Dikejar Otoritas
Energi biru menyembur ganas dari meridian Aris saat ia menyelesaikan aktivasi terakhir teknik terlarang dari ledger yang kini utuh. Tubuhnya langsung terbakar dari dalam. 'Konversi Tekanan Pasar' melonjak tajam—ia bisa merasakan tekanan energi distrik industri mengalir masuk, menyumbat celah-celah meridian yang rusak. Tapi lonjakan itu terlalu besar. Alarm Menara langsung meraung di seluruh lantai. Sirene merah berkedip-kedip di langit-langit lorong pabrik tua.
Waktu tersisa untuk membayar pajak Kael: dua belas jam minus tiga puluh menit.
"Target terdeteksi! Anomali energi level tinggi di sektor bawah!" teriak suara dari helm pasukan keamanan yang sudah mendekat. Aris tak sempat bernapas lega. Kakinya sudah berlari, menerobos puing mesin jahit berkarat yang dulu ia gunakan sebagai jangkar fokus. Napasnya pendek, dada sesak. Setiap langkah terasa memangkas umurnya lagi—sepuluh persen hilang dalam hitungan detik.
Di belakang, langkah sepatu baja bergema. Detektor energi pasukan Kael menyala terang, menyapu lorong sempit dengan gelombang pencari. Aris membelok tajam ke gang samping yang gelap, memanfaatkan reruntuhan dinding beton retak yang ia hafal dari masa kecil di jalanan tua ini. Ia merapat ke bayangan, menahan napas saat sekelompok pengintai lewat hanya tiga meter darinya. Keringat bercampur hujan deras yang mulai menyusup dari celah atap.
"Dia ke sini! Jangan biarkan lolos!" bentak komandan unit.
Aris melihat celah kecil di dinding—jalur bawah tanah sempit yang tak pernah ia coba. Dengan nekat ia menyelinap masuk. Besi tajam menggores lengannya, tapi ia berhasil. Gelombang detektor menggelegar melewati lorong utama, melewatkan dirinya hanya selisih detik. Keuntungan kecil ini mahal: tekniknya kini lebih tajam, tapi penglihatannya mulai kabur dan denyut di pelipisnya semakin cepat.
Hujan deras mengguyur jalanan tua Kota Menara saat Aris keluar dari terowongan. Trotoar licin berlumpur, lampu jalan redup berkedip di bawah sirene yang tak henti. Pasukan sudah menyebar dalam formasi rapat, senjata energi siap tembak. Aris bersembunyi di balik tumpukan peti kayu bekas, napas tersengal. Defisitnya jelas: tubuh melemah, umur terkikis, dan pasukan Kael semakin mendekat.
Ia mengaktifkan teknik sekali lagi. Energi biru menyala di telapak tangannya, menyerap tekanan pasar dari kerumunan pekerja pabrik yang panik berhamburan. Dua pengawal terdepan terpental ke dinding basah. Tapi rasa sakit langsung menusuk meridian. Penglihatan Aris berkunang, lututnya goyah. Darah menetes dari hidungnya.
"Masih kurang," gumamnya sambil menggigit bibir.
Pasukan balas menyerang. Sinar energi menyapu jalanan, memaksa Aris berguling di lumpur. Di tengah kekacauan, Lia muncul dari gang samping. Wajahnya pucat, tapi langkahnya tegas.
"Aris, ke sini!" serunya pelan tapi tegas. Ia melempar perangkat kecil yang langsung mengganggu sinyal detektor pasukan. "Aku tahu sejak awal tentang keluargamu. Aku tak bisa diam lagi." Suara Lia bergetar. Pengorbanan ini berarti ia kehilangan jaringan pedagang informasinya selamanya.
Dengan bantuan Lia, Aris melancarkan serangan gerilya. Setiap pukulan kini mengonversi tekanan hujan dan kepanikan massa menjadi kekuatan murni. Tiga pengawal lagi jatuh. Tapi biayanya nyata: darah semakin deras dari hidung dan telinganya, denyut jantungnya tak karuan. "Lia, mundur! Ini urusanku," katanya sambil mendorong gadis itu ke bayangan.
Lia menggeleng keras. "Kau bukan satu-satunya yang kehilangan keluarga karena sistem ini." Ia tetap mengalihkan perhatian unit terdekat dengan umpan sinyal palsu sebelum menghilang kembali ke kegelapan—posisinya kini terancam total.
Mereka berhasil memecah kepungan awal. Pasukan mundur sementara untuk reorganisasi. Aris berlari tanpa henti menuju tempat persembunyian lamanya di jalanan tua, dekat mesin jahit tua yang pernah menjadi jangkar kultivasinya. Kakinya gemetar hebat saat ia menemukan pintu rahasia di balik reruntuhan bata. Sidik jarinya yang bergetar mengaktifkan mekanisme. Dinding bergeser, membuka ruang bawah tanah gelap dan lembap.
Di dalam, ia langsung mengeluarkan ledger. Simbol-simbol kuno menyala, menciptakan lapisan perlindungan sementara. Tapi tak lama. Suara gemuruh sepatu baja menghantam batu di luar.
"Dia di sini! Kepung semuanya!"
Dinding persembunyian bergetar hebat. Retakan kecil muncul di langit-langit—dampak alarm yang ia picu tadi mulai memengaruhi stabilitas lantai atas. Aris berdiri tegak meski tubuhnya nyaris ambruk. Ledger berdenyut di tangannya, siap digunakan sebagai senjata administratif yang lebih besar.
Pasukan menerobos pintu. Aris menyerap tekanan dari serangan mereka sendiri, mengubahnya menjadi gelombang balik yang menghantam barisan depan. Lima pengawal terpental sekaligus. Tapi sisanya terus maju, senjata terarah langsung ke dadanya.
Di luar, sirene Menara semakin kacau. Getaran aneh merambat ke seluruh struktur—lonjakan energinya telah mengganggu aliran utama. Aris menatap pintu yang mulai runtuh, napas tersengal. Tubuhnya hampir tak mampu berdiri, tapi matanya membara. Pasukan keamanan Menara kini benar-benar mengepung tempat persembunyiannya. Waktu hampir habis. Pajak Kael masih menggantung. Dan Menara sendiri mulai goyah karena tindakannya.
Tapi ledger ini—bukti hak energi, akses, dan teknik pendiri keluarganya—bisa membekukan seluruh otoritas Kael. Jika ia berhasil bertahan satu malam lagi.