Audit di Bengkel Panas
Tenggat penarikan aset: 03:37:12. Waktu yang tersisa untuk hidup sebagai pilot, bukan sekadar rongsokan.
Raka berdiri di bawah rangka frame-nya yang terbuka. Bau oli hangus dan garam laut dari pelabuhan menusuk hidung, aroma khas bengkel Manto yang tak pernah hilang. Panel di lengan kokpit berkedip merah: 18%. Angka itu adalah vonis mati yang tertunda.
Suara dentuman besi di pintu geser memutus kesunyian. Bhaskara Awan masuk, diikuti dua auditor berseragam sekte yang tampak terlalu bersih untuk gang ini.
"Raka Wira," suara Bhaskara datar, memotong udara. "Unitmu naik terlalu cepat untuk rangka yang seharusnya sudah ditarik. Saya mau log penuh, riwayat output, dan segel sambungan kanan."
Jantung Raka berdegup kencang. Sambungan kanan itu adalah rumah bagi log prototipe—peningkatan latensi 31% dan keseimbangan 44% yang membuatnya bisa mendaki. Jika Bhaskara membukanya, bukan hanya frame yang disita, tapi Raka akan dicap sebagai penipu audit.
Manto melangkah maju, menghalangi terminal. "Audit mendadak butuh surat, Bhaskara."
"Bengkel ini butuh lisensi," balas Bhaskara dingin. "Jangan ajari saya aturan."
Para auditor mulai bergerak. Raka tidak punya pilihan. Ia melompat ke kokpit dan menyalakan mode kerja kasar. Frame itu menggeram, torsi mesin dibebankan paksa ke sambungan kanan. Raka melakukan manuver kasar—mengangkat lengan, memutar pinggul—sengaja membuat mesin tua itu tampak goyah, menutupi presisi log prototipe dengan kepura-puraan pilot yang payah.
"Tidak normal," gumam salah satu auditor.
"Bengkel saya memang tidak normal," sahut Manto cepat. "Komponen bekas, air asin, dan pilot yang nekat."
Bhaskara menatap layar tabletnya. Log yang dipelintir Manto semalam tampak samar. Raka menahan napas saat Bhaskara mendekat, matanya menelusuri setiap inci sambungan kanan. Detik itu terasa seperti jam. Raka memutar frame, menahan beban di titik kritis, membiarkan bunyi logam berderit menutupi getaran halus log ilegal di dalamnya.
"Kau memalsukan kesan rusak dengan kontrol yang terlalu baik," kata Bhaskara akhirnya. "Aku biarkan ini berjalan karena jadwal lantai dua dipercepat. Kalau unit ini mengacau lagi, penarikan tidak akan menunggu rapat berikutnya."
Bhaskara pergi. Raka merosot di kursi kokpit, keringat dingin membasahi punggungnya. Belum sempat ia bernapas lega, Sari Purnama muncul di ambang pintu.
"Tim audit sudah saya tahan," kata Sari tanpa basa-basi. Ia menyodorkan kontrak di atas papan kaca data. "Untuk sementara."
"Apa maumu?" tanya Raka.
"Sponsorship. Perlindungan jejak digital. Akses komponen prioritas," Sari tersenyum tipis. "Tapi kau harus tanda tangan. Kalau tidak, kau milik penarik aset. Bedanya cuma siapa yang memegang rantainya."
Di luar, sirene menara menjerit. Layar publik di ujung gang menyala: Pembukaan lantai dua dipercepat.
Raka menatap kontrak itu. Ia butuh perlindungan Sari untuk bertahan di lantai dua, tapi tanda tangan itu adalah jeratan leher. Ia menatap Manto, lalu ke frame-nya yang sekarat. Tidak ada jalan keluar yang bersih.
"Kalau aku tanda tangan, aku milikmu?"
"Kalau kau tidak tanda tangan," balas Sari, "kau habis malam ini."
Raka mengambil pena digital itu. Lantai dua sudah memanggil, dan ia tidak punya waktu untuk negosiasi lebih lama.