Novel

Chapter 3: Panggung Publik yang Mematikan

Raka berhasil melewati audit Bhaskara Awan berkat intervensi Sari, namun kemenangannya memicu pembukaan lantai dua lebih cepat. Raka terpaksa masuk ke lantai dua dengan frame yang rusak parah, memicu konfrontasi publik dengan Nadira Sela dan tekanan kontrak dari Sari.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Panggung Publik yang Mematikan

Oli panas menyembur dari sambungan bahu kanan, membasahi dek arena dengan bau logam hangus yang menusuk. Raka Wira tidak punya waktu untuk mengeluh. Di dalam kokpit yang bergetar hebat, layar monitor utama berkedip merah—peringatan integritas struktural di angka 12%. Tepat di depan matanya, papan peringkat digital menara baru saja menyegarkan data. Nama Raka, yang selama ini terkubur di dasar daftar, kini melesat naik dengan tanda 'Diperhatikan'.

"Stabilkan daya!" bentak Raka melalui saluran komunikasi terenkripsi. Di ujung lain, Manto Renggana tidak membalas dengan kata-kata, melainkan dengan sentakan paksa pada sistem kelistrikan. Raka merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya saat Manto memutus aliran daya ke sensor sekunder. Itu adalah tindakan nekat. Tanpa sensor itu, Raka hampir buta terhadap serangan balik, tetapi itu satu-satunya cara untuk menyembunyikan lonjakan data anomali yang baru saja dia catatkan.

Langkah kaki mecha-nya yang pincang bergema di koridor keluar arena. Di sana, Bhaskara Awan sudah berdiri dengan tablet audit di tangan, matanya menyipit tajam ke arah frame Raka. Bhaskara adalah predator birokrasi; dia tidak peduli pada kemenangan, dia hanya peduli pada ketidaksesuaian log. "Pilot," suara Bhaskara dingin, memotong udara yang masih dipenuhi debu beton. "Frame kelas rongsokanmu baru saja mencatat waktu tempuh yang mustahil untuk seri standar. Jika audit menemukan modifikasi ilegal, frame ini ditarik saat ini juga."

Raka tidak menjawab. Ia membiarkan Sari Purnama yang melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Sari menyelipkan kartu akses ke saku Bhaskara dengan gerakan yang terlalu halus untuk dilihat mata awam. "Dia hanya beruntung dengan kalibrasi manual, Bhaskara. Jangan buang waktu audit pada aset yang sudah hampir hancur," bisik Sari. Raka mencengkeram tuas kendali, menahan napas saat ia berhasil melewati pengawas itu. Ia tahu ini hanya penundaan.

Di pasar sekte, harga kelemahan naik lebih cepat daripada harga bakat. Raka berjalan tertatih, bahu kanannya terasa seperti dipaku api. Tenggat penarikan aset kini berada di angka 03:37:48. Saat ia berhenti di depan kios suku cadang, pedagang dengan cincin tembaga di ibu jarinya mencibir. "Pilot rongsok yang baru bikin lantai pertama berdarah? Kalau mau suku cadang darurat, aku tidak butuh uang. Aku butuh akses data performa lantai pertamamu. Itu komoditas langka."

"Data itu milikku," jawab Raka datar.

"Di pasar ini, tidak ada yang milikmu jika kau tidak mampu mempertahankannya," potong Sari. Ia menatap Raka, matanya dingin namun penuh perhitungan. "Berikan akses terbatas ke log tersebut, dan kita punya kesepakatan untuk suku cadang yang kau butuhkan."

Sebelum Raka sempat menjawab, sirene menara meledak. Notifikasi publik muncul di papan ranking pasar: AKSES LANTAI DUA DIBUKA LEBIH CEPAT. Angka-angka di layar berkedip liar: anomali performa terdeteksi, status pilot diperhatikan, audit dipercepat. Menara tidak menunggu. Kemenangan Raka di lantai pertama justru memicu eskalasi yang lebih brutal.

Manto Renggana muncul dari balik bayangan gerbang layanan, wajahnya tegang. "Jangan masuk sekarang. Aku butuh delapan menit untuk membongkar penyangga kanan."

"Delapan menit sama dengan kehilangan slot," balas Raka. Ia menatap gerbang lantai dua yang mulai terbuka dengan suara hidrolik yang berat. Ia tahu jika ia menunggu, sistem akan menganggapnya tidak mampu bersaing dan menarik frame-nya secara paksa. Ia memasang penguat darurat, membiarkan log prototipe mengambil alih kendali latensi 31% yang tersisa. Bahu kanannya menjerit, logam beradu dengan logam, namun ia melangkah maju.

Saat ia sampai di dek pengumuman, kerumunan penonton terbelah. Nadira Sela muncul dari lift, frame unggulannya berlapis putih-biru, memancarkan aura elit yang sempurna. Ia menatap Raka dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini alasan pasar sekte ribut? Satu pilot dengan frame hampir putus, lalu tiba-tiba loncat di atas nama-nama yang benar-benar dibesarkan untuk lantai ini?"

Raka tetap diam, meski indikator kesehatan unitnya berkedip kuning di pinggir visor: sambungan kanan 18%. Ia membiarkan data performanya muncul di papan publik, membuktikan bahwa peningkatan latensi dan keseimbangannya bukan kebetulan, melainkan hasil dari kendali pilot yang melampaui standar. Papan peringkat berkedip, nama Raka melesat naik, dan Nadira Sela menatapnya dengan kebencian murni. Di saat yang sama, Sari Purnama melangkah mendekat, menyodorkan sebuah kontrak sponsorship yang terasa seperti jeratan leher, menanti tanda tangan Raka di tengah tekanan publik yang memuncak.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced