Novel

Chapter 2: Log Terlarang, Uji Pertama

Raka menggunakan log prototipe untuk melewati lantai pertama dengan manuver yang melampaui batas standar, memicu kecurigaan pengawas namun berhasil menarik perhatian Sari Purnama. Raka kini menghadapi risiko kerusakan permanen pada frame-nya jika terus menggunakan data tersebut.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Log Terlarang, Uji Pertama

Terminal Arena Sektor Pelabuhan bergetar, memuntahkan hawa panas dari mesin-mesin yang dipaksa bekerja di luar jadwal. Raka Wira tidak menunggu lampu hijau dari menara pengawas. Di dalam kokpit yang sempit dan berbau oli lama, ia menyuntikkan log pertempuran prototipe yang ia curi dari bengkel Manto ke dalam sistem kendali frame rongsokannya. Layar kokpit yang tadinya menampilkan peringatan overheat kronis mendadak berubah menjadi deretan kode biru yang asing dan tajam.

"Raka! Hentikan!" Suara Bhaskara Awan, pengawas sekte yang bertugas melakukan audit, memekik melalui kanal komunikasi publik. "Unitmu berada dalam daftar sita. Jangan coba-coba melakukan inisiasi pendakian lantai satu. Itu pelanggaran protokol!"

Raka mengabaikan peringatan itu. Jika ia berhenti sekarang, frame-nya akan ditarik paksa dalam hitungan menit, meninggalkan dirinya tanpa aset dan tanpa masa depan. Dengan satu sentakan tuas, ia memicu sistem propulsi. Frame yang seharusnya lamban dan berderit itu tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, meninggalkan jejak oli terbakar di atas landasan beton. Sistem frame meraung, jeritan logam yang dipaksa melampaui limitasi pabrikan.

Di tribun pengamat, Sari Purnama menyesap teh dinginnya, matanya memicing ke arah layar data yang berkedip liar. "Kecepatan reaksi itu... itu bukan data standar pabrik," gumamnya. Jemarinya lincah mengetik, mencatat anomali tersebut sebelum sistem pusat menyadarinya.

Di lantai simulasi, Raka baru delapan detik masuk ketika alarm suhu pada panel lengan kanan naik ke zona merah. Papan kuota lantai pertama berkilat: 0/1 boss, 0/12 drone. Namanya masih ditandai kuning—unit rongsok, prioritas tarik dalam 03:41:12. Tiga drone penjaga meluncur dari kabut simulasi, bergerak rapat seperti ikan predator. Frame rongsoknya seharusnya terlambat sepersekian detik, namun log prototipe yang tersembunyi di sambungan kanan mengubah segalanya: latensi turun 31%, koreksi keseimbangan naik 44%.

Raka menekan input yang tidak pernah diajarkan di bengkel mana pun: langkah samping, putaran pinggul, lalu rem mikro di lutut kiri. Drone pertama menyambar tempat kosong. Serangan berikutnya datang dari atas, namun Raka tidak menangkis. Ia memiringkan frame-nya, membiarkan serangan itu menyerempet pelat bahu, lalu membalas dengan satu tembakan presisi yang merobek inti drone lawan. Setiap gerakan memicu panas yang menyengat, membakar sistem pendingin hingga asap tipis mulai mengepul dari sendi-sendi mesin.

"Data sampah itu pasti hasil modifikasi ilegal," suara dingin Nadira Sela memecah keheningan di ruang observasi. "Dia hanya beruntung. Frame itu tidak akan bertahan melewati lantai dua. Sistem pendinginnya pasti sudah mendidih."

Sari tidak menoleh. Ia melihat efisiensi yang mengerikan. Setiap pergerakan Raka tidak menyisakan energi terbuang. "Dia bukan sekadar pilot gagal, Nadira," gumam Sari. "Dia sedang melakukan sinkronisasi dengan sesuatu yang bahkan teknisi kita tidak pahami." Sari memberikan sinyal diam kepada Manto, membiarkan Raka tetap berada di arena meski audit Bhaskara semakin ketat. Ia memutuskan untuk menutupi jejak digital Raka—untuk sementara waktu—demi melihat seberapa jauh 'rongsokan' itu bisa mendaki.

Kembali ke bengkel, Raka menyeret frame-nya masuk, bunyi besi yang tidak pas di rangka kanan terdengar seperti makian. Manto segera menutup panel samping, menatap layar diagnostik dengan raut tegang. Angka suhu inti naik-turun seperti detak jantung yang sekarat.

"Kau pakai log itu lagi di lantai pertama," kata Manto datar.

"Kalau tidak, aku kalah sebelum masuk," sahut Raka, napasnya masih terengah.

"Dan kalau dipaksa begini, kau hancur sebelum lantai dua," Manto menunjuk jejak paket manuver yang menyusup ke sistem gerak. Garis hijau loncat jauh di atas standar pabrikan, lalu menyala kuning di tepi batas aman. "Satu kali pakai, kau sudah membuktikan diri. Sekali lagi, dan sambungan kanan bisa retak permanen."

Raka menatap panel itu. Ada sesuatu yang lebih mahal dari kerusakan: data pertempuran yang terekam. Sistem mecha-nya meraung, melampaui batas pabrikan tepat saat pengawas arena mulai curiga, sementara papan peringkat berkedip, menunjukkan nama Raka yang melesat naik, memicu tatapan kebencian murni dari Nadira Sela di tribun atas.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced