.

Satu penjaga jatuh ke jalur pipa.

Satu lagi berbalik.

"Sekarang!" kata Raka.

Nadira, terpaksa, mengikuti celah yang ia buka. Frame putih-peraknya menancap ke sisi kanan penjaga kedua dan memotong sensor utamanya. Pilot utilitas mengulurkan jaring reparasi untuk mengikat lengan bor. Dua unit lain menutup sudut.

Mereka bekerja karena Raka memberi mereka ruang.

Itu membuat Nadira semakin murka, bukan semakin lunak.

"Jangan sok menyelamatkan tim," katanya di kanal. "Kalau kau mati, kami tetap lanjut."

"Kalau aku mati, jalur kanan ikut pecah," jawab Raka singkat. "Kau yang bilang jangan lambat."

Serangan berikutnya datang lebih brutal. Menara menaikkan tekanan, persis seperti sudah diperingatkan tadi. Gerbang di depan menutup sebagian, lalu membuka satu jalur sempit ke ruang servis yang lebih gelap. Koridor itu penuh panel retak dan rel pemeliharaan yang licin. Di dalamnya, ada satu penjaga besar dengan dua bor di lengan dan sensor berganda di kepala—lebih berat, lebih cepat dari tubuhnya, lebih mahal untuk dijatuhkan.

Bhaskara mengutuk pelan. "Menara menyesuaikan ancaman. Kita dipaksa masuk ke jalur servis."

"Karena salah satu unitmu lemah," Nadira menekan. Tatapannya terarah jelas ke Raka.

Tak ada waktu untuk bantah. Penjaga besar sudah turun dari rel atas, menghantam lantai dengan berat yang membuat panel debu naik seperti kabut putih. Ia menarget tim, bukan individu. Itu masalahnya. Bila satu orang gagal menutup, yang lain ikut terbuka.

Raka melihat lintasan bor kanan penjaga besar mengarah ke pilot utilitas, yang sedang terjebak di antara panel dan rel tersangkut. Jika ia menahan, sambungan kanan frame-nya akan terkoyak. Jika ia mundur, pilot itu mati, lalu gerbang menutup, lalu tim pecah.

Tidak ada pilihan bersih.

Raka memilih yang membuatnya paling mungkin selamat sekaligus paling mahal.

Ia mematikan separuh proteksi luar pada sisi kanan frame. Di HUD, bar pelindung itu turun cepat, angka-angka merah mengalir seperti darah digital. Beban yang biasa diserap rangka dipindahkan ke lengan dan punggungnya sendiri. Rasa nyeri langsung menyambar hingga ke tulang rusuk.

Namun frame-nya jadi lebih ringan.

Lebih cepat.

Ia menerjang, bukan untuk memukul penjaga besar, tapi untuk menempatkan tubuh frame di antara bor dan pilot utilitas. Bor itu menghantam pelat pelindung yang baru saja ia kurangi, memecahkan satu lapis perisai dan membuat sambungan kanan menjerit. Raka hampir terlempar mundur, tapi log prototipe mendorong respons stabilisasi sebelum ia jatuh.

31% lebih cepat. 44% lebih seimbang.

Angka itu terasa nyata dalam detik yang mengerikan itu. Ia berhasil memutar tubuh frame, menekan berat bor ke lantai, lalu memberi Nadira celah satu detik.

Satu detik cukup.

Nadira masuk dari samping, memotong sendi lutut penjaga besar. Pilot pengintai menembus sensor atas. Pilot utilitas melempar jaring reparasi ke lengan kanan musuh. Bhaskara menutup dari belakang dengan tembakan penahan yang memaksa mesin itu berhenti sejenak.

Tim bekerja.

Bukan karena percaya. Karena dipaksa.

Setelah itu semuanya berubah menjadi rangkaian pendek: mundur setengah langkah, potong kabel, tutup gerbang, lari ke panel servis berikutnya. Satu penjaga kecil dihancurkan oleh Nadira tanpa berkata apa-apa. Satu lagi ditahan oleh pilot pengintai yang nyaris terjepit. Raka tetap di tengah, menutup celah yang paling mengancam, sambil merasakan sambungan kanan panas seperti logam yang dipaksa melupakan bentuknya.

Di depan pintu servis berikutnya, mereka akhirnya mendapatkan jeda.

Bukan kemenangan besar. Hanya ruang napas.

Pilot utilitas jatuh berlutut pertama kali. "Kalau dia tidak nahan tadi..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Yang lain menoleh ke Raka.

Untuk sesaat, tidak ada cemooh. Hanya hitung-hitungan baru di mata mereka. Raka tahu tatapan itu. Itu tatapan yang biasa muncul di pasar sekte saat seorang pedagang melihat barang murah tiba-tiba punya fungsi.

Nadira menatapnya paling lama. Ekspresinya tetap dingin, tapi ada retak kecil yang tak sempat ia sembunyikan.

"Kau memang berbahaya," katanya.

