Ujian Sekte: Puncak Lantai Dua
Aris menatap jam pasir di sudut ruang tunggu ujian lantai dua, butiran pasir hampir habis. Tenggat pajak Kael yang masih membayang seperti pedang tergantung di lehernya, membuat setiap detik berharga bagai nyawa yang perlahan terkikis. Jantungnya berdegup kencang, bayangan kegagalan mengancam menenggelamkan semua yang telah ia perjuangkan. "Kalau gagal, semua ini akan sia-sia," gumamnya pelan, tangan terkepal di pangkuan.
Ponselnya bergetar, pesan dari Lia muncul: "Kael mulai gerak, mereka tahu kamu di sini. Jangan lengah." Darah Aris membeku. Ancaman pengungkapan identitasnya bukan sekadar rumor kosong. Jika Kael berhasil, pendakiannya bisa berakhir lebih cepat dari yang dia duga. Ia menarik napas panjang, merapatkan fokus. Ruang ujian lantai dua ini bukan hanya soal kemampuan, tapi pertaruhan hidup dan mati.
Langkah berat terdengar di lorong, semakin dekat. Aris berdiri, menatap pintu besi berat di depan, menyiapkan diri menghadapi badai yang menunggu. "Ini saatnya," pikirnya, tekad membara meski rasa sakit dari kultivasi teknik terlarang 'Konversi Tekanan Pasar' masih menggerogoti tubuhnya. Mesin jahit tua di genggamannya berdengung pelan, menjadi fokus energi yang menstabilkan aliran kekuatannya yang mulai menyerap energi lingkungan sekitar.
Ketika pintu terbuka, sorak sorai penonton dan tatapan tajam para petinggi sekte menyambutnya di arena terbuka. Di tengah debu yang beterbangan, Juara Lantai Dua bernama Raka menatap Aris dengan dingin, penuh ejekan. "Kau terlambat dan lemah, Aris. Aku akan tunjukkan kenapa kau bukan apa-apa di sini," sindirnya sebelum melancarkan serangan beruntun yang ganas.
Aris menghindar dengan gesit, setiap gerakan Raka menandakan pengalaman bertahun-tahun dalam pertarungan brutal. Di pinggir arena, Kael mengawasi dengan mata tajam, mencari celah kesalahan untuk mengakhiri langkah Aris. Napas Aris memburu, tapi ia tak membiarkan ketakutan menguasai. Saat Raka melancarkan serangan pamungkas, Aris mengubah ritme pertarungan secara mendadak—mengaktifkan teknik pasar gelap yang baru dikuasainya. Gerakannya membingungkan, memecah fokus Raka, menciptakan celah yang tak terduga.
Sorot mata Kael berubah, ada kekaguman terselip di balik pengawas yang biasanya tanpa ampun itu. Serangan Raka terhenti, tubuhnya terhuyung oleh serangan balik Aris yang tajam dan terukur. Kerumunan bergemuruh, sorak sorai berubah menjadi bisik penuh penasaran. Aris memanfaatkan kekacauan teknik terlarang itu dengan manipulasi energi yang belum pernah dilihat lawan.
Energi di arena bergetar keras saat Aris menghadapi serangan beruntun dari Raka. Cahaya berputar dalam pola aneh, bukan hanya kecepatan atau kekuatan biasa—Aris memanipulasi fragmentasi waktu, merobek aliran durasi menjadi pecahan-pecahan kecil yang membingungkan penglihatan musuh. "Kau pikir teknik kuno itu bisa melawan aku?" desis Aris, matanya menyala tajam.
Raka sempat ragu, namun segera menggencarkan serangan. Namun, jejak frekuensi yang ditinggalkan Aris membuat setiap serangan sia-sia. Dengan satu hentakan tangan, Aris meluncurkan serangan balik memanfaatkan energi hitam pekat dari teknik pasar gelap, melesat menghantam pertahanan Raka. Tubuh Aris bergetar hebat, ototnya menegang hingga nyeri membakar. Kael yang mengamati dari pinggir arena semakin mengerutkan kening, matanya menajam, menandakan pengawasan yang makin intens.
Juara sekte di tribun depan mulai kehilangan muka, bisik-bisik kecewa menyebar. Kael menarik napas dalam-dalam, rencana balasan agresif mulai terbentuk di benaknya. Tekanan di udara semakin tebal; pertarungan belum usai. Aris menggigit bibir, merasakan denyut nyeri menusuk tulang, namun matanya tetap menyala penuh tekad. Dengan gerakan secepat kilat, ia memutar tangannya, melepaskan gelombang energi fragmentasi yang mengacaukan keseimbangan Raka.
Saat sorak penonton memuncak, Aris mengerahkan seluruh fokus, tangan kanannya menggenggam mesin jahit tua yang berdengung pelan, menyerap getaran energi lingkungan sekeliling. Tubuhnya bergerak cepat, membentuk pusaran kekuatan yang berputar semakin kencang di udara. Di depan, Raka menatap dengan dahi berkerut, mencoba mengantisipasi serangan pamungkas yang akan menghancurkan pertahanannya selama ini.
Dengan satu gerakan, Aris melepaskan energi terakumulasi, menghantam Raka hingga terjungkal ke belakang, debu beterbangan. "Tidak mungkin," desis Raka, napas terengah-engah, wajahnya memucat. Kemenangan itu bukan sekadar mengalahkan juara lantai dua, tapi juga ancaman nyata bagi posisi Kael di menara.
Murid-murid lantai dua mulai berbisik, memandang Aris dengan tatapan baru—campuran rasa kagum dan takut. Kemenangan publik Aris membuka jalan ke lantai tiga, yang dikenal dikuasai oleh sekte lebih brutal dan sumber daya jauh lebih melimpah. Namun, harga kemenangan itu tak kalah berat. Tubuhnya terasa lelah, napas memburu, dan ancaman Kael yang kini kehilangan muka di depan petinggi menara kian nyata.
Kael menghempaskan tangan ke meja kayu, matanya membara penuh kemarahan. "Kau pikir ini permainan, Aris? Aku bertahun-tahun di sini, dan kau cuma pemula yang tiba-tiba mengklaim segalanya!" Suaranya menggema di aula latihan, menarik perhatian semua yang hadir, tapi tidak ada yang berani membantah. Kael tahu posisinya kini terancam, dan rencana balas dendamnya sedang disusun dengan penuh amarah.
Aris berdiri di puncak lantai dua, menyadari jalannya kini terbuka lebar, namun konsekuensi yang mengancam nyawanya semakin nyata. Kemenangan ini bukan akhir, melainkan babak baru dalam pendakian kekuatannya—jalur yang membawa risiko lebih besar dan musuh yang lebih berbahaya.
Di balik sorak sorai, Aris tahu bahwa Kael akan melakukan segala cara untuk menggagalkan langkahnya. Namun, dengan teknik 'Konversi Tekanan Pasar' yang kini lebih stabil dan mesin jahit tua sebagai fokus energi, Aris siap menghadapi tantangan berikutnya. Lantai tiga menanti, dan dengan itu, rahasia kelam keluarganya sebagai arsitek Menara yang dikhianati mulai terungkap perlahan.