Novel

Chapter 9: Harga Sebuah Kebenaran

Aris memanfaatkan akses lantai tiga untuk menyusup ke perpustakaan terlarang dan menemukan bukti bahwa keluarganya adalah arsitek awal sistem Menara yang sengaja dikorbankan. Konfrontasi dengan Lia mengungkap ledger aset keluarga yang kini menjadi miliknya. Dengan bukti pengkhianatan Kael di tangan, Aris mengaktifkan teknik terlarang baru menggunakan dendam sebagai bahan bakar, meski harus membayar dengan percepatan kehilangan umur. Bab ini mengubah motivasi Aris dari sekadar bertahan menjadi pembalasan sistematis, sekaligus memperketat tekanan waktu pajak dan ancaman langsung dari pasukan keamanan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kebenaran

Aris menekan napasnya saat tubuhnya menyatu dengan bayangan koridor lantai tiga Kota Menara. Tenggat pajak Kael masih menggantung seperti pisau di leher—hanya sebelas jam tersisa sebelum pajak yang dilipatgandakan itu memicu eliminasi resmi. Kemenangan di ujian lantai dua kemarin memberinya akses ke wilayah ini, tapi akses itu datang dengan harga mahal: setengah sisa umurnya sudah terbakar, dan teknik 'Konversi Tekanan Pasar' kini menyerap energi lingkungan secara otomatis, membuat meridiannya berdenyut seperti mesin yang kelebihan beban.

Dia bergerak cepat menuju perpustakaan terlarang yang tersembunyi di balik dinding ilusi. Sensor energi berdenyut di setiap sudut, siap memicu alarm jika ada fluktuasi sekecil apa pun. Aris mengaktifkan Fragmen Waktu sekilas, memperlambat persepsinya cukup untuk menyelinap melewati dua jebakan magis. Teknik terlarangnya menarik energi dari udara, mengubah tekanan pasar gelap menjadi kekuatan sementara yang membuat langkahnya tak terdeteksi. Detektor trap dari Lia menyala hijau sebentar—jalur aman.

Di dalam ruangan berdebu itu, rak-rak tinggi menyimpan catatan yang tak boleh disentuh. Aris menemukan panel rahasia di balik rak ketiga. Dengan jari gemetar karena kelelahan fisik, ia membuka ledger lama yang halamannya pernah robek. Halaman yang hilang kini utuh. Nama ayahnya tertera sebagai salah satu arsitek awal sistem Menara, pengembang inti yang dirancang untuk mengalirkan energi antar-lantai. Tapi di catatan berikutnya, tertulis perintah pengorbanan: keluarganya dijadikan tumbal agar sistem bisa distabilkan setelah pemberontakan kecil di sektor bawah.

Jantung Aris berdegup kencang. Bukan kecelakaan. Pengkhianatan sistematis. Keluarganya membangun fondasi Menara, lalu dibuang seperti sampah ketika kekuatan mereka terlalu mengancam.

Dia menyalin dokumen-dokumen itu ke kristal penyimpanan kecil, tapi lonjakan energi kecil dari tekniknya memicu denyut samar di sensor atas. Alarm belum berbunyi, tapi waktu semakin menipis.

Aris keluar melalui celah yang sama, keringat bercampur dengan getaran energi yang tak terkendali. Di gang tersembunyi beberapa blok dari perpustakaan, sebuah suara menghentikannya.

"Aris." Lia muncul dari balik tumpukan peti barang bekas, wajahnya pucat tapi mata tajam. "Kau sudah menemukannya."

Aris berbalik cepat, tangannya masih memegang kristal salinan. "Kau tahu? Sejak kapan?"

Lia menatapnya tanpa berkedip. "Sejak kau pertama kali datang ke kiosku dengan ledger robek itu. Aku sudah tahu keluargamu adalah pendiri yang dikhianati. Tapi mengatakan sekarang berarti mempertaruhkan nyawaku juga."

Udara terasa berat. Aris melangkah mendekat, suaranya rendah tapi tajam. "Ledger ini bukan hanya catatan aset. Ini bukti bahwa Kael dan pejabat tinggi menara sengaja mengorbankan keluargaku untuk menutup mulut rahasia sistem. Dan kau diam saja?"

Lia mengeluarkan salinan ledger asli dari balik jubahnya, halaman-halaman yang lebih lengkap. "Ini milikmu sekarang. Catatan aset keluarga yang selama ini disembunyikan. Energi, hak akses lantai, bahkan sebagian kendali aliran pasar gelap—semua tertulis di sini. Tapi mengklaimnya berarti kau menjadi target utama. Kael sudah kehilangan jabatan birokrasi setelah kekalahannya kemarin, tapi dia sedang merancang balasan."

