Ekspansi Kekuatan yang Menyakitkan
Aris menekan dadanya, napasnya tercekat saat aliran energi liar berputar cepat dalam meridiannya. Tubuhnya bergetar hebat, hampir roboh di tengah ruang kecil itu. “Tidak boleh gagal sekarang,” gumamnya, tangan gemetar membuka gulungan kain yang dibawanya dari lelang tadi. Material baru itu—serat langka dari tanaman gurun—berkilau aneh, sumber utama kekuatan teknik terlarang 'Konversi Tekanan Pasar'. Ia menyesap napas dalam, memusatkan energi ke arah mesin jahit tua yang teronggok di sudut ruangan. Benda itu, meskipun usang, ia yakini bisa menjadi alat fokus energi yang membantu menstabilkan aliran.
Energi berputar liar, memaksa meridiannya menanggung beban yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Tiba-tiba, rasa tajam menusuk dada, meridiannya hampir pecah. “Aris, tahan!” desaknya pada dirinya sendiri, tangan kanan meraih pedal mesin jahit. Ia memutar dan menyesuaikan posisi jarum kecil itu, berharap bisa mengalihkan tekanan energi. Perlahan, getaran dalam tubuhnya mulai mereda, namun rasa sakit menjalar ke seluruh sarafnya, menusuk jauh ke tulang.
Energi yang mengalir kini berbeda—lebih pekat, lebih agresif. Aris menelan ludah, merasakan perubahan yang aneh. “Ini… ini baru permulaan,” bisiknya, mata menyipit menatap denyut energi yang mulai menari tak terduga dalam tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamar kecil itu diketuk pelan. Lia muncul dengan langkah cepat, wajahnya tegang. “Tuan Aris, ada kabar buruk,” katanya tanpa basa-basi, menyerahkan gulungan kertas lusuh yang baru ia dapatkan. “Penilai Kael menemukan catatan medis lama yang mengungkap identitas rahasiamu.”
Dada Aris sesak, tekanan yang selama ini ia rasakan kini berubah menjadi ancaman yang lebih nyata dan pribadi. Ancaman pajak Kael selama ini sudah berat, tapi menguak identitasnya sebagai subjek eksperimen yang seharusnya telah mati, berarti nyawanya bisa terancam kapan saja.
Aris menatap kertas itu dengan mata yang berkilat. “Kalau begitu, aku harus percepat langkah. Ini bukan soal bertahan lagi—ini soal menyerang. Aku akan gunakan ini sebagai keuntungan.” Tekadnya membara, meski rasa sakit di tubuhnya belum mereda.
Lia mengangguk, wajahnya penuh kecemasan. “Penilai Kael juga menemukan kelemahan dalam catatan itu. Jika tersebar, bukan hanya hartamu yang hilang, tapi juga reputasimu sebagai kultivator.”
Rasa sakit yang mencekam di tubuh Aris menjadi pengingat keras akan kemiskinan sistemik yang membelenggunya sejak dulu. Namun di balik itu semua, ia mulai menyadari sesuatu yang baru. Teknik terlarang yang selama ini ia pelajari ternyata tidak hanya menguras energi darinya sendiri, tapi kini mulai menyerap energi dari lingkungan sekitar—tanah, udara, bahkan cahaya di sekelilingnya.
Tubuh Aris berguncang hebat ketika energi itu mulai mengalir lebih deras dari sebelumnya. Dedaunan di luar jendela bergoyang seperti disentuh kekuatan tak terlihat. Napasnya tersengal, otot-ototnya berteriak menentang setiap detik yang berlalu. Ia tahu, jika gagal mengendalikan ini, bukan hanya tubuhnya yang akan hancur, tapi loncatan kekuatan yang ia butuhkan juga akan sirna.
Ia menggigit bibir, memusatkan pikiran pada mesin jahit tua yang kini menjadi jangkar energi hidupnya. Dengan usaha terberat, ia berhasil menstabilkan aliran energi yang kini mulai berubah menjadi sumber kekuatan baru. “Ini… evolusi berbahaya, tapi peluang yang tak bisa kulewatkan,” pikirnya.
Aris melirik ke sudut ruangan, ke mesin jahit tua yang berderit pelan, menjadi saksi bisu perjuangannya. Ia tahu ada orang lain di lantai atas yang juga menggunakan teknik serupa—sebuah indikasi bahwa jalur ini bukan hanya jalan buntu, tapi bisa membuka opsi serangan baru yang selama ini tersembunyi.
Namun, setiap detik berlalu membawa risiko kematian dini. Rasa sakit yang membakar ulu hati dan merambat hingga tulang menjadi pengingat betapa mahalnya harga untuk naik satu tingkat di menara ini. Tapi kali ini, Aris tidak sendiri. Ia punya alat, tekad, dan informasi yang bisa mengubah permainan—meskipun Kael terus mengintai, siap menjatuhkannya kapan saja.
Saat malam semakin larut, Aris duduk terdiam, merasakan denyut energi baru yang mulai mengalir dalam tubuhnya. Tekniknya kini tidak lagi hanya mengambil dari dalam dirinya, tapi mulai mengonsumsi energi dari lingkungan sekitar. Sebuah evolusi yang berbahaya, tapi membuka pintu ke kekuatan yang lebih luas.
Di balik layar kota menara yang megah, di lantai dua yang setiap langkahnya dihargai lebih dari tahun hidup biasa, Aris tahu pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Ancaman Kael semakin nyata dan pribadi, tapi kekuatan baru ini bisa menjadi kunci untuk menundukkan birokrat itu. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: berapa lama tubuhnya bisa bertahan ketika ia terus memaksa batas itu?
Dengan napas berat, Aris menatap ke luar jendela kecil kamarnya, menatap cahaya kota menara yang berkilauan. “Aku harus bertahan… dan berkembang,” gumamnya. Tekanan yang menyakitkan ini bukan akhir, tapi pintu menuju babak baru—di mana setiap langkah membawa risiko dan peluang yang lebih besar.
Dan di saat itulah, Aris merasakan jelas—tekniknya mulai mengonsumsi energi dari lingkungan sekitar, bukan lagi dari dirinya sendiri. Sebuah perubahan yang menandai evolusi berbahaya, tapi juga membuka langit baru di tangga kekuatan yang ia daki.
Babak berikutnya menunggu: kemenangan di ujian sekte yang akan mengguncang posisi Kael dan membuka jalan bagi Aris untuk naik lebih tinggi lagi di menara yang penuh intrik dan bahaya ini.