Bukan pujian. Lebih buruk: pengakuan.

Raka menahan napas, menekan sakit di bahu kanan, dan memeriksa status frame. Proteksi sisi kanan turun tajam. Sambungan yang sudah 18% kini terasa seperti menunggu satu dorongan salah untuk putus total. Namun tim masih berdiri. Jalur masih terbuka. Mereka hidup.

Bhaskara berjalan ke papan kontrol, wajahnya suram. "Catat hasil ini. Menara memaksa konfigurasi ancaman berdasarkan komposisi pilot." Ia melirik Raka sekali, lalu cepat memalingkan mata seolah tak suka melihat fakta yang ia sendiri temukan. "Artinya kita menghadapi lantai yang lebih buruk kalau kita membawa variabel rusak ke dalamnya."

Sari, dari kanal observasi, justru tersenyum tipis. "Atau berarti variabel itu lebih bernilai daripada yang dipikirkan pasar."

Bhaskara tidak menjawab. Itu sudah jawaban cukup: auditnya terhambat, tapi tidak hilang. Ia sedang menghitung ulang cara membungkus ancaman agar tetap tampak seperti prosedur.

Raka merasakan seluruh lantai dua bergeser di bawah langkah mereka. Bukan hanya jalur berikutnya yang dibuka. Sistem menara sedang menilai ulang mereka sebagai kelompok, dan penilaian itu tidak memihak.

Pintu zona aman berikutnya akhirnya muncul di ujung ruang servis. Layar di atasnya mengumumkan hasil tim dengan suara netral yang justru terdengar kejam:

ZONA PERTAMA DITEMBUS. NILAI TIM MENINGKAT. AMBANG ANCAMAN LANJUTAN DISESUAIKAN.

Di bawah itu, angka penarikan aset tidak turun. Ia justru menegang, seperti pisau yang ditarik sedikit lebih dekat ke leher.

Tenggat waktu penarikan aset: 03:36:48.

Mereka mendapatkan kemenangan. Pahit, publik, dan langsung dipakai menekan mereka lagi.

Satu layar lain menyala di samping papan hasil—ranking internal lantai dua. Nama Raka naik satu tingkat kecil, cukup untuk memicu bisik-bisik dari tim lain yang sedang lewat. Bukan lonjakan besar. Tapi cukup untuk membuktikan satu hal: frame rusak itu masih bisa menolak label lemah.

Sari mendekat setengah langkah. "Kalau kau mau tetap hidup sampai lantai berikutnya," katanya pelan, hanya untuk Raka, "kontrak itu masih menunggumu. Aset yang terbukti tetap perlu pemilik."

Raka menatapnya. Di balik wajah tenangnya, ia bisa mencium niat yang sama seperti di pasar sekte: ambil barang sebelum orang lain sadar nilainya.

"Dan kalau aku tidak tanda tangan?"

"Maka orang lain akan menandai mayatmu duluan."

Jawaban itu dingin, masuk akal, dan menyebalkan.

Nadira menyambar helmnya dari pinggang dan berkata tanpa melihat Raka, "Jangan besar kepala. Kau cuma berguna karena kami dipaksa memakainya."

Mungkin dia benar. Itu yang paling menyebalkan dari kemenangan ini: Raka tidak menang sendirian, dan semua orang tahu itu. Namun semua orang juga tahu sesuatu yang lain—tanpa dirinya, tim mungkin sudah pecah di jalur servis.

Itu cukup untuk mengubah posisinya.

Belum aman. Tapi sudah tidak bisa diabaikan.

Begitu tim melangkah ke ambang berikutnya, papan hasil mendadak berkedip merah. Seluruh ruangan hening.

Lantai dua tidak menunggu mereka pulih.

Peta zona baru terbuka di udara, dan jalurnya jauh lebih gelap daripada yang sebelumnya: lorong sempit, celah tekanan, ruang dengan simbol tengkorak teknis yang menandai kematian operasional. Sistem menyorotnya satu per satu, lalu mengunci di depan mata mereka.

Pintu zona berikutnya dibuka lebih cepat dari jadwal.

Bhaskara mendongak, wajahnya mengeras. "Tidak mungkin. Itu terlalu cepat."

Sari menyipit. "Bukan terlalu cepat. Terpicu."

Nadira juga melihat. Untuk pertama kalinya, bibirnya tidak menyungging ejekan.

Di helm Raka, panel log prototipe tiba-tiba berkedut.

Bukan angka. Bukan data dingin.

Ada denyut.

Sesuatu di dalam frame—di dalam sambungan kanan yang nyaris putus—seperti menyusup ke arah sarafnya sendiri. Raka menggertakkan gigi saat rasa panas tajam mengalir dari lengan kanan ke bahu dan turun lagi ke tengkuk, seolah log itu sedang menulis ulang jalur tubuhnya dari dalam.

Gain-nya nyata.

Sakitnya juga.

Dan di depan mereka, zona kematian lantai dua sudah menunggu tanpa persiapan penuh.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced