Harga Sebuah Rongsokan
Empat jam dua belas menit.
Angka itu berkedip merah di pergelangan tangan Raka Wira, memotong kesunyian Pasar Sekte yang berbau oli tua dan garam laut. Di atasnya, papan aset digital memuntahkan daftar pilot yang akan ditarik paksa sebelum matahari tenggelam. Nama Raka berada di urutan terbawah, nyaris tak terlihat di balik cap peringatan: LAYAK TARIK.
Di sini, reputasi adalah mata uang yang lebih cair daripada kredit. Dan reputasi Raka—sebagai pilot yang membuang aset sekte ke dalam jurang kekalahan—harganya bahkan lebih rendah dari sisa besi yang ia bawa.
Ia berhenti di depan kios Sari Purnama. Meja marmer hitam perempuan itu tampak seperti sindiran di tengah lorong yang lengket oleh karat. Sari tidak menatap wajah Raka. Matanya langsung tertuju pada stempel reputasi di layar aset Raka.
“Wira,” suara Sari sedingin koin logam yang jatuh ke lantai. “Kau masih datang juga. Berani atau sekadar putus asa?”
“Sendi hidrolik seri-K,” Raka meletakkan tumpukan kredit hasil salvage terakhir ke meja. “Satu. Yang bisa bertahan uji lantai.”
Sari menyapu kredit itu dengan ujung jari, lalu mengembalikannya tanpa ekspresi. “Uangmu cukup untuk melihat katalog, bukan untuk membeli.”
Di belakang Sari, dua pilot elit melintas dengan pelindung lengan baru yang mengilat. Salah satunya melirik frame rongsok Raka yang terparkir di lorong, lalu tertawa kecil—sebuah suara yang lebih tajam daripada hinaan verbal mana pun.
“Bhaskara Awan sudah menandatangani penarikan semua frame dengan pilot yang gagal memenuhi kuota lantai,” lanjut Sari. “Sekte tidak memelihara limbah. Kalau nama pilotnya jatuh, asetnya ikut ditarik.”
“Namaku belum dicoret.”
“Belum.” Sari mengetuk layar. “Itu bukan pujian, Wira. Itu hanya penundaan.”
Raka menatap papan peringkat di atas lorong. Nama-nama besar menyala terang di puncak, sementara baris bawah tempat namanya berada tampak seperti ruang kosong yang menunggu untuk dihapus. Ia tidak butuh belas kasihan. Ia butuh waktu.
“Kalau kau tidak bisa beli, jangan menghalangi pembeli yang sungguh-sungguh,” desis Sari. “Suku cadangmu harusnya masuk timbangan besi bekas.”
Raka berbalik, mengabaikan tatapan merendahkan di sekitarnya. Di ujung lorong, suara Bhaskara Awan menggema dari pengeras dinding: “Pengumuman penarikan aset lapis bawah. Semua frame yang gagal memenuhi kuota sebelum penutupan akan diambil alih. Tidak ada pengecualian.”
Setiap kata itu adalah dentuman di tengkuk Raka. Ia tidak bisa membiarkan frame-nya disegel. Ia tidak bisa membiarkan dua musim pendakiannya berakhir sebagai inventaris orang lain.
*
Bengkel Manto Renggana sempit dan panas, atap sengnya berderit ditiup angin laut. Manto, pria tua dengan tangan hitam oli, sedang memegang obeng tipis yang sudah terlalu sering diasah.
“Aku tahu kau akan kembali dengan muka seperti orang yang akan dikubur hidup-hidup,” gumam Manto tanpa menoleh.
Raka melepaskan pelindung dada frame-nya. Sambungan kanan berderit—bunyi yang sama sebelum ia jatuh di lantai dua arena tiga minggu lalu. “Kalau kau tahu, kenapa tidak menyiapkan komponen yang benar?”
“Kalau aku punya komponen yang benar, kau tidak akan datang ke pasar dengan wajah pecundang.” Manto menyipitkan mata ke arah sendi yang retak. “Kalau kau paksa buka dudukannya, besok kita tidak punya apa-apa.”
“Besok kita memang akan kehilangan semuanya.” Raka menekan telapak tangannya ke pelat samping frame. “Aku tidak minta aman. Aku minta cara.”
Mereka bekerja dalam sunyi yang tegang. Raka membuka panel sendi dengan alat seadanya, memaksa pengunci yang aus. Logam menjerit. Setiap putaran adalah pertaruhan; satu kesalahan akan mengubah frame itu menjadi tumpukan besi mati.
“Jangan sentuh pengunci luar,” bisik Manto tiba-tiba. “Masuk dari sisi memori.”
“Di sana sudah terkunci sistem.”
“Karena itu yang menyelamatkannya.”
Raka menatap Manto. Lelaki tua itu tidak menjawab, matanya justru melirik pintu bengkel. Pintu terbuka. Sari Purnama berdiri di ambang, diapit dua penjaga pasar.
“Aku mendengar ada pilot yang mencoba membongkar aset tarikan,” kata Sari. “Aku penasaran apakah kau nekat atau bodoh.”
“Kalau kau datang untuk menawar, datanglah dengan harga,” jawab Raka dingin.
Sari tersenyum tipis. “Aku datang untuk menilai. Kadang, kerusakan yang belum selesai justru lebih menarik daripada barang baru.”
Setelah Sari pergi, Manto menggeser kursinya. “Buka sisi dalamnya. Pelan.”
Mereka bekerja dengan presisi yang menyakitkan. Manto memasukkan bilah tipis ke celah tersembunyi yang tidak tercatat di manual servis sekte. Satu kait lepas. Lapisan kedua terbuka, memperlihatkan modul memori kecil yang terikat kabel hitam—komponen yang jelas bukan bawaan pabrik.
“Ini apa?” suara Raka rendah.
“Yang seharusnya tidak ada,” jawab Manto. “Log pertempuran prototipe. Aku menyelamatkannya dari frame ini sebelum proyeknya ditutup.”
Raka meraih modul itu. Layar retak di sisi meja tiba-tiba menyala, menampilkan baris-baris data yang bergerak cepat:
PROTOKOL GERAK: KELAS PROTOTIPE
Data itu bukan sekadar program; itu adalah jejak pertempuran nyata—pola serang, koreksi keseimbangan, dan beban ekstrem yang melampaui standar pabrikan. Raka menekan tombol akses. Servo kanan yang semula macet bergetar, lalu menjawab dengan gerakan yang halus dan responsif. Indikator beban di layar melonjak dua belas persen, lalu stabil.
Performa frame-nya naik secara nyata.
“Manto,” Raka menatap angka-angka itu dengan napas tertahan. “Ini bukan ilusi.”
“Tidak. Itu luka yang tahu cara kerja.”
Namun, di sudut layar, sebuah indikator asing berkedip: MODE UJI ARENA EKSTERNAL TERDETEKSI.
Sebelum Raka sempat bertanya, pengeras dinding bengkel menyala keras. Suara Bhaskara Awan menggema, kali ini lebih formal dan dingin: “Ada laporan pembacaan performa tak lazim dari salah satu frame yang akan ditarik. Jika ada pelanggaran protokol, aset terkait akan disita segera.”
Langkah-langkah sepatu bot mulai mendekat ke arah pintu bengkel. Raka menatap layar yang masih berkedip. Log prototipe itu bukan lagi sekadar jalan keluar; itu adalah alasan kenapa seseorang sekarang mulai curiga.