Aris membuka ledger itu. Angka-angka kuno berdenyut lemah, seolah mengenali pemilik sahnya. Kekuatan baru mengalir ke meridiannya—bukan sekadar pengetahuan, tapi leverage nyata yang bisa mengubah opsi pendakiannya. Namun, beban emosional itu datang sekaligus: dendam yang selama ini kabur kini tajam seperti pisau.

"Kenapa kau sembunyikan ini?" tanya Aris, suaranya bergetar.

Lia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. "Karena aku pernah kehilangan orang yang sama seperti kau. Sekte besar mengkhianati keluargaku juga. Aku pikir jika kau tahu terlalu cepat, kau akan mati sia-sia sebelum bisa membalas. Tapi sekarang... kau sudah di lantai tiga. Waktunya berubah."

Konfrontasi itu meninggalkan rasa getir di dada Aris, tapi juga kekuatan baru. Lia menghilang ke bayangan setelah menyerahkan sisanya, meninggalkan Aris dengan ledger yang kini utuh.

Dengan bukti di tangan, Aris bergerak ke ruang arsip rahasia yang lebih dalam di lantai yang sama. Suara langkah pasukan keamanan mulai terdengar samar di koridor luar—mungkin karena lonjakan energi kecil tadi. Ia bersembunyi di balik tumpukan kotak, menyalakan holo kecil. Dokumen-dokumen yang disalin Lia menunjukkan jejak langsung: Kael yang memerintahkan pengorbanan keluarganya, memanipulasi laporan keuangan, dan mengambil bagian energi yang seharusnya menjadi warisan Aris.

Rekaman holo menampilkan wajah Kael di ruangan gelap, suaranya dingin: "Tumbal itu diperlukan. Pendiri lama terlalu berbahaya." Aris menggertakkan gigi. Setiap bukti ini adalah panah yang siap dilepaskan.

Tapi waktu terus berlari. Hanya sembilan jam tersisa untuk pajak. Aris merasakan tubuhnya semakin lemah—efek samping kehilangan 50% umur mulai terasa: penglihatan sesekali kabur, meridian berdenyut tidak stabil. Tekniknya terus menyerap energi sekitar, memberi kekuatan tambahan tapi juga mempercepat kerusakan.

Dia menyimpan semua bukti ke dalam kristal cadangan, lalu naik ke atap gedung tua di pinggir sektor lantai tiga. Angin malam menusuk kulitnya yang sudah dingin karena kelelahan. Di sana, Aris membuka ledger sepenuhnya. Simbol-simbol kuno menyala, mengungkap teknik terlarang yang hanya diketahui pendiri asli: cara mengubah dendam menjadi konversi energi murni, memperkuat 'Konversi Tekanan Pasar' hingga level yang bisa mengancam bahkan pejabat lantai atas.

"Keluargaku membangun Menara ini," bisik Aris, suaranya penuh amarah yang terkendali. "Mereka adalah arsiteknya, dan sistem mengkhianati mereka. Sekarang aku yang akan mengambil kembali apa yang menjadi hakku."

Dia mengaktifkan teknik itu. Energi gelap mengalir dari ledger ke tubuhnya, menyatu dengan Fragmen Waktu. Rasa sakit yang luar biasa menyengat meridiannya, tapi kekuatan baru terukur: ia bisa merasakan aliran energi lingkungan dua kali lipat lebih cepat, membuka opsi serangan yang sebelumnya mustahil. Namun, harga itu jelas—sisa umurnya menyusut lebih cepat, dan tubuhnya gemetar hebat.

Dendam ini bukan lagi beban. Ini bahan bakar.

Tapi sebelum euforia itu sempat mendingin, suara langkah berat dan sorot cahaya sorot dari bawah atap menyentaknya. Pasukan keamanan Menara mulai mengepung gedung tua itu. Siluet prajurit bersenjata energi muncul di tepi atap, dan sirene samar mulai terdengar dari kejauhan.

Aris berdiri tegak, ledger masih menyala di tangannya. Kebenaran yang baru ia pegang telah mengubah segalanya—tapi juga menjadikannya buruan utama. Tangga pendakian berikutnya kini jauh lebih curam, dan musuhnya tak lagi hanya Kael seorang.

Menara tahu ia datang.